Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Para pakar sepakat bahwa tantangan geografis Indonesia menuntut integrasi berbagai teknologi alih-alih bergantung pada satu solusi tunggal. Hal itu mengemuka dalam seminar yang digelar Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam mendorong literasi digital nasional bertajuk FTTH, FWA & Mobile Broadband: Strategi Manakah yang Terbaik untuk Mempercepat Pemerataan dan Peningkatan Performa Akses Digital Indonesia di Aula Timur Kampus ITB, Selasa (7/4).
Seminar tersebut menyoroti tiga teknologi utama, Fiber to the Home (FTTH), Fixed Wireless Access (FWA), dan Mobile Broadband, sebagai pilar konektivitas nasional. Forum diskusi mempertemukan pandangan dari akademisi, regulator, pelaku industri, hingga perusahaan penyedia perangkat teknologi. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai peran masing-masing teknologi dalam ekosistem telekomunikasi nasional, sekaligus mendorong terbentuknya strategi yang lebih efektif dalam mempercepat pemerataan akses digital di Indonesia.
Dalam sesi diskusi, Ketua Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia STEI ITB, Ian Josef Matheus Edward, menekankan bahwa tidak ada satu teknologi yang dapat menjadi solusi tunggal.
“FTTH menawarkan kapasitas dan stabilitas terbaik, sementara FWA memberikan fleksibilitas dan kecepatan deployment. Keduanya perlu diposisikan sebagai solusi yang saling melengkapi dalam memperluas akses digital. Setiap teknologi memiliki karakteristik dan keunggulan yang berbeda-beda.Teknologi wireless unggul dari sisi kemudahan penggelaran, sementara FTTH tetap menjadi pilihan utama untuk kualitas dan keandalan layanan,” ujarnya.
Dari sisi regulator, Denny Setiawan, Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, menegaskan pentingnya komitmen pemerataan pembangunan.
“Kami mendorong agar pengembangan layanan broadband tidak hanya terfokus di wilayah padat, tetapi juga menjangkau daerah underserved. Komitmen rollout akan terus dipantau untuk memastikan pemerataan akses digital,” jelasnya.
Sementara itu, Hendra Gunawan, Chief Technology Officer MyRepublic Indonesia, menyoroti strategi implementasi di lapangan. “FTTH dan FWA bukan untuk saling menggantikan, melainkan saling melengkapi. FTTH tetap menjadi backbone utama, sementara FWA berperan mempercepat penetrasi di wilayah yang belum terjangkau fiber. Ini sejalan dengan komitmen MyRepublic untuk meningkatkan performa dan pemerataan akses internet melalui penguatan FTTH di kota besar serta FWA sebagai akselerator di regional 2 dan 3,” ungkapnya.
Dari sisi teknologi, Iman Hirawadi, Telecom Solutions Architect & Business Consultant ZTE Indonesia, menjelaskan kesiapan ekosistem perangkat. “Teknologi FWA saat ini sudah semakin matang dengan dukungan 4G dan 5G. Tantangan berikutnya adalah mencapai skala ekonomi agar perangkat dapat semakin terjangkau bagi masyarakat luas,” paparnya.
Melengkapi diskusi, Merza Fachys, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia, menyoroti dinamika industri dari perspektif layanan. “Setiap teknologi memiliki peran yang berbeda. Fixed broadband unggul dalam stabilitas, sementara mobile menawarkan fleksibilitas. Yang terpenting adalah bagaimana kebijakan dapat menciptakan ekosistem yang seimbang dan berkelanjutan,” tuturnya.
Seminar juga bagian dari upaya edukasi publik, khususnya bagi mahasiswa sebagai generasi penerus industri digital. Melalui kegiatan ini, diharapkan pemahaman mengenai strategi pengembangan teknologi broadband dapat tersampaikan secara lebih luas. (E-3)
Adhitya mengatakan sebagai wujud konkret semangat gotong-royong, MitMe Fest 2026 mendapat dukungan penuh dari mitra strategis lintas sektor.
Google Indonesia melantik 2.000 mahasiswa GSA 2026 dari 81.000 pendaftar. Program ini bertujuan memperkuat literasi digital dan penggunaan AI di kampus.
Perlunya pengawasan orang tua, kesehatan, serta literasi digital anak di era teknologi.
Studi terbaru mengungkap menurunnya penggunaan internet pada lansia bukan sekadar masalah fisik, melainkan pilihan sadar dan faktor kognitif.
Penulis Nadhifa Allya Tsana (Rintik Sedu) menilai media sosial kini menjadi platform efektif untuk mendekatkan budaya literasi kepada generasi muda.
Dari sekadar mengunggah foto, Mama Redha bahkan kini menjual hasil tangkapan laut melalui TikTok Live, dan aktif sebagai streamer.
Menkomdigi Meutya Hafid, menekankan krusialnya kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan pemerataan konektivitas digital di seluruh pelosok Indonesia.
Kebutuhan masyarakat terhadap akses internet kini setara dengan kebutuhan pokok, namun kenyataannya layanan tersebut masih belum dapat dinikmati secara merata.
PENINGKATAN akses digital harus diimbangi dengan penguatan kemampuan orangtua beradaptasi dengan perkembangan inovasi agar mereka bisa mendampingi remaja dalam memanfaatkan teknologi.
Asosiasi penyelenggara jaringan telekomunikasi menyoroti empat persoalan utama yang dianggap dapat memperlambat pencapaian visi Indonesia Emas 2045.
PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat) terus memainkan peran strategis dalam memperluas konektivitas internet di Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved