Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ORANG TUA tua diminta tidak terlena dengan memberikan susu secara berlebihan kepada buah hati. Dokter spesialis anak, Lucky Yogasatria, memperingatkan bahwa konsumsi susu yang melampaui batas dapat menghambat penyerapan zat besi, yang berisiko fatal pada perkembangan otak dan kecerdasan (IQ) anak.
Menurut Lucky, kandungan kalsium yang tinggi dalam susu bersifat kompetitif terhadap zat besi di dalam sistem pencernaan. Jika kalsium mendominasi, tubuh anak akan kesulitan menyerap zat besi yang sangat dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah dan fungsi kognitif.
“Yang bermasalah itu adalah kalsiumnya karena bisa jadi kompetitif dengan penyerapan zat besinya,” ujar Lucky dilansir dari Antara, Selasa (14/4).
Untuk menjaga keseimbangan nutrisi, Lucky merekomendasikan batas maksimal pemberian susu, baik formula maupun susu segar, adalah 500 mililiter per hari, khususnya bagi anak usia dua tahun. Lebih dari itu, anak berisiko kenyang semu dan kehilangan nafsu makan terhadap makanan padat (real food).
Ia juga menekankan pentingnya pengaturan jadwal minum susu dengan pola berikut:
“Kalau usia setelah dua tahun bahkan (susu) tidak perlu-perlu sekali karena sudah ada real food,” tegasnya.
Risiko Defisiensi Zat Besi:
Kekurangan zat besi bukan sekadar masalah fisik, tetapi berdampak jangka panjang pada kualitas hidup anak, di antaranya:
Memasuki usia MPASI, orang tua disarankan fokus pada asupan protein hewani yang kaya zat besi seperti hati ayam, daging sapi, dan daging ayam. Sebagai gambaran, bayi membutuhkan sekitar 11 miligram zat besi per hari.
“Jumlah (kandungan zat besi) kalau kita mengonsumsi hati ayam itu lumayan kecil (porsinya). Tapi kalau pakai daging ayam itu bisa sampai 400-500 gram untuk memenuhi kebutuhan harian. Itu cukup besar untuk porsi anak usia 7 atau 8 bulan,” jelas Lucky.
Bagi bayi usia 4 hingga 6 bulan, Lucky menyarankan konsultasi dengan dokter terkait pemberian suplemen zat besi tambahan, mengingat cadangan alami dari ASI mulai berkurang pada periode tersebut. (Ant/Z-10)
Dokter spesialis anak dr. Lucky Yogasatria memperingatkan risiko konsumsi susu berlebih yang dapat mengganggu penyerapan zat besi dan memicu anemia pada anak.
Kekurangan zat besi berdampak pada kecerdasan anak.
Dokter spesialis anak dr. Lucky Yogasatria memperingatkan bahaya kekurangan zat besi yang memicu stunting, gangguan otak, hingga penurunan IQ pada anak.
Kolin, magnesium, dan zat besi berperan penting menjaga kesehatan mental. Nutrisi ini bantu kurangi stres, perbaiki tidur, dan tingkatkan fokus.
Penelitian terbaru menemukan perbedaan kadar logam pada rambut pasien Parkinson yang berpotensi menjadi biomarker non-invasif untuk membantu deteksi dini penyakit ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved