Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
JERAWAT sering kali dianggap hanya sebagai masalah kebersihan wajah atau faktor pubertas. Namun, banyak yang tidak menyadari kondisi kulit adalah cermin dari kesehatan mental dan pola hidup sehari-hari. Tekanan emosional dan aktivitas yang padat bukan hanya memengaruhi pikiran, tetapi juga menjadi pemicu utama peradangan kulit yang sulit sembuh.
Stres memang tidak secara langsung "menciptakan" bakteri jerawat, namun stres menjadi katalisator yang memperburuk kondisi kulit. Berdasarkan penjelasan dermatolog dari American Academy of Dermatology (AAD), stres memicu sistem endokrin untuk melepaskan hormon kortisol dan androgen.
Peningkatan hormon ini mendorong kelenjar minyak (sebum) bekerja lebih aktif. Minyak berlebih yang bercampur dengan sel kulit mati akan menyumbat pori-pori. Selain itu, sel darah putih yang tertarik oleh bakteri penyebab jerawat akan mengeluarkan enzim yang merusak dinding folikel rambut, sehingga memicu reaksi peradangan yang lebih parah.
Studi dalam JAMA Dermatology juga mengungkapkan bahwa luka, termasuk jerawat, sembuh jauh lebih lambat saat seseorang sedang stres karena tubuh lebih fokus menyalurkan aliran darah ke organ vital seperti jantung dan otak.
Sering kali juga, jerawat muncul bukan hanya karena stres itu sendiri, melainkan karena kebiasaan buruk yang kita lakukan saat merasa tertekan. Beberapa faktor gaya hidup yang terbukti memperburuk jerawat antara lain:
Jerawat yang dipicu oleh stres dan gaya hidup buruk biasanya memiliki ciri khas tertentu yang bisa diamati, seperti:
Mengatasi jerawat akibat stres memerlukan pendekatan holistik yang menggabungkan ketenangan pikiran dan perawatan fisik. Berikut adalah langkah-langkah yang direkomendasikan:
(Acne Institute/Halodoc/Z-2)
Jerawat tak hanya masalah kulit. Pada remaja, kondisi ini bisa memicu kecemasan hingga depresi. Simak penjelasan dokter tentang dampak emosional dan cara mengatasinya.
Studi menunjukkan konsumsi gula berlebih dapat memperparah jerawat melalui lonjakan insulin. Lalu, seberapa efektif diet rendah gula untuk mengatasi jerawat menurut para ahli?
Psikolog Ratih Ibrahim memperingatkan risiko PTSD pada korban kecelakaan kereta api. Simak gejala, faktor risiko, dan pentingnya penanganan dini di sini.
Penelitian terbaru mengungkap konsep 'affective tactile memory'. Ternyata, tubuh kita merekam sentuhan bermakna sebagai sensasi fisik yang membentuk rasa aman seumur hidup.
Psikolog Ratih Ibrahim menjelaskan pentingnya resiliensi dan dukungan keluarga bagi korban kecelakaan kereta api untuk pulih dari trauma psikologis.
Ia juga mengingatkan bahwa menghindari sepenuhnya stimulus yang berkaitan dengan trauma dalam jangka panjang dapat menghambat proses pemulihan.
Ia menjelaskan, gejala yang muncul bisa beragam, seperti perasaan cemas berlebihan, jantung berdebar saat berada di keramaian.
Masalah emosi dan perilaku pada anak usia dini kerap kali dipersepsikan sebagai fase perkembangan yang wajar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved