Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BULAN tidak diam di tempat. Satelit alami Bumi itu perlahan tapi pasti menjauh. Mengutip dari The Weather Channel, Bulan terlihat menjauh sekitar 3,8 sentimeter per tahun. Angkanya kecil, nyaris tidak terasa. Tapi dalam skala kosmik, dampaknya sangat serius. Salah satunya adalah perubahan panjang waktu satu hari di Bumi.
Fenomena ini bukan teori baru. Para ilmuwan sudah mengukurnya secara langsung lewat teknologi laser sejak era misi Apollo. Cermin reflektor yang ditinggalkan astronot di permukaan Bulan memungkinkan peneliti menghitung jarak Bumi-Bulan dengan akurasi ekstrem. Hasilnya konsisten. Bulan memang menjauh.
Penyebab utamanya adalah interaksi gravitasi antara Bumi dan Bulan. Gravitasi Bulan menarik air laut Bumi dan menciptakan pasang surut. Karena Bumi berotasi lebih cepat daripada orbit Bulan, tonjolan air laut sedikit tertinggal dari posisi Bulan. Gesekan ini mentransfer energi rotasi Bumi ke orbit Bulan.
Efeknya dua arah. Bulan mendapat tambahan energi sehingga orbitnya melebar. Sementara itu, rotasi Bumi melambat. Perlambatan inilah yang membuat durasi satu hari di Bumi bertambah, meski sangat perlahan.
Mengutip dari ScienceAlert, panjang satu hari di Bumi bertambah sekitar 1 milidetik setiap abad. Kedengarannya sepele. Tapi dalam jutaan tahun, efeknya terakumulasi.
Para peneliti memperkirakan bahwa sekitar 200 juta tahun ke depan, satu hari di Bumi bisa berlangsung hingga 25 jam. Semua ini terjadi tanpa campur tangan manusia, murni akibat dinamika gravitasi antara Bumi dan Bulan.
Catatan geologi memperkuat temuan ini. Struktur batuan kuno dan fosil menunjukkan bahwa ratusan juta tahun lalu, satu hari di Bumi jauh lebih singkat. Sekitar 1,4 miliar tahun lalu, satu hari hanya berlangsung sekitar 18 jam. Saat itu Bulan berada jauh lebih dekat ke Bumi, dan rotasi planet ini jauh lebih cepat.
Artinya, perubahan panjang hari bukan prediksi kosong. Itu sudah terjadi dan sedang berlangsung.
Meski terdengar dramatis, perubahan ini tidak berdampak langsung pada kehidupan manusia saat ini. Kita tidak akan bangun besok dan mendapati jam bertambah satu jam. Perubahannya terlalu lambat untuk dirasakan dalam satu generasi.
Namun bagi ilmuwan, fenomena ini penting. Ia membantu memahami evolusi sistem Bumi-Bulan dan bagaimana dinamika kosmik memengaruhi waktu, iklim, hingga stabilitas planet dalam jangka panjang.
Singkatnya, Bulan memang menjauh dan hari di Bumi memang memanjang. Tapi ini bukan alarm bahaya. Ini adalah pengingat bahwa bahkan waktu pun bergerak mengikuti hukum fisika alam semesta. (Science Alert, The Weather Channel/P-3)
Menurut para astronom, perbedaan ini terjadi karena faktor perspektif. Posisi pengamat di Bumi terutama perbedaan garis lintang membuat orientasi Bulan terlihat berbeda
Ilmuwan memprediksi pembentukan superbenua Pangea Ultima dalam 250 juta tahun ke depan akan memicu suhu ekstrem hingga 50°C dan mengancam kepunahan mamalia.
NASA merilis foto terbaru dari misi Artemis II, memperlihatkan sisi lain Bulan yang selama ini selalu hanya memperlihatkan satu wajah yang sama ke Bumi.
Misi Artemis II milik NASA mencatat sejarah baru dalam eksplorasi antariksa setelah para astronautnya berhasil menempuh jarak terjauh dari Bumi
Astronaut Artemis II terpukau melihat Bumi dari luar angkasa hingga menunda makan. Foto NASA ungkap keindahan planet biru dari kapsul Orion.
Empat astronot dalam misi Artemis II membagikan potret bumi dari luar angkasa yang langsung menarik perhatian publik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved