Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah masyarakat, masih sering terdengar anggapan bahwa anak yang sedang terkena cacar air (varisela) tidak diperbolehkan mandi. Namun, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa informasi tersebut adalah mitos yang keliru. Sebaliknya, orangtua justru dianjurkan untuk tetap memandikan anak guna menjaga kebersihan kulit dan kenyamanan selama masa pemulihan.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Dr. dr. Ratni Indrawanti, Sp.A, Subsp.I.P.T (K), menjelaskan bahwa menjaga kebersihan tubuh sangat penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut pada kulit anak.
"Pada varicella kan memang terjadi gatal, anak boleh dimandikan ya," kata Ratni dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa (13/1).
Menurut Ratni, memandikan anak yang terkena cacar air bertujuan agar kulit tetap bersih dan sehat. Langkah ini efektif untuk mencegah timbulnya biang keringat atau miliara yang dapat memperparah rasa tidak nyaman.
Selain itu, mandi secara teratur akan membantu anak merasa lebih segar untuk tetap beraktivitas meski kondisi tubuhnya sedang menurun.
Selain faktor kebersihan, kenyamanan fisik juga menjadi kunci dalam perawatan di rumah.
Ratni menyarankan orangtua untuk memakaikan anak pakaian dengan bahan yang ringan dan menyerap keringat. Hal ini penting untuk mengantisipasi suhu tubuh yang meningkat akibat gejala demam, sehingga anak tidak mudah kegerahan.
Jika rasa gatal yang dialami anak mulai berlebihan, orangtua disarankan tidak melakukan pengobatan mandiri secara sembarangan, melainkan berkonsultasi dengan dokter.
"Orangtua dapat melakukan sesi konsultasi dengan dokter untuk diberikan obat berupa antihistamin untuk meredakannya," tambahnya.
Aspek nutrisi juga tidak boleh luput dari perhatian. Karena virus varisela dapat menyebabkan luka hingga ke area mulut, orangtua perlu menyesuaikan tekstur makanan yang diberikan. Makanan lunak seperti bubur sangat disarankan agar anak tidak merasa sakit saat menelan.
"Kadang-kadang gejalanya (gatal) itu sampai ke mulut ya, sampai ke langit-langit atas makanya mungkin bisa dipertimbangkan untuk makan yang lebih lunak," ujar Ratni.
Di samping itu, kecukupan hidrasi dan konsumsi makanan bergizi menjadi faktor utama untuk memulihkan daya tahan tubuh anak.
Terkait situasi terkini, Ratni menyebutkan bahwa meski belum ada data spesifik mengenai jumlah total kasus di Indonesia, terdapat laporan mengenai peningkatan kasus yang merata di berbagai daerah, khususnya di lingkungan sekolah.
"Data dari Indonesia itu agak susah ya, mengatakan berapa, tapi intinya beberapa akhir-akhir ini, memang ada beberapa peningkatan kasus, terutama pada anak-anak sekolah itu ada beberapa laporan, agak merata saya kira di Indonesia," ungkapnya.
Sebagai langkah perlindungan jangka panjang, IDAI mengingatkan bahwa penyakit cacar air sebenarnya dapat dicegah sejak dini. Pemberian vaksin varisela yang telah tersedia di Indonesia menjadi solusi paling efektif untuk menekan risiko penularan yang sangat cepat pada anak-anak. (Ant/Z-1)
Menurut Centers for Disease Control and Prevention, virus cacar air tetap “tidur” dalam tubuh dan bisa aktif kembali jadi herpes zoster. Kenali risiko dan pencegahannya.
Virus varicella-zoster dapat aktif kembali saat sistem kekebalan tubuh melemah. Ketika aktif, virus ini tidak lagi menyebabkan cacar air, melainkan muncul sebagai herpes zoster
Dokter spesialis Vito A. Damay memperingatkan virus cacar air tetap tinggal di saraf dan bisa memicu cacar api saat imunitas turun.
Dokter spesialis kulit dr. July Iriani Rahardja meluruskan hoaks larangan mandi bagi anak yang terkena campak atau cacar. Simak tips memandikannya di sini.
Munculnya bintik atau bercak merah pada kulit sering membuat orang tua khawatir, terutama jika terjadi pada anak-anak. Kondisi ini bisa disebabkan oleh sejumlah penyakit yang berbeda.
Musim hujan memicu lonjakan berbagai penyakit infeksi pada anak, mulai dari influenza, campak, hingga cacar air, yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi.
Mandi air hangat bukan sekadar untuk kenyamanan, melainkan langkah krusial untuk membantu menghilangkan kotoran dari lumpur serta menjaga suhu tubuh agar tidak kedinginan.
Kulit manusia memiliki lapisan pelindung alami kulit (skin barrier) dan lapisan minyak alami (sebum) yang berfungsi menjaga kelembapan dan melindungi dari iritasi.
Terlalu sering mandi justru bisa berdampak kurang baik bagi kulit.
Dokter spesialis kulit dan kelamin, Fitria Agustina, menegaskan bahwa mandi satu hingga dua kali sehari sudah cukup, meskipun Indonesia saat ini tengah menghadapi cuaca ekstrem
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved