Kasus Bunuh Diri Anak Indonesia Tertinggi di ASEAN, Pakar IPB Tekankan Kedekatan Emosional

Basuki Eka Purnama
09/4/2026 10:53
Kasus Bunuh Diri Anak Indonesia Tertinggi di ASEAN, Pakar IPB Tekankan Kedekatan Emosional
Ilustrasi(Freepik)

KOMISI Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), baru-baru ini, merilis data yang memprihatinkan terkait kesehatan mental generasi muda. Indonesia tercatat memiliki angka kasus bunuh diri anak tertinggi di wilayah Asia Tenggara. Temuan ini menjadi alarm keras bagi seluruh elemen masyarakat mengenai kondisi psikologis anak-anak di tanah air.

Menanggapi fenomena tersebut, Pakar Pengasuhan Anak dari IPB University, Prof. Dwi Hastuti, menekankan urgensi adanya sistem pemantauan data yang lebih komprehensif. Menurutnya, pemerintah dan pihak terkait perlu memiliki data surveilans yang berkelanjutan untuk memantau tren bunuh diri serta kenakalan remaja secara kontinu.

Akar Masalah: Keputusasaan dan Hilangnya Harapan

Prof. Dwi menjelaskan bahwa tindakan fatal seperti bunuh diri biasanya berakar dari kondisi keputusasaan yang mendalam. Anak-anak yang merasa kehilangan harapan sering kali terjebak dalam pusaran stres, frustrasi, hingga depresi berat yang tidak terdeteksi oleh orang terdekat.

Berikut adalah beberapa faktor pemicu stres pada anak yang perlu diwaspadai oleh orang tua:

Lingkup Pengaruh Faktor Pemicu Stres
Keluarga Kurangnya kedekatan emosional, konflik domestik, dan minimnya komunikasi.
Lingkungan Sekolah Masalah pertemanan, tekanan akademik, dan aktivitas organisasi.
Dunia Digital Paparan media sosial yang memicu rasa rendah diri dan kesenjangan realitas.
Psikologis Pribadi Kecemasan, kegelisahan, hingga kebencian terhadap diri sendiri.

Pentingnya Kedekatan Emosional Orang Tua

Salah satu benteng utama pencegahan adalah kedekatan emosional antara anak dan orang tua. Prof. Dwi merinci bahwa pola kedekatan ini berkembang sesuai usia anak. Pada masa prasekolah, peran ibu sangat dominan, namun saat memasuki usia sekolah hingga remaja, kehadiran dan kedekatan dengan ayah menjadi sangat krusial.

"Kedekatan tersebut hanya dapat terbangun apabila terdapat interaksi yang cukup sejak masa kanak-kanak. Dengan adanya rasa percaya, anak akan lebih terbuka menyampaikan perasaan sedih atau kesulitan yang mereka alami," urainya.

Ia juga menyoroti dampak negatif media sosial yang sering menampilkan gaya hidup semu. Tanpa pengawasan, anak cenderung membandingkan hidupnya dengan apa yang dilihat secara daring, yang berujung pada menurunnya rasa percaya diri.

Kolaborasi Ekosistem Pendidikan dan Masyarakat

Pencegahan bunuh diri tidak bisa hanya dibebankan pada keluarga. Sekolah, melalui guru dan teman sebaya, memiliki peran vital dalam mendeteksi perilaku menyimpang. Prof. Dwi menyarankan agar setiap temuan masalah pada anak disampaikan secara bijaksana kepada orang tua tanpa mempermalukan anak tersebut.

Di lingkungan pendidikan, nilai gotong royong dan budaya saling menghargai harus diperkuat agar siswa merasa didukung saat menghadapi masalah. "Membesarkan anak memerlukan dukungan lingkungan. Dibutuhkan kepedulian bersama dari seluruh ekosistem masyarakat," tambahnya.

Langkah Preventif bagi Orangtua

Sebagai penutup, Prof. Dwi memberikan beberapa rekomendasi praktis bagi orang tua untuk membangun karakter anak yang tangguh:

  • Penguatan Parenting: Mengikuti program pendidikan keluarga untuk mengoptimalkan peran pengasuhan.
  • Literasi Digital: Mengawasi akses media sosial dan membatasi durasi penggunaan internet.
  • Gaya Hidup Sehat: Mendorong aktivitas fisik dan olahraga secara rutin.
  • Edukasi Realitas: Mengajak anak melihat kondisi kelompok masyarakat yang kurang beruntung untuk menumbuhkan empati dan rasa syukur.

Melalui langkah-langkah ini, diharapkan anak-anak Indonesia memiliki mental yang lebih kuat dan merasa memiliki tempat untuk bersandar saat menghadapi tekanan hidup. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya