Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
UPAYA mencegah obesitas dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti membaca label gizi pada kemasan pangan dan rutin melakukan aktivitas fisik setiap hari. Hal ini menjadi krusial mengingat data kesehatan terbaru menunjukkan tren peningkatan berat badan berlebih di masyarakat.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi, mengungkapkan bahwa sebanyak 28,7% masyarakat Indonesia masih mengonsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) melebihi batas yang dianjurkan.
Menurut dr. Nadia, kelebihan asupan tersebut sering terjadi tanpa disadari karena masyarakat jarang menghitung total konsumsi harian, terutama dari produk makanan dan minuman kemasan.
“Kita perlu membiasakan membaca label. Di situ tercantum informasi nilai gizi per sajian, termasuk kandungan gula, garam, dan lemak,” ujar Nadia dalam acara Nutrifood Media Briefing bertajuk Cermat Memilih Pangan Olahan untuk Mencegah Obesitas di Jakarta Pusat, Selasa (3/3).
Ia mengingatkan kembali batas konsumsi harian yang aman bagi orang dewasa untuk menghindari risiko obesitas dan penyakit degeneratif:
| Komponen | Batas Maksimal Per Hari | Setara Dengan |
|---|---|---|
| Gula | 50 Gram | 4 Sendok Makan |
| Garam | 5 Gram | 1 Sendok Teh |
| Lemak | 67 Gram | 5 Sendok Makan Minyak |
Selain memeriksa angka pada tabel nilai gizi, masyarakat disarankan memperhatikan logo “Pilihan Lebih Sehat” pada kemasan produk. Logo ini menandakan bahwa produk telah memenuhi kriteria batas kandungan GGL sesuai ketentuan pemerintah.
Namun, mengatur asupan makanan saja tidaklah cukup. Kemenkes menekankan pentingnya menjaga keseimbangan energi melalui aktivitas fisik rutin guna membakar kalori yang masuk.
Dalam peringatan Hari Obesitas Sedunia 2026, Nadia menganjurkan kebiasaan sederhana untuk meningkatkan aktivitas harian, seperti:
“Obesitas tidak terjadi dalam waktu singkat. Ini akibat pola makan dan gaya hidup dalam jangka panjang. Karena itu, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten akan lebih efektif,” tegasnya.
Momentum Ramadhan juga dinilai dapat menjadi ajang melatih pengendalian konsumsi gula, terutama saat berbuka puasa yang identik dengan minuman manis. Dengan mengurangi kadar gula secara bertahap dan tetap aktif bergerak, masyarakat dapat membangun kebiasaan sehat yang berkelanjutan untuk menekan risiko diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung.
Kepala Badan POM Taruna Ikrar menandatangani Rancangan Revisi Peraturan Badan POM tentang Informasi Nilai Gizi pada Label Pangan Olahan.
PENERAPAN label Nutri-Level pada minuman manis dinilai berpotensi meningkatkan kesadaran konsumen. Namun, implementasinya di Indonesia menghadapi tantangan besar.
YAYASAN Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menanggapi kebijakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait kewajiban pencantuman label gizi berupa label Nutri-level pada pangan siap saji.
PEMERINTAH akhirnya menerapkan label gizi atau Nutri-Level pada produk makanan dan minuman (mamin). Kebijakan tersebut akan dilakukan secara bertahap dimulai dari produk minuman.
Selain mencermati angka pada tabel nilai gizi, konsumen juga dapat mencari logo Pilihan Lebih Sehat pada kemasan.
Membaca label gizi pada kemasan makanan dan minuman menjadi langkah penting untuk mengontrol asupan gula harian.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved