Menggantikan Jejak Sang Ayah, Rizki Berangkat Haji di Usia 17 Tahun

 Gana Buana
21/4/2026 15:50
Menggantikan Jejak Sang Ayah, Rizki Berangkat Haji di Usia 17 Tahun
Di usia 17 tahun, Rizki Rahman Al Farisi berangkat haji bersama ibunya.(Antara)

DI antara wajah-wajah calon haji yang memenuhi Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, ada satu sosok muda yang mencuri perhatian. Usianya baru 17 tahun, masih duduk di bangku kelas XI SMA.

Namun tahun ini, Rizki Rahman Al Farisi memikul perjalanan yang jauh lebih besar dari usianya, berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji, sekaligus menggantikan almarhum ayahnya.

Bagi Rizki, kesempatan ini bukan datang tiba-tiba. Namanya sebenarnya sudah tercatat untuk berangkat sejak 2021. Namun kala itu, ia belum bisa berangkat karena belum memenuhi batas usia minimum. Penantian itu akhirnya terjawab tahun ini.

“Saya awalnya dijadwalkan berangkat 2021, tapi belum cukup umur, jadi belum diperbolehkan. Sekarang sudah 17 tahun, akhirnya bisa berangkat,” ujarnya dilansir dari Antara, Selasa (21/4).

Pelajar SMA Dian Didaktika, Cinere, itu akan berangkat bersama sang ibu. Di perjalanan suci ini, ia bukan hanya menjadi jamaah termuda di rombongannya, tetapi juga hadir sebagai pengganti posisi sang ayah yang telah tiada.

Keberangkatan Rizki bukan sekadar perjalanan ibadah biasa. Ada rasa syukur, haru, sekaligus tanggung jawab yang menyertainya. Di usianya yang masih sangat muda, ia sadar bahwa dirinya harus lebih siap dibandingkan banyak orang, terutama dalam hal fisik dan mental.

Menurut Rizki, persiapannya tidak jauh berbeda dengan calon haji 2026 lainnya. Ia menjaga kebugaran dengan rutin berolahraga, seperti futsal dan lari. Namun sebagai jamaah muda, ia merasa punya tugas lebih, menjadi tenaga yang bisa diandalkan, terutama ketika harus membantu jamaah yang lebih tua.

“Karena saya masih muda, saya harus lebih siap, terutama dari segi fisik. Kalau ada jamaah yang lebih tua membutuhkan bantuan, saya harus bisa diandalkan,” katanya.

Di balik semangat itu, ada sisi lain yang membuat perjalanan Rizki terasa semakin istimewa. Keberangkatannya di usia muda rupanya menjadi perhatian banyak orang di lingkungan sekitarnya. Kerabat, tetangga, hingga orang-orang yang mengenalnya menitipkan doa untuk dibawa ke Tanah Suci.

Tidak tanggung-tanggung, Rizki sampai mencatat satu per satu titipan doa tersebut. Jumlahnya pun tidak sedikit.

“Banyak yang titip doa, bahkan sampai saya catat. Kurang lebih ada 20 orang yang minta didoakan,” ujarnya.

Titipan-titipan doa itu menunjukkan bahwa perjalanan Rizki bukan hanya miliknya sendiri. Ia membawa harapan banyak orang, sekaligus menjadi simbol bahwa kesempatan beribadah di usia muda adalah anugerah yang sangat berharga.

Bagi Rizki, berangkat haji saat fisik masih prima adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Tidak semua orang, menurutnya, memiliki peluang yang sama. Banyak yang harus menunggu bertahun-tahun, sementara kondisi kesehatan belum tentu tetap kuat.

“Menurut saya ini kesempatan bagus, apalagi masih muda, kondisi fisik masih kuat, jadi bisa menjalankan ibadah dengan maksimal,” katanya.

Kini, di tengah langkah awal menuju Tanah Suci, Rizki menyimpan harapan sederhana namun dalam: dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan lancar dan mendampingi ibunya selama berada di sana.

Di usia ketika banyak remaja masih sibuk dengan rutinitas sekolah dan pergaulan, Rizki justru menapaki perjalanan spiritual yang sarat makna. Ia berangkat bukan hanya membawa koper dan perlengkapan ibadah, tetapi juga membawa kenangan, amanah keluarga, dan jejak sang ayah yang kini ia lanjutkan dengan langkahnya sendiri. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya