Gangguan Pendengaran pada Anak: Dampak Kognisi dan Risiko Demensia

M Iqbal Al Machmudi
16/4/2026 16:39
Gangguan Pendengaran pada Anak: Dampak Kognisi dan Risiko Demensia
Ilustrasi pemeriksaan gangguan pendengaran pada anak.(Dok. Freepik)

GANGGUAN pendengaran pada anak bukan sekadar masalah fungsi indra, melainkan ancaman serius bagi perkembangan kognisi, kemampuan bicara, hingga kualitas hidup di masa depan. Hal ini ditegaskan oleh dr. Sally Mahdiani, spesialis telinga, hidung, dan tenggorok bedah kepala leher dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dokter Hasan Sadikin Bandung dan FK Unpad.

Dalam webinar yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan pada Kamis (16/4), dr. Sally menjelaskan bahwa dampak gangguan pendengaran pada anak bersifat jangka panjang dan lintas usia.

Dampak Kognisi dan Risiko Demensia

"Efek terhadap perkembangan kognisi tidak hanya berdampak pada usia anak, tapi juga gangguan pendengaran yang terjadi pada usia lanjut dapat mengakibatkan potensi terjadinya demensia," ujar dr. Sally.

Ia menambahkan bahwa gangguan pendengaran pada anak memicu efek domino yang luas, mulai dari penurunan kesempatan pendidikan dan pekerjaan, hingga terganggunya fungsi sosial dan emosional. Secara makro, kondisi ini juga berdampak pada sektor ekonomi akibat meningkatnya biaya kesehatan dan perawatan jangka panjang.

Kaitan Erat Bahasa dan Kognisi

Menurut dr. Sally, perkembangan kognisi seorang anak sangat bergantung pada perkembangan bahasanya. Sementara itu, kemampuan bahasa sangat ditentukan oleh kualitas pendengarannya. Jika pendengaran terganggu, maka proses pembelajaran dan komunikasi anak akan terhambat secara signifikan.

Karena sifatnya yang tidak terlihat secara fisik, gangguan pendengaran sering dijuluki sebagai invisible disability atau ketidakmampuan yang tidak kasat mata. Oleh karena itu, deteksi dini oleh tenaga kesehatan, orang tua, dan keluarga menjadi kunci utama untuk menangani kondisi ini sebelum berdampak lebih jauh.

Masa emas pertumbuhan anak terjadi antara usia 0 sampai 3 tahun. Pada periode ini, perkembangan cortex auditory di otak sangat bergantung pada rangsangan eksternal, terutama suara.

Stimulasi Cortex Auditory

Perkembangan otak anak memiliki sifat plastisitas yang tinggi. Apabila rangsangan pendengaran yang diterima baik, maka perkembangan cortex auditory akan optimal. Sebaliknya, ketiadaan rangsangan suara pada masa krusial ini dapat menghambat pembentukan saraf-saraf penting di otak yang mendukung fungsi kognitif.

Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan lebih peka terhadap status pendengaran anak sejak dini guna memastikan masa depan kognitif dan sosial mereka tetap terjaga dengan baik. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya