Makanan Ultra-Proses Terbukti Gerus Kemampuan Fokus Otak

Thalatie K Yani
29/4/2026 12:30
Makanan Ultra-Proses Terbukti Gerus Kemampuan Fokus Otak
Ilustrasi(freepik)

DIET tinggi makanan ultra-proses (Ultra-Processed Foods/UPF) ternyata tidak hanya mengancam kesehatan fisik, tetapi juga mulai menggerogoti fungsi dasar otak, kemampuan untuk fokus. Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa konsumsi makanan pabrikan secara rutin berkaitan erat dengan penurunan ketajaman mental pada orang dewasa.

Penelitian yang dipimpin oleh Monash University bersama University of São Paulo dan Deakin University ini mengamati lebih dari 2.100 orang dewasa Australia berusia paruh baya hingga lansia yang tidak menderita demensia. Hasilnya cukup meresahkan, bahkan peningkatan kecil dalam konsumsi makanan ultra-proses berhubungan langsung dengan penurunan perhatian (atensi) yang terukur.

Efek Nyata dari Camilan Harian

Meskipun dampak yang dirasakan mungkin tidak terlihat drastis dalam aktivitas sehari-hari secara langsung, pengaruh tersebut muncul dengan sangat jelas melalui tes kognitif standar.

"Untuk memberi gambaran, peningkatan 10% UPF kira-kira setara dengan menambahkan satu bungkus standar keripik ke dalam diet harian Anda," kata penulis utama Barbara Cardoso dari Monash University. "Untuk setiap peningkatan 10% makanan ultra-proses yang dikonsumsi seseorang, kami melihat penurunan yang jelas dan terukur pada kemampuan fokus seseorang."

Secara klinis, hal ini diterjemahkan ke dalam skor yang lebih rendah secara konsisten pada tes kognitif standar yang mengukur perhatian visual dan kecepatan pemrosesan informasi.

Dampak Proses Pengolahan Makanan

Makanan ultra-proses mencakup minuman ringan, camilan asin dalam kemasan, makanan siap saji, dan produk industri lainnya yang jauh dari bentuk makanan utuh. Yang mengejutkan, hubungan antara UPF dan penurunan fokus ini tetap muncul meskipun seseorang secara keseluruhan memiliki pola makan yang sehat, seperti diet Mediterania.

Hal ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan sekadar karena makanan olahan "mengusir" pilihan makanan sehat, melainkan ada dampak dari proses pengolahan itu sendiri.

"Ultra-processing makanan sering kali merusak struktur alami makanan dan memasukkan zat-zat yang berpotensi berbahaya seperti bahan tambahan buatan atau bahan kimia pemrosesan," jelas Cardoso. "Bahan-bahan tambahan ini menunjukkan bahwa hubungan antara diet dan fungsi kognitif meluas melampaui sekadar kekurangan makanan sehat, namun merujuk pada mekanisme yang terkait dengan tingkat pemrosesan makanan itu sendiri."

Kerusakan yang Senyap

Meskipun studi ini tidak menemukan hubungan langsung dengan kehilangan ingatan atau memori, para peneliti menekankan bahwa gangguan pada aspek atensi tetaplah serius. Atensi adalah fondasi bagi fungsi otak lainnya seperti belajar, memecahkan masalah, dan mengolah informasi dengan cepat.

Selain itu, konsumsi UPF yang tinggi juga dikaitkan dengan faktor risiko demensia lainnya, termasuk obesitas dan tekanan darah tinggi. Penelitian ini memberikan peringatan bahwa kenyamanan yang ditawarkan oleh makanan instan mungkin harus dibayar mahal dengan kesehatan kognitif yang menurun secara perlahan dan senyap.

Studi ini telah diterbitkan dalam jurnal Alzheimer’s & Dementia: Diagnosis, Assessment & Disease Monitoring, sebuah jurnal dari Alzheimer’s Association. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya