Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA ini stres sering dianggap sebagai beban eksklusif orang dewasa. Namun, penelitian terbaru dari University of California, San Francisco (UCSF) mengungkap fakta mengkhawatirkan: stres yang dialami sejak dalam kandungan hingga masa remaja dapat mengubah struktur otak dan merusak sistem fisik anak jauh sebelum mereka menginjak usia dewasa.
Tekanan dari konflik keluarga, perundungan (bullying), kemiskinan, hingga lingkungan yang tidak aman bukan sekadar masalah perasaan. Hal ini memicu proses yang disebut ilmuwan sebagai "penanaman biologis," di mana sinyal stres meninggalkan jejak permanen pada cara organ dan sistem tubuh bekerja.
Ketika anak mengalami stres intens secara terus-menerus, tubuh dipaksa untuk terus dalam kondisi siaga tinggi. Kondisi ini menciptakan keausan sistemik yang disebut allostatic load. Beban ini meningkatkan risiko asma, obesitas, gangguan tidur, hingga gangguan kecemasan pada anak-anak.
Hasil pemindaian otak menunjukkan stres kronis dapat mengubah struktur otak. Area yang mengatur memori, kontrol emosi, dan pengambilan keputusan cenderung lebih kecil pada anak-anak yang terpapar tekanan terus-menerus. Akibatnya, kecepatan belajar dan kinerja sekolah mereka pun terdampak.
Dr. Nicki Bush, profesor psikiatri dan pediatri di UCSF, menegaskan kesehatan mental dan fisik anak tidak bisa dipisahkan.
"Sudah terlalu lama penelitian tentang stres masa kanak-kanak memandang kesehatan fisik dan mental sebagai hal yang terpisah. Namun, jika kita ingin membuat perbedaan nyata bagi kehidupan anak-anak, kita perlu memikirkan kembali bagaimana stres berdampak pada kesehatan anak secara keseluruhan," ujar Dr. Bush.
Stres tidak memengaruhi semua usia dengan cara yang sama. Ada jendela waktu di mana anak sangat sensitif terhadap tekanan:
Kabar baiknya, dampak buruk stres bisa diredam. Lingkungan yang mendukung dan pola asuh yang hangat serta responsif bertindak sebagai pelindung bagi perkembangan anak. Dr. Alexandra Sullivan dari UCSF menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental pengasuh sama besarnya dengan kesehatan anak itu sendiri.
"Upaya untuk membantu mendukung ikatan pengasuh dan anak, serta meningkatkan kesehatan mental bagi orang dewasa dan anak pada periode prenatal dan postnatal, dapat memberikan dampak yang mendalam lintas generasi," kata Dr. Sullivan.
Para peneliti sepakat menunggu hingga anak menjadi dewasa untuk menangani dampak stres adalah sebuah kesalahan besar. Intervensi harus dilakukan sedini mungkin melalui program pengasuhan, dukungan kesehatan mental di sekolah, hingga kebijakan publik yang mendukung kesejahteraan keluarga.
"Jangan menunggu sampai orang dewasa terkena penyakit jantung, kanker, atau berakhir di penjara atau di jalanan untuk bertanya apakah stres masa kanak-kanak memengaruhi hasil hidup mereka," tegas Dr. Bush.
Penelitian komprehensif ini telah diterbitkan dalam jurnal Annual Review of Psychology. (Earth/Z-2)
Akademi Pediatri Amerika (AAP) merilis laporan klinis terbaru mengenai krisis kesehatan mental anak yang mencapai tahap mengkhawatirkan.
Masalah emosi dan perilaku pada anak usia dini kerap kali dipersepsikan sebagai fase perkembangan yang wajar.
Survei terbaru Girl Scouts mengungkap 60% remaja putri merasa tertekan menghadapi masa dewasa.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong kesehatan mental menjadi bagian inti kurikulum nasional menyusul meningkatnya kasus depresi dan kecemasan pada anak dan remaja di Indonesia.
Kenali ciri-ciri anak korban child grooming menurut pakar IDAI. Mulai dari perubahan perilaku hingga kepemilikan barang mewah yang mencurigakan.
Pemerintah Austria resmi mengumumkan rencana pelarangan media sosial untuk anak usia di bawah 14 tahun demi melindungi kesehatan mental dari algoritma adiktif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved