Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPERCAYAAN masyarakat mengenai khasiat air kelapa untuk mengobati rasa gatal akibat cacar air (varicella) ternyata belum memiliki landasan medis yang kuat. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan, hingga saat ini, belum ditemukan bukti ilmiah yang mendukung klaim air kelapa sebagai pereda gatal pada pasien cacar.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Dr. dr. Ratni Indrawanti, Sp.A, Subsp.I.P.T(K), menegaskan bahwa meskipun air kelapa sering dianggap sebagai solusi tradisional, fungsi utamanya bukanlah untuk mengobati gejala kulit pada cacar air.
"Belum ada bukti ilmiah bahwa air kelapa mengurangi gatal (akibat cacar), tapi (air kelapa) boleh diberikan pada anak-anak," ujar Ratni dalam diskusi daring yang dipantau dari Jakarta, Selasa.
Ratni menjelaskan, air kelapa memang memiliki manfaat kesehatan yang nyata, namun fungsinya lebih bersifat sebagai pendukung cairan tubuh. Air kelapa terbukti kaya akan elektrolit, terutama kalium, yang sangat baik untuk menjaga keseimbangan cairan di dalam tubuh.
Manfaat nutrisi inilah yang sebenarnya telah diakui sejak lama oleh nenek moyang sebagai cara menjaga tubuh tetap sehat.
Namun, Ratni menekankan pentingnya membedakan antara manfaat hidrasi dan klaim pengobatan gatal. Untuk memastikan fungsi air kelapa benar-benar valid sebagai pereda gatal, menurutnya masih diperlukan penelitian lebih lanjut secara spesifik.
Oleh karena itu, para orangtua diimbau untuk lebih berhati-hati dalam memilah informasi. Ratni meminta masyarakat agar selalu merujuk pada sumber yang dapat dipercaya dan tidak mudah terjebak oleh mitos-mitos yang beredar luas di tengah masyarakat.
Cacar air atau varicella merupakan infeksi primer yang disebabkan oleh virus varicella zoster (VZV). Gejalanya ditandai dengan demam serta munculnya lepuhan kecil berisi cairan (ruam vesikular) yang menyebar ke seluruh tubuh. Penyakit ini sangat mudah menular, terutama di lingkungan tertutup seperti sekolah, rumah, atau bangsal perawatan.
Alih-alih bergantung pada air kelapa untuk meredakan gejalanya, IDAI sangat merekomendasikan pencegahan melalui imunisasi. Berdasarkan panduan medis, vaksin varisela dapat diberikan mulai usia 12 bulan dengan jadwal sebagai berikut:
Melalui edukasi ini, diharapkan orangtua dapat mengambil tindakan medis yang tepat dan terukur dalam menangani cacar air pada anak, tanpa mengabaikan aspek pencegahan utama melalui vaksinasi. (Ant/Z-1)
Ichitan gelar program Berbagi Kesegaran Ramadan 2026. Simak pentingnya air kelapa untuk hidrasi saat berbuka dan daftar 8 kota distribusi gratisnya di sini.
Air kelapa juga lebih baik daripada minuman manis atau jus dengan tambahan gula serta perasa dan pewarna makanan.
Beberapa bahan alami seperti air kelapa, jahe, bunga chamomile, daun pepermin, adas, yoghurt, dan pisang bisa membantu meredakan gejala keracunan makanan.
Mengonsumsi air kelapa dapat menjadi pilihan untuk memulihkan dehidrasi karena keluar banyak cairan terutama setelah keracunan yang menyebabkan muntah dan diare.
Air kelapa mengandung magnesium, fosfat, kalium, sitrat, dan antioksidan yang berperan aktif dalam menghambat proses nukleasi hingga agregasi kristal penyusun batu ginjal.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention, virus cacar air tetap “tidur” dalam tubuh dan bisa aktif kembali jadi herpes zoster. Kenali risiko dan pencegahannya.
Virus varicella-zoster dapat aktif kembali saat sistem kekebalan tubuh melemah. Ketika aktif, virus ini tidak lagi menyebabkan cacar air, melainkan muncul sebagai herpes zoster
Dokter spesialis Vito A. Damay memperingatkan virus cacar air tetap tinggal di saraf dan bisa memicu cacar api saat imunitas turun.
Dokter spesialis kulit dr. July Iriani Rahardja meluruskan hoaks larangan mandi bagi anak yang terkena campak atau cacar. Simak tips memandikannya di sini.
Munculnya bintik atau bercak merah pada kulit sering membuat orang tua khawatir, terutama jika terjadi pada anak-anak. Kondisi ini bisa disebabkan oleh sejumlah penyakit yang berbeda.
Musim hujan memicu lonjakan berbagai penyakit infeksi pada anak, mulai dari influenza, campak, hingga cacar air, yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved