Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
LAUTAN di seluruh dunia menyerap lebih banyak panas pada 2025 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sejak pengukuran modern dimulai sekitar tahun 1960. Menurut analisis terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Advances in Atmospheric Science, fenomena ini menjadi indikator kuat betapa cepatnya perubahan iklim terjadi.
Lautan berperan krusial dalam menyeimbangkan suhu bumi dengan menyerap lebih dari 90% kelebihan panas yang terperangkap di atmosfer akibat emisi gas rumah kaca. Namun, akumulasi panas yang terus meningkat membuat lautan kini berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan.
Para ilmuwan mengukur kandungan panas laut dalam satuan zettajoule. Hasil studi dari berbagai lembaga kredibel, termasuk NOAA dan Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa, menunjukkan lautan menyerap tambahan 23 zettajoule energi panas pada 2025. Angka ini melonjak drastis dibandingkan penyerapan tahun 2024 yang sebesar 16 zettajoule.
Untuk memberi gambaran betapa besarnya energi tersebut, John Abraham, profesor di University of St. Thomas sekaligus salah satu penulis studi ini, memberikan perumpamaan yang mencengangkan kepada Wired.
"Tahun lalu adalah tahun pemanasan yang sangat gila," kata John Abraham.
Energi sebesar 23 zettajoule dalam satu tahun setara dengan ledakan 12 bom atom Hiroshima di dalam lautan setiap detiknya. Lonjakan ini menandai rekor panas laut selama sembilan tahun berturut-turut, urutan rekor terpanjang yang pernah tercatat dalam sejarah.
Kenaikan suhu laut bukan sekadar angka di atas kertas. Lautan yang lebih panas secara langsung memengaruhi frekuensi dan intensitas gelombang panas laut, mengubah sirkulasi atmosfer, dan mengacaukan pola curah hujan global.
Suhu air yang panas menjadi "bahan bakar" bagi badai tropis yang lebih merusak. Sepanjang tahun lalu, pemanasan global diduga kuat menjadi pemicu dampak destruktif dari Badai Melissa di Jamaika dan Kuba, hujan monsun ekstrem di Pakistan, hingga banjir besar di Lembah Mississippi Tengah.
Dalam laporan tersebut, para peneliti menegaskan bahwa hasil ini adalah bukti nyata adanya ketidakseimbangan sistem iklim bumi.
"Pemanasan laut terus memberikan dampak yang mendalam pada sistem Bumi," tulis para penulis dalam studi tersebut.
Wilayah lautan yang mencatat suhu terpanas pada 2025 meliputi Atlantik tropis dan selatan, Laut Mediterania, Samudra Hindia bagian utara, serta Samudra Selatan. Kondisi ini memperingatkan dunia selama emisi gas rumah kaca tidak ditekan, lautan akan terus menyimpan "bom waktu" energi yang mengancam stabilitas cuaca di daratan. (Live Science/Z-2)
Musim dingin yang terlalu hangat menyebabkan bunga gagal mekar sempurna dan merusak tradisi ribuan tahun.
Ilmuwan Smithsonian (STRI) melaporkan kegagalan fenomena upwelling di Teluk Panama pada 2025 akibat angin yang melemah. Ancaman serius bagi ekosistem dan nelayan.
Penelitian terbaru Universitas Alaska Fairbanks mengungkap hilangnya es pesisir (landfast ice) di Laut Beaufort dan Chukchi yang kini mencair lebih cepat.
Penelitian terbaru di jurnal Nature mengungkap fakta mengejutkan. Serangga di wilayah tropis, termasuk Amazon, terancam punah karena tidak mampu beradaptasi dengan kenaikan suhu ekstrem.
Suhu Greenland Maret 2026 menunjukkan tren menghangat yang mengkhawatirkan. Simak update terbaru mengenai "Zona Gelap" dan dampaknya bagi permukaan laut dunia.
Peneliti terkejut menemukan Gletser Hektoria di Antartika kehilangan separuh wilayahnya dalam waktu singkat. Simak penyebab "gempa gletser" dan ancaman kenaikan permukaan laut.
Pembentukan Satgas ini menjadi langkah strategis tindak lanjut Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2026 untuk memperkuat tata kelola kawasan konservasi secara menyeluruh.
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat menegaskan, langkah mitigasi telah disiapkan untuk merespons dinamika iklim ekstrem tersebut.
Ibu kota India, New Delhi, mencatatkan suhu tertinggi 42,8 derajat Celsius pada Sabtu (25/4).
PEMAHAMAN dan mitigasi perubahan iklim menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya risiko krisis lingkungan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved