Suplemen Minyak Ikan Berisiko Hambat Pemulihan Cedera Otak

Thalatie K Yani
27/4/2026 11:30
Suplemen Minyak Ikan Berisiko Hambat Pemulihan Cedera Otak
Ilustrasi(freepik)

SELAMA ini, minyak ikan dipuja sebagai "makanan otak" yang mampu meningkatkan kecerdasan. Namun, penelitian terbaru dari Medical University of South Carolina (MUSC) mengungkap sisi gelap suplemen ini, terutama bagi mereka yang sering mengalami cedera kepala ringan.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cell Reports ini menunjukkan asam lemak omega-3 jenis EPA (eicosapentaenoic acid) dalam minyak ikan justru dapat mengganggu kemampuan otak untuk memulihkan diri. Alih-alih membantu penyembuhan, EPA ditemukan memperlemah stabilitas pembuluh darah dan memicu penumpukan protein berbahaya yang terkait dengan penurunan fungsi kognitif.

Temuan Kerentanan Metabolik

Tim peneliti yang dipimpin oleh neurosaintis Dr. Onder Albayram fokus pada proses biologis perbaikan pembuluh darah otak setelah cedera. Mereka menemukan adanya "kerentanan metabolik" yang dipicu oleh penumpukan EPA di otak.

Berbeda dengan DHA (docosahexaenoic acid) yang dikenal baik untuk struktur saraf, EPA memiliki jalur berbeda yang efeknya bergantung pada kondisi biologis sekitar. "Minyak ikan ada di mana-mana, dan orang-orang meminumnya untuk berbagai alasan, seringkali tanpa pemahaman jelas tentang efek jangka panjangnya," ujar Albayram.

Bukti dari Laboratorium hingga Jaringan Manusia

Penelitian ini menggunakan tiga metode pendekatan untuk memperkuat temuan:

  • Model Hewan: Tikus yang diberi suplemen minyak ikan jangka panjang menunjukkan performa belajar spasial yang lebih buruk dan penumpukan protein tau pada pembuluh darah setelah mengalami benturan kepala ringan.
  • Sel Manusia: Uji coba pada sel endotel pembuluh darah otak manusia menunjukkan bahwa EPA (bukan DHA) menurunkan kapasitas perbaikan dinding pembuluh darah.
  • Jaringan Pasien CTE: Analisis pada jaringan otak pasien Chronic Traumatic Encephalopathy (CTE), kondisi degeneratif akibat cedera kepala berulang, menunjukkan adanya gangguan keseimbangan asam lemak yang serupa.

"Dalam kondisi otak yang sensitif, suplementasi minyak ikan jangka panjang mengungkap kerentanan yang tertunda," kata Albayram. Ia menambahkan bahwa EPA tampak "memprogram ulang" respons genetik yang seharusnya mendukung perbaikan pembuluh darah, malah menjadi penghambat.

Bukan Larangan Total, Tapi Peringatan

Meski temuan ini mengejutkan, Dr. Albayram menegaskan bahwa ini bukan berarti minyak ikan adalah racun universal. Ia menekankan pentingnya nutrisi presisi yang disesuaikan dengan kondisi medis seseorang.

"Saya tidak mengatakan minyak ikan itu baik atau buruk secara universal. Data kami menyoroti bahwa biologi itu bergantung pada konteks. Kita perlu memahami bagaimana suplemen ini berperilaku di dalam tubuh dari waktu ke waktu, daripada berasumsi efek yang sama berlaku untuk semua orang," tegas Albayram.

Tim peneliti berencana melanjutkan studi untuk memetakan bagaimana EPA didistribusikan dalam tubuh. Temuan ini diharapkan menjadi titik awal bagi masyarakat dan praktisi medis untuk lebih berhati-hati dalam penggunaan suplemen omega-3, terutama bagi atlet atau individu yang berisiko tinggi mengalami trauma kepala. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya