Bukan Faktor Usia, Inilah Alasan Sebenarnya Lansia Jarang Gunakan Internet

Thalatie K Yani
21/4/2026 12:30
Bukan Faktor Usia, Inilah Alasan Sebenarnya Lansia Jarang Gunakan Internet
Ilustrasi(freepik)

BANYAK orang berasumsi berkurangnya aktivitas digital pada lansia disebabkan faktor fisik yang membuat teknologi sulit digunakan. Namun, sebuah studi terbaru dari Lancaster University dan University College London (UCL) mengungkap fakta yang lebih kompleks, faktor kognitif, pendidikan, status pekerjaan, dan pilihan pribadi justru memegang peranan lebih besar.

Penelitian ini menganalisis data dari English Longitudinal Study of Aging (ELSA) yang melibatkan lebih dari 6.000 responden berusia di atas 50 tahun. Hasilnya mematahkan stereotipe bahwa masa tua identik dengan kondisi "buta teknologi" atau luring (offline).

Angka Penggunaan yang Tinggi

Data ELSA menunjukkan lebih dari 90% orang dewasa berusia 50 tahun ke atas di Inggris adalah pengguna internet reguler, baik harian maupun bulanan. Meski demikian, kesenjangan digital berbasis usia memang tetap ada.

Pada kelompok usia 50-64 tahun, tingkat penggunaan mencapai 97,7 persen. Angka ini turun menjadi 91,1 persen pada rentang usia 65-79 tahun, dan merosot tajam menjadi 65,7 persen pada mereka yang berusia 80 tahun ke atas. Namun, peneliti menegaskan bahwa penurunan ini tidak selalu disebabkan oleh penurunan fungsi fisik.

"Studi kami secara empiris membantah asumsi umum bahwa penurunan fungsional adalah alasan utama orang dewasa lanjut usia tidak menggunakan teknologi. Kami menemukan bahwa kemampuan kognitif, status pekerjaan, dan pendidikan adalah faktor yang lebih berpengaruh," ujar Bran Knowles dari Lancaster University, penulis utama studi tersebut.

Antara Kurang Keterampilan dan Pilihan Sadar

Menariknya, banyak lansia yang mengaku tidak menggunakan internet lebih sering bukan karena masalah akses, melainkan kurangnya kepercayaan diri dan keterampilan. Hal ini menyoroti pentingnya pelatihan keterampilan digital seumur hidup, bukan sekadar pemberian perangkat atau koneksi.

Di sisi lain, alasan paling umum yang ditemukan dalam studi ini justru bersifat sukarela. Banyak lansia merasa tidak memiliki alasan mendesak untuk lebih sering berselancar di dunia maya. Bagi mereka, membatasi waktu daring adalah sebuah keputusan sadar.

"Data menunjukkan adanya kecenderungan menuju pemutusan hubungan sukarela dari teknologi di masa tua, mungkin sebuah reposisi prioritas tentang cara menghabiskan waktu," tambah Knowles.

Ia mempertanyakan apakah kesenjangan digital pada lansia harus selalu dilihat sebagai bentuk pengucilan, atau justru bagian dari cara menua dengan baik melalui aktivitas lain di luar internet.

Tantangan Layanan Publik Digital

Meski pilihan pribadi harus dihormati, tantangan muncul ketika layanan publik, perawatan kesehatan, dan transaksi ekonomi kian beralih ke sistem digital.

Andrew Steptoe dari UCL menekankan pentingnya akses internet yang konsisten. "Hal ini menjadi semakin penting karena layanan pemerintah, daerah, dan akses kesehatan berpindah ke sistem daring, sementara banyak barang dan jasa lebih murah jika dibeli melalui internet," jelasnya.

Peneliti menyarankan agar penyedia layanan dan desainer teknologi mulai memikirkan cara mendukung individu yang memilih untuk jarang menggunakan internet. Hal ini mencakup penyediaan layanan alternatif yang tetap bisa diakses tanpa harus bergantung sepenuhnya pada dunia digital.

Studi ini secara keseluruhan mengajak masyarakat untuk tidak hanya memberikan dukungan bagi mereka yang ingin belajar, tetapi juga menghargai hak lansia yang memilih untuk membatasi kehidupan digital mereka. Temuan ini telah dipublikasikan secara resmi di perpustakaan digital ACM. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya