Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
OTAK merupakan organ paling penting dalam tubuh manusia. Ia mengatur semua fungsi, mulai dari berpikir, bergerak, belajar, hingga mengatur emosi. Namun, tanpa disadari, pola makan yang salah justru bisa merusak kesehatannya.
Berbagai penelitian menunjukkan beberapa jenis makanan dapat mempercepat penurunan fungsi otak, bahkan meningkatkan risiko gangguan kognitif seperti demensia atau Alzheimer.
Mengutip dari laman healthline, berikut tujuh jenis makanan yang sebaiknya dibatasi karena bisa berdampak negatif pada kesehatan otak.
Minuman manis seperti soda, minuman energi, jus buah kemasan, dan minuman olahraga ternyata bisa menurunkan kemampuan berpikir. Kandungan gula dan sirup jagung fruktosa tinggi (HFCS) di dalamnya dapat merusak hippocampus, bagian otak yang berperan dalam pembelajaran dan memori.
Penelitian pada 2023 menemukan orang yang mengonsumsi gula berlebih dua kali lebih berisiko mengalami demensia dibanding yang mengonsumsi lebih sedikit. Sebagai gantinya, pilihlah air putih berkarbonasi, teh tanpa gula, atau jus sayuran segar untuk menjaga otak tetap sehat.
Karbohidrat olahan seperti roti putih, kue, biskuit, nasi putih, dan sereal manis dicerna sangat cepat oleh tubuh. Akibatnya, kadar gula darah melonjak dan menurunkan fungsi otak.
Penelitian menunjukkan konsumsi jangka panjang makanan jenis ini dapat memengaruhi hippocampus dan korteks prefrontal, bagian otak yang penting untuk pengambilan keputusan, memori, dan perilaku sosial. Selain itu, karbohidrat olahan juga bisa memicu peradangan dan mengganggu hubungan antara usus dan otak (gut-brain axis).
Lemak trans, terutama yang dibuat secara industri seperti margarine, shortening, kue kemasan, dan snack siap saji, dapat memperburuk fungsi otak.
Beberapa penelitian lama menunjukkan konsumsi tinggi lemak trans bisa menurunkan daya ingat dan kemampuan mengingat kata pada orang di bawah usia 45 tahun.
Kabar baiknya, FDA telah membatasi penggunaan lemak trans buatan pada produk makanan. Namun kita tetap perlu berhati-hati terhadap produk olahan yang masih mengandungnya.
Ini dia yang paling sering dikonsumsi banyak orang tanpa sadar. Makanan ultra-proses seperti keripik, mi instan, nugget, sosis, popcorn instan, pizza beku, dan makanan siap saji kaya akan lemak, gula, garam, dan pengawet.
Sebuah penelitian menemukan jika lebih dari 20% total kalori harian berasal dari makanan jenis ini, risiko penurunan kemampuan berpikir meningkat secara signifikan. Tak hanya itu, makanan ultra-proses juga dapat mengecilkan hippocampus dan mengurangi volume materi abu-abu di otak, area yang berperan dalam memori dan emosi.
Aspartam adalah pemanis buatan yang banyak ditemukan pada produk bebas gula seperti soda diet atau pemanis sachet. Meski dianggap aman dalam jumlah kecil, konsumsi berlebihan bisa memicu gangguan seperti mudah marah, stres, cemas, hingga kesulitan belajar.
Hal ini karena kandungan fenilalanin pada aspartam dapat menembus penghalang darah-otak dan mengganggu produksi neurotransmiter. Konsumsi dalam jumlah sedang tidak berbahaya, tapi hindari penggunaannya secara rutin dalam dosis tinggi.
Dalam jumlah kecil, alkohol memang bisa menjadi pelengkap saat bersantai. Jika dikonsumsi berlebihan, alkohol dapat merusak sel otak dan menurunkan fungsinya secara permanen.
Penggunaan alkohol jangka panjang terbukti menyebabkan penyusutan otak (atrofi), mengganggu area penting seperti korteks prefrontal dan cerebellum, yang berperan dalam berpikir, mengatur emosi, hingga menjaga keseimbangan tubuh.
Beberapa ikan laut besar seperti hiu, tuna, ikan pedang, dan king mackerel mengandung merkuri, yaitu logam berat yang dapat merusak sistem saraf. Setelah masuk ke tubuh, merkuri bisa menembus penghalang darah-otak dan mengganggu fungsi saraf serta perkembangan otak, terutama pada janin dan anak-anak.
Namun, tidak semua ikan berbahaya. Sebaliknya, banyak ikan yang justru kaya nutrisi, seperti salmon, sarden, ikan teri, udang, dan lele, yang tinggi omega-3 dan baik untuk kesehatan otak. (Healthline/Z-2)
Riset terbaru menunjukkan makanan ultra-proses (UPF) seperti camilan kemasan tidak hanya berdampak pada fisik, tapi juga merusak kemampuan konsentrasi otak.
Penelitian terbaru mengungkap asam lemak EPA dalam minyak ikan justru bisa menghambat pemulihan cedera otak ringan dan memicu penurunan kognitif.
Kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko demensia seperti Alzheimer.
Studi University College London menunjukkan olahraga meningkatkan protein BDNF yang berperan penting dalam fungsi otak, memori, dan kesehatan mental.
Terminal lucidity adalah lonjakan kesadaran sesaat sebelum meninggal. Ini penjelasan ilmiah, tanda-tanda, dan fakta medisnya.
Terminal lucidity adalah fenomena kejernihan mendadak sebelum kematian pada pasien demensia. Simak penjelasan, ciri, dan fakta ilmiahnya.
Peneliti temukan rasio neutrofil dalam darah berkaitan dengan risiko Alzheimer. Simak bagaimana tes darah biasa bisa jadi deteksi dini demensia sebelum gejala muncul.
Temukan bagaimana latihan beban atau resistance training dapat menurunkan risiko demensia dan Alzheimer berdasarkan temuan jurnal penelitian medis terbaru.
5 kebiasaan sehari-hari seperti kurang tidur hingga pola makan buruk diam-diam merusak otak dan meningkatkan risiko demensia, menurut studi ilmiah terbaru.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved