Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ALERGI makanan adalah reaksi abnormal yang terjadi ketika sistem imun tubuh salah mengenali asupan makanan tertentu sebagai ancaman. Lantas, bagaimana cara mengatasi gejala alergi makanan dengan cepat?
Beragam makanan dapat menjadi pemicu alergi, seperti telur, susu, makanan laut, kacang, gandum, serta beberapa sayuran dan buah yang spesifik. Konsumsi makanan tersebut baik secara sengaja maupun tidak, dalam jumlah sedikit atau banyak dapat menyebabkan sistem imun melepaskan histamin.
Pelepasan histamin dalam jumlah besar berujung pada reaksi negatif dari tubuh, memicu peradangan yang menimbulkan gejala alergi makanan. Gejala yang mungkin timbul antara lain hidung meler, gatal-gatal pada kulit, pembengkakan di bibir, lidah, dan mata, serta mual, muntah, dan diare. Pada beberapa individu, alergi makanan juga bisa menyebabkan sesak napas atau mengi.
Jika Anda sering mengalami reaksi tersebut dan telah didiagnosis dengan alergi, ada beberapa penanganan yang dapat dilakukan. Langkah-langkah ini bertujuan untuk mencegah gejala semakin parah hingga berujung pada anafilaksis.
Hal pertama yang perlu dilakukan saat merasakan gejala alergi makanan adalah mengonsumsi obat. Obat dapat membantu meredakan gejala dengan cepat dan efektif. Berikut beberapa jenis obat yang biasa direkomendasikan untuk menangani reaksi alergi makanan.
Bagi penderita alergi makanan, antihistamin adalah obat yang sebaiknya selalu tersedia. Obat ini berfungsi menghentikan produksi histamin yang menjadi penyebab gejala alergi. Beberapa contoh antihistamin yang umum adalah diphenhydramine, cetirizine, loratadine, dan fexofenadine. Obat-obatan ini dapat dibeli di apotek tanpa resep, meskipun dalam beberapa kasus mungkin memerlukan rekomendasi dokter.
Perhatikan efek samping umum dari antihistamin, seperti rasa mengantuk, sakit kepala, sakit perut, dan mulut kering. Pastikan untuk mengonsumsi obat sesuai petunjuk kemasan atau saran dari apoteker atau dokter. Meskipun antihistamin dapat menjadi obat andalan, tidak semua gejala dapat diredakan hanya dengan antihistamin. Anda mungkin memerlukan obat tambahan yang bekerja sama dengan antihistamin untuk meredakan gejala.
Kortikosteroid sering diresepkan dokter bersamaan dengan antihistamin untuk mengatasi alergi makanan. Obat ini efektif mengurangi gejala seperti hidung tersumbat, bersin, dan gatal yang disebabkan oleh alergi. Kortikosteroid juga bermanfaat dalam meredakan pembengkakan pada bibir, lidah, mata, serta bagian lain yang terkena reaksi alergi.
Beberapa contoh kortikosteroid yang umum digunakan untuk alergi makanan adalah:
Selain antihistamin dan kortikosteroid, dokter mungkin akan meresepkan dekongestan seperti pseudoephedrine jika alergi makanan menyebabkan hidung mampet dan ingusan. Obat ini tersedia dalam berbagai bentuk, termasuk pil, cairan, tetes, dan semprotan hidung.
Dekongestan berfungsi mengecilkan pembengkakan pada pembuluh darah di hidung, sehingga saluran napas menjadi lebih lancar. Namun, perlu diingat dekongestan tidak mampu meredakan gejala seperti bersin atau rasa gatal di hidung.
Dalam beberapa kasus, mengonsumsi makanan yang dapat memicu alergi, meski hanya sedikit, dapat menyebabkan reaksi yang sangat serius yang dikenal sebagai syok anafilaksis. Gejala syok anafilaksis dapat muncul dengan cepat dan intens, sehingga memerlukan penanganan segera. Kondisi ini berpotensi mengancam nyawa jika tidak segera diatasi, oleh karena itu diperlukan obat alergi khusus berupa suntikan epinefrin. Mereka yang memiliki alergi, khususnya terhadap kacang, sangat rentan terhadap syok anafilaksis.
Obat ini hanya dapat diresepkan oleh dokter spesialis dan tidak tersedia secara bebas di pasaran. Meskipun efek dari suntikan ini cepat terasa, durasinya tidak lama dalam mengatasi gejala alergi makanan yang parah. Jika Anda atau orang lain merasakan perbaikan setelah disuntik epinefrin, tetaplah untuk berkonsultasi dengan dokter guna memperoleh pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. (Hallo Sehat/Z-2)
Studi Herbalife mengungkap 88 persen konsumen Indonesia rutin konsumsi suplemen, namun banyak yang belum memahami dosis aman dan risiko interaksi obat.
Untuk mengatasi ketersediaan obat, strategi pertama adalah bagaimana menyediakan substitusinya.
Spesialis Paru RSPI Sulianti Saroso ingatkan pasien TB untuk konsisten minum obat guna membunuh kuman dorman dan mencegah resistensi obat yang berbahaya.
Pasien tuberkulosis disarankan segera berkonsultasi dengan dokter jika merasakan gejala ringan agar dapat diberikan penanganan yang tepat.
Sebagai obat pereda nyeri (analgesik), penggunaan tramadol wajib berada di bawah pengawasan tenaga medis.
Pengguna sering kali mengincar efek instan Tramadol berupa tubuh yang terasa lebih segar, peningkatan energi, hingga lonjakan suasana hati (mood) dan rasa percaya diri.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved