Kualitas Air Minum dan Stunting: Temuan Jurnal IJERPH 2026

Basuki Eka Purnama
10/4/2026 16:45
Kualitas Air Minum dan Stunting: Temuan Jurnal IJERPH 2026
Ilustrasi(Freepik)

SELAMA ini, banyak rumah tangga di Indonesia mengasumsikan bahwa air yang tampak jernih, dingin, dan tidak berbau adalah air yang aman dikonsumsi. Namun, persepsi ini dipatahkan oleh temuan ilmiah terbaru yang dipublikasikan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health (IJERPH) tahun 2026.

Publikasi yang disusun oleh Tria Rosemiarti, Diana Sunardi, dan Netta Meridianti Putri ini melakukan tinjauan mendalam terhadap 15 jurnal ilmiah global selama 15 tahun terakhir. Hasilnya mengejutkan: kualitas air minum memiliki korelasi yang jauh lebih kuat terhadap pertumbuhan anak daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Bahaya Tersembunyi di Balik Air Jernih

"Studi tersebut menyoroti bahwa kontaminasi mikrobiologis, terutama oleh bakteri Escherichia coli (E. coli), menjadi ancaman utama," ujar Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK, dokter Spesialis Gizi Klinik. 

Menariknya, kontaminasi sering kali tidak terjadi di sumber air, melainkan di "titik penggunaan" (point of use). Hal ini mencakup proses pemindahan air ke wadah penyimpanan, pendinginan, hingga saat air dituang ke alat makan anak.

Berikut adalah ringkasan data temuan utama dari publikasi IJERPH 2026:

Indikator Temuan Utama
Risiko Stunting Meningkat hingga 4,14 kali akibat kontaminasi E. coli.
Mekanisme Biologis Environmental Enteric Dysfunction (EED) atau gangguan penyerapan nutrisi.
Fase Paling Kritis Usia 6–24 bulan (masa transisi ke MPASI).
Dampak Kognitif Mempengaruhi skor memori, bahasa, dan kemampuan adaptasi sekolah.

EED: Mengapa Anak Tetap Stunting Meski Cukup Makan?

Salah satu poin krusial dalam penelitian ini adalah penjelasan mengenai Environmental Enteric Dysfunction (EED). Ini adalah kondisi peradangan usus kronis akibat paparan kuman berulang dari air yang tidak higienis. EED menyebabkan dinding usus rusak sehingga daya serap nutrisi menurun drastis.

"Kondisi ini sering kali tidak disadari karena tidak selalu menimbulkan gejala diare akut. Akibatnya, meskipun anak mendapatkan asupan makanan bergizi, nutrisi tersebut tidak terserap sempurna oleh tubuh, yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan otak," ungkap Diana.

Dampak Jangka Panjang pada Kecerdasan

Kualitas air tidak hanya menentukan tinggi badan. Studi jangka panjang menunjukkan bahwa ibu yang mengonsumsi air aman selama masa kehamilan cenderung memiliki anak dengan fungsi kognitif yang lebih baik pada usia 9–12 tahun. Sebaliknya, paparan air buruk di masa jendela kritis (6–24 bulan) dapat berdampak permanen pada kemampuan belajar dan memori anak di masa depan.

Tantangan di Indonesia dan Solusi Terpadu

Indonesia menghadapi paradoks di mana akses air "layak" terus meningkat, namun secara mikrobiologis banyak yang belum memenuhi standar "aman" saat diuji di meja makan. Hal ini menjadi pengingat bahwa infrastruktur saja tidak cukup.

Dalam menjaga standar kualitas, praktik industri air minum dalam kemasan yang ketat, seperti yang diterapkan oleh AQUA, dapat menjadi referensi mengenai bagaimana air seharusnya diuji dan dikelola agar benar-benar bebas dari kontaminasi mikrobiologis.

Rekomendasi Kebijakan & Rumah Tangga:
  • Memperkuat pemantauan kualitas air di tingkat rumah tangga (titik penggunaan).
  • Edukasi masif mengenai cara penyimpanan air dan kebersihan wadah MPASI.
  • Integrasi program air bersih dengan sanitasi lingkungan dan layanan gizi.
  • Prioritas intervensi pada periode emas anak usia 6–24 bulan.

Sebagai kesimpulan, investasi pada air minum yang aman dan perilaku higienis bukan sekadar urusan sanitasi, melainkan investasi strategis untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul di masa depan. (Z-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya