Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TIDAK hanya berdampak pada kesehatan mental, stres yang dialami kaum Gen Z kini semakin banyak dikaitkan dengan gangguan pencernaan.
Para ahli kesehatan menyebut fenomena ini berkaitan erat dengan hubungan antara sistem syaraf dan saluran cerna, yang secara ilmiah dikenal sebagai gut-brain axis hubungan dua arah antara otak dan usus yang memengaruhi fungsi pencernaan.
Survei baru-baru ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh generasi Z dan milenial mengalami masalah kesehatan pencernaan, seperti kembung, konstipasi, dan gangguan pencernaan kronis, dengan stres diidentifikasi sebagai faktor utama.
Sekitar 85,1% responden mengaitkan stres dengan kesulitan dalam kesehatan usus, sementara kebiasaan makan yang tidak teratur juga turut memperburuk kondisi.
Ahli gastroenterologi menegaskan, stres kronis dapat memengaruhi motilitas usus yaitu kecepatan dan koordinasi gerak otot di dalam saluran cerna.
Ketika stres meningkat, hormon seperti kortisol dan adrenalin dapat memperlambat atau mempercepat fungsi usus. Hal ini menyebabkan gejala seperti diare, konstipasi, atau perut kembung, meskipun tidak ada penyakit struktural yang jelas pada sistem pencernaan.
Sebuah studi ilmiah juga menemukan bahwa tekanan psikologis berkepanjangan dapat mengubah komposisi mikrobiota usus pada remaja. Mikroba di gangguan ini berperan penting dalam keseimbangan pencernaan, produksi vitamin, dan fungsi kekebalan tubuh.
Adanya perubahan signifikan pada mikrobiota usus ini dapat menjadi salah satu mekanisme mengapa stres memiliki dampak serius pada kesehatan pencernaan.
Kondisi ini diperparah oleh gaya hidup Gen Z modern termasuk jam tidur yang kurang, konsumsi makanan cepat saji, dan paparan media sosial berlebihan yang berkontribusi pada peningkatan tingkat stres.
Survei kesehatan menunjukkan bahwa sekitar 73% Gen Z merasa “sangat” atau “cukup” stres dalam beberapa bulan terakhir, dan sebagian besar mengaku stres telah memengaruhi kesehatan pencernaan mereka.
Para ahli kesehatan menekankan pentingnya pendekatan holistik untuk mengatasi masalah ini. Selain pengaturan pola makan bergizi dan tidur cukup, teknik manajemen stres seperti latihan pernafasan, meditasi, dan aktivitas fisik rutin dinilai efektif untuk memulihkan kesehatan pencernaan. Konsultasi dengan profesional kesehatan juga dianjurkan jika gejala tak kunjung membaik.
Fenomena stres yang memicu gangguan pencernaan ini menjadi alarm penting bagi Gen Z maupun pihak keluarga dan pendidik bahwa kesehatan mental dan fisik saling berkaitan, dan perlu ditangani secara bersamaan agar kualitas hidup generasi muda tetap optimal. (Z-1)
Sumber: Economic Times Health, PubMed, NewsMinimalist, Food Insight
Secara ilmiah, stres berkaitan dengan respons tubuh terhadap tekanan yang dikenal sebagai fight or flight response, yaitu reaksi alami tubuh saat menghadapi ancaman
Psikolog klinis Teresa Indira Andani menjelaskan perbedaan mendasar antara emosi dan stres serta cara tepat mendampingi orang yang sedang tertekan.
STRES tidak selalu muncul dalam bentuk rasa tertekan atau sedih yang jelas.
Perjalanan mudik yang panjang dan melelahkan sering kali menjadi pemicu kekambuhan bagi penderita Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).
Stres tidak hanya memengaruhi mental tetapi juga penampilan. Dari jerawat hingga rambut rontok, berikut 10 perubahan pada wajah dan tubuh akibat stres.
Pelajari ciri-ciri stres fisik, psikologis, dan perilaku serta cara efektif menanggulanginya melalui koping proaktif, mindfulness, olahraga, dan intervensi sosial.
Dokter spesialis anak dr. Frieda Handayani menjelaskan indikator kesehatan cerna anak melalui bentuk, warna, dan frekuensi BAB berdasarkan Bristol Stool Chart.
Dokter spesialis anak menekankan pentingnya menjaga kesehatan saluran cerna sebagai fondasi kecerdasan dan tumbuh kembang optimal anak di periode emas.
Variasi makanan sangat berpengaruh terhadap kesehatan sistem pencernaan dan kondisi tubuh anak secara menyeluruh.
Serat bukan sekadar pelengkap pola makan, melainkan komponen vital dalam menjaga kesehatan pencernaan, mengendalikan kolesterol, hingga mendukung ekosistem bakteri baik di dalam tubuh.
Fenomena “kupu-kupu” di perut saat gugup ternyata berkaitan erat dengan sumbu otak-usus. Begini penjelasan ilmiah para ahli.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved