Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PAPARAN asap rokok pada anak-anak bukan sekadar masalah kesehatan pernapasan jangka pendek. Dokter Spesialis Anak Konsultan Respirologi dari Universitas Indonesia, dr. Darmawan Budi Setyanto, Sp.A (K), memperingatkan bahwa merokok di dekat anak dapat memicu kerusakan organ tubuh secara menyeluruh, bahkan hingga menyerang sistem saraf pusat.
"Bahayanya bukan cuma kena ke sistem respiratori, sistem pernapasan, dari ujung rambut sampai ujung kaki itu kena bahayanya. Ya jadi sistem saraf otak itu kena, terus jantung kena, pencernaan kena, dan efeknya itu tidak usah nunggu sampai dewasa nanti," ujar Darmawan, dikutip Selasa (3/2).
Darmawan menjelaskan bahwa anak-anak di lingkungan perokok berisiko menjadi dua jenis korban sekaligus. Pertama sebagai second-hand smoker atau perokok pasif yang menghirup asap secara langsung. Kedua, sebagai third-hand smoker, yakni menghirup residu beracun yang mengendap dan menempel pada dinding, pakaian, tempat duduk, hingga rambut orang di sekitarnya.
Proses pajanan ini memang tidak memberikan dampak kerusakan seketika. Namun, zat beracun tersebut terakumulasi dalam jangka panjang, sehingga kerusakan yang dialami tubuh anak akan bertambah parah seiring berjalannya waktu.
Salah satu poin krusial yang disoroti adalah dampak pada fungsi kognitif. Paparan asap rokok terbukti mengganggu perkembangan saraf otak yang berimbas pada prestasi sekolah, penurunan tingkat kecerdasan, hingga gangguan perilaku seperti ADHD atau hiperaktif.
Selain merusak sistem saraf, asap rokok secara otomatis melemahkan saluran pernapasan, membuat anak lebih rentan terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Efek ini akan semakin buruk jika ditambah dengan polusi udara dari kendaraan bermotor.
"Jadi anak-anak yang terpajan asap rokok lebih gampang kena ISPA. Asap rokok itu kan polusi ya, kalau tambahan polusi luar misalnya asap kendaraan, itu makin-makin kumulatif efeknya. Kerusakannya berlangsung lama tapi sejak awal sudah mengganggu," tambahnya.
Saat anak beranjak dewasa, mereka yang terpapar rokok sejak kecil memiliki risiko tinggi menderita penyakit paru kronik dan penyakit jantung. Kondisi ini akan semakin berat jika pajanan rokok terus berlanjut.
Upaya terbaik untuk meminimalisir kerusakan adalah dengan menghentikan pajanan sedini mungkin dan melakukan terapi medis jika gejala penyakit mulai muncul.
Namun, Darmawan memberikan catatan keras mengenai kerusakan saraf pusat yang berkaitan dengan kecerdasan, karena dikhawatirkan bersifat permanen.
"Jadi anak-anak yang terpajan rokok dari kecil itu jangan berharap jadi generasi emas nanti. Bisa jadi generasi cemas dan lemas," pungkasnya. (Ant/Z-1)
Tekanan berlapis dari situasi geopolitik global hingga regulasi domestik membuat pelaku industri hasil tembakau (IHT) kian terhimpit.
Seorang pengusaha rokok, Muhammad Suryo, mewujudkan nazar pribadi dengan membangun masjid di lokasi kecelakaan yang merenggut nyawa istrinya di Desa Palihan, Temon, Kabupaten Kulonprogo.
Guru Besar FKUI Prof. Faisal Yunus menegaskan vape dan rokok konvensional sama-sama berbahaya bagi kesehatan dan bukan alternatif yang aman.
Kasus dugaan korupsi cukai yang menyeret oknum di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan (DJBC Kemenkeu) dinilai menjadi momentum penting.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menargetkan penambahan layer atau lapisan baru dalam struktur tarif cukai hasil tembakau (CHT) mulai berlaku paling lambat Mei 2026.
Tim Pengkaji Kemenko PMK telah mengusulkan batasan kadar nikotin dan tar yang lebih rendah pada produk hasil tembakau.
Tjandra Yoga Aditama (PDPI) mengungkap alasan mengapa Ramadan adalah waktu terbaik berhenti merokok. Simak 7 tips medis untuk lepas dari kecanduan.
Udara yang kita hirup setiap hari ternyata menyimpan ancaman nyata kanker paru bagi mereka yang bahkan tidak pernah menyentuh rokok seumur hidupnya.
Kanker paru-paru tidak hanya menyerang perokok. Asap rokok, polusi, asbes, radon, hingga faktor genetik dapat meningkatkan risikonya pada nonperokok.
Asap rokok yang mengandung zat-zat seperti karbon monoksida dapat mengganggu fungsi oksigen dalam darah, sehingga tekanan darah ibu atau plasenta dapat meningkat.
Asap rokok dan rokok elektronik menjadi polutan yang berbahaya, baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved