Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MASALAH anemia defisiensi besi masih menjadi tantangan kesehatan yang serius di Indonesia. Spesialis gizi klinik, Dr. dr. Luciana Sutanto, MS, SpGK (K), menekankan bahwa pemenuhan asupan zat gizi yang tepat sangat krusial, terutama pada periode emas atau 1.000 hari pertama kehidupan demi mencegah dampak jangka panjang bagi generasi mendatang.
Dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta, Kamis (8/1), dokter lulusan Universitas Indonesia ini menjelaskan bahwa anemia defisiensi besi masuk dalam kategori anemia gizi. Kondisi ini terjadi akibat asupan zat besi yang tidak mencukupi kebutuhan tubuh untuk memproduksi hemoglobin.
"Kenyataannya memang kita masih mendapati anemia di Indonesia sangat tinggi, terutama anemia kekurangan zat besi (anemia defisiensi besi). Ini memang harus disikapi dengan pencegahan, terutama kesehatan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan," ujar Luciana.
Gizi merupakan fondasi utama dalam mendukung tumbuh kembang optimal sejak awal kehidupan. Luciana menjelaskan bahwa perhatian utama harus diberikan pada ibu hamil dan anak-anak. Namun, ia juga menegaskan bahwa persiapan gizi sebaiknya dilakukan jauh sebelum kehamilan terjadi, yakni sejak masa remaja.
Persiapan dini pada remaja putri dianggap vital karena mereka adalah calon ibu di masa depan. Jika kondisi kesehatan tidak dipersiapkan sejak awal, risiko komplikasi saat kehamilan akan meningkat.
"Sebelum itu, perempuan yang akan hamil memang harus dipersiapkan kesehatannya. Remaja putri itu penting sekali tahu gizi, tahu bahwa nantinya kalau mereka akan hamil dan melahirkan itu harus siap. Karena kalau tiba-tiba hamil, tapi, enggak sehat, perjuangannya menjadi lebih kompleks lagi," tutur Presiden Indonesian Nutrition Association (INA) tersebut.
Di tengah maraknya tren diet dan pola makan yang beragam di masyarakat, Luciana mengingatkan pentingnya sikap selektif dalam menyerap informasi. Ia mengimbau masyarakat untuk tetap berpegang pada Pedoman Gizi Seimbang dari Kementerian Kesehatan sebagai acuan utama yang valid.
"Marilah kita mengacu kepada pedoman makan yang sehat ini dan bersama-sama mensosialisasikan karena banyak sekali informasi yang benar-benar menggiring ke arah yang tidak sehat," tegasnya.
Untuk memenuhi kebutuhan zat besi, masyarakat disarankan mengonsumsi bahan pangan alami seperti hati ayam dan daging merah. Selain sumber alami, makanan komersial yang telah difortifikasi zat besi juga bisa menjadi solusi praktis, asalkan dipilih secara cermat.
Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa asupan zat besi harus dibarengi dengan pendukung penyerapan yang tepat. Salah satunya adalah dengan mengonsumsi vitamin C agar zat besi yang masuk ke dalam tubuh dapat terserap secara optimal. (Ant/Z-1)
Presiden INA Dr. dr. Luciana B. Sutanto menekankan pentingnya protein dan zat besi untuk kecerdasan anak serta pencegahan stunting dan anemia.
Kekurangan zat besi berdampak pada kecerdasan anak.
Dokter spesialis anak dr. Lucky Yogasatria memperingatkan bahaya kekurangan zat besi yang memicu stunting, gangguan otak, hingga penurunan IQ pada anak.
Asupan gizi yang tidak seimbang atau penggunaan suplemen yang sembarangan justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
Kunci pembeda utama antara stunting dan stunted terletak pada penyebab dan asupan nutrisi sang anak.
Aturan pemberian makan anak atau feeding rules tidak hanya bicara soal apa yang dimakan, tetapi mencakup tiga pilar utama: jadwal, prosedur, dan lingkungan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved