Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
STUDI terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients menyoroti kaitan antara konsumsi keju dan risiko demensia pada lansia. Penelitian ini dilakukan pada warga Jepang yang berusia 65 tahun ke atas.
Mereka yang mengonsumsi keju setidaknya sekali seminggu memiliki risiko lebih rendah mengembangkan demensia. Meskipun demikian, para peneliti menegaskan faktor pengganggu, seperti kondisi sosial dan kesehatan tetap mungkin berperan.
Demensia merupakan tantangan kesehatan global yang terus meningkat dan diperkirakan akan memengaruhi lebih dari 150 juta orang pada 2050. Jepang menjadi salah satu negara dengan peningkatan tercepat, dengan kasus yang diperkirakan naik dari 4,4 juta pada 2022 menjadi 5,8 juta pada 2040. Karena pengobatan demensia masih terbatas, pencegahan melalui pola hidup sehat menjadi penting, termasuk dari aspek pola makan.
Keju dianggap sebagai salah satu makanan yang berpotensi melindungi kesehatan otak. Makanan ini mengandung vitamin K2, peptida, dan probiotik yang dapat mendukung fungsi saraf dan mengurangi peradangan.
Namun, bukti ilmiah tentang manfaat keju terhadap penurunan risiko demensia masih beragam. Studi ini mencoba memberikan data baru, khususnya pada kelompok dengan konsumsi keju rendah seperti masyarakat Jepang.
Penelitian dilakukan menggunakan data Japan Gerontological Evaluation Study (JAGES) tahun 2019 yang terhubung dengan catatan asuransi perawatan jangka panjang hingga 2022. Dari lebih dari 26 ribu peserta, sebanyak 10.180 lansia memenuhi kriteria penelitian.
Setelah dilakukan pencocokan berdasarkan faktor usia, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan, dan kesehatan, sebanyak 7.914 peserta dianalisis. Mereka dibagi menjadi dua kelompok, yaitu konsumen keju mingguan dan non-konsumen, lalu diikuti selama tiga tahun.
Hasilnya menunjukkan 3,4% konsumen keju mengalami demensia, dibandingkan 4,5% pada kelompok non-konsumen. Angka tersebut menunjukkan penurunan risiko sekitar 24%. Setelah memperhitungkan kebiasaan makan lain seperti konsumsi buah, sayur, dan daging, hasilnya tetap konsisten dengan penurunan sekitar 21%. Sebagian besar peserta mengonsumsi keju olahan satu hingga dua kali seminggu.
Para peneliti menyimpulkan konsumsi keju secara rutin mungkin memberikan manfaat perlindungan terhadap penurunan fungsi kognitif. Meski efeknya kecil pada individu, dampaknya bisa signifikan di tingkat populasi, terutama di negara dengan jumlah lansia tinggi.
Namun, keterbatasan studi seperti tidak adanya data genetik dan ukuran porsi membuat hasil ini perlu diartikan dengan hati-hati. Para peneliti menyarankan, penelitian lanjutan perlu menentukan jenis keju dan tingkat konsumsi yang paling bermanfaat bagi kesehatan otak. (newsmedical/Z-2)
Peneliti temukan rasio neutrofil dalam darah berkaitan dengan risiko Alzheimer. Simak bagaimana tes darah biasa bisa jadi deteksi dini demensia sebelum gejala muncul.
Temukan bagaimana latihan beban atau resistance training dapat menurunkan risiko demensia dan Alzheimer berdasarkan temuan jurnal penelitian medis terbaru.
Kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko demensia seperti Alzheimer.
5 kebiasaan sehari-hari seperti kurang tidur hingga pola makan buruk diam-diam merusak otak dan meningkatkan risiko demensia, menurut studi ilmiah terbaru.
Terminal lucidity adalah lonjakan kesadaran sesaat sebelum meninggal. Ini penjelasan ilmiah, tanda-tanda, dan fakta medisnya.
Terminal lucidity adalah fenomena kejernihan mendadak sebelum kematian pada pasien demensia. Simak penjelasan, ciri, dan fakta ilmiahnya.
Riset terbaru menunjukkan makanan ultra-proses (UPF) seperti camilan kemasan tidak hanya berdampak pada fisik, tapi juga merusak kemampuan konsentrasi otak.
Penelitian terbaru mengungkap asam lemak EPA dalam minyak ikan justru bisa menghambat pemulihan cedera otak ringan dan memicu penurunan kognitif.
Studi University College London menunjukkan olahraga meningkatkan protein BDNF yang berperan penting dalam fungsi otak, memori, dan kesehatan mental.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved