Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MERAH berarti berani dan putih berarti suci. Itulah arti singkat dari bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bendera yang berbentuk persegi panjang dengan lebar ⅔ itu menjadi atribut wajib untuk merayakan kemerdekaan Indonesia.
Bendera merah putih sejatinya lahir pada 7 September 1944. Kala itu Jepang berjanji kepada Indonesia untuk menggunakan haknya untuk merdeka. Namun lama sebelum itu, sekitar 1920-an, para pelajar, kaum nasionalis, dan pemuda Indonesia telah terlebih dahulu mengibarkan bendera merah putih ketika masa penjajahan Belanda. Lalu muncul larangan pengibaran bendera merah putih tersebut.
Pada masa-masa kerajaan, bendera berwarna merah dan putih juga digunakan sebagai lambang-lambang kerajaan. Berikut penggunaan bendera merah putih pada zaman kerajaan.
1. Kerajaan Majapahit. Bendera merah putih menjadi lambang kebesaran kerajaan.
2. Kerajaan Kediri. Penggunaan panji-panji berwarna merah putih untuk dikibarkan.
3. Sisingamaraja IX. Merah dan putih sebagai bendera perang dan warna pedang kembar pusaka.
4. Perang Aceh. Umbul-umbul berwarna merah dan putih bersama gambar pedang, matahari, bintang, bulan sabit, dan ayat suci Al-Qur'an di bagian belakang.
5. Kerajaan Bugis Bone. Bendera merah dan putih sebagai simbol kebesaran kerajaan.
6. Perang Jawa. Panji berwarna merah dan putih digunakan Pangeran Diponegoro saat berjuang mengalahkan Belanda.
Makna warna merah putih
Seperti yang sudah tertulis di atas, panitia bendera kebangsaan menggunakan warna merah dan putih yang masing-masing berarti berani dan suci. Selain arti tersebut, catatan sejarah mengungkapkan bahwa warna merah dan putih terinspirasi dari warna panji atau pataka bendera Kerajaan Majapahit pada abad ke-13, dilansir dari Kementerian Sekretariat Negara RI.
Kedua warna tersebut berhubungan dengan nilai budaya Indonesia. Seperti dalam tradisi Jawa, merah dan putih dilambangkan sebagai gula merah dan nasi putih yang merupakan bahan makanan pokok masyarakat Indonesia. Sebagai simbol negara, bendera merah putih adalah sarana memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara, menjaga kehormatan, kedaulatan, identitas, dan wujud eksistensi bangsa.
Panitia bendera kebangsaan dibentuk dari hasil sidang pada 12 September 1944. Panitia tersebut diketuai oleh Ki Hajar Dewantara dan beranggotakan Puradireja, Dr. Poerbatjaraka, Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat, Mr. Moh. Yamin, dr. Radjiman Wedyodiningrat, Sanusi Pane, KH. Mas Mansyur, PA Soerjadiningrat, dan Prof. Dr. Soepomo.
Setelah penentuan warna dan ukuran bendera, kain bendera dengan panjang 300 cm dan lebar 200 cm diantar ke Jalan Pegangsaan Nomor 56, Jakarta. Setelah kembali ke Jakarta dari pengasingan di Bengkulu, Fatmawati, istri Ir. Soekarno, menjahit kain tersebut dan akhirnya dikibarkan pada hari Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia 17 Agustus 1945.
Pengibaran tersebut dilakukan oleh Latief Hendraningrat dan Suhud. Pada 13 November 2014 bendera diukur ulang, yakni dengan panjang 276 cm dan lebar 199 cm. (OL-14)
Mendikdasmen menegaskan komitmennya dalam menjaga pelaksanaan TKA agar tetap kredibel, transparan, dan berintegritas di seluruh wilayah Indonesia.
WIC Jakarta sukses gelar Konferensi Biennial WCI ke-17. Fokus pada pemberdayaan perempuan, pendidikan, dan pelestarian warisan budaya di era transformasi.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk mengatasi kendala tersebut agar tidak terjadi di tahun berikutnya.
Dalam konteks ini, pendidikan vokasi seharusnya menjadi solusi strategis. Namun untuk memahami bagaimana seharusnya vokasi berfungsi, kita perlu melihat praktik terbaik global.
PRESIDEN Prabowo Subianto menyatakan komitmennya melakukan perbaikan besar-besaran sektor pendidikan, mulai dari renovasi fisik sekolah hingga penguatan kualitas pembelajaran.
President University mengukuhkan tiga Guru Besar baru: Prof. Anton Wachidin, Prof. Erwin Sitompul, dan Prof. Jhanghiz Syahrivar untuk perkuat riset nasional.
Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 di Bandung bukan sekadar nostalgia sejarah. Menurutnya, semangat tersebut merupakan agenda nyata yang tetap relevan untuk menjawab krisis global
Belanda mengembalikan tiga benda bersejarah kepada Indonesia. Ketiganya meliputi arca Dewa Siwa abad ke-13, batu berprasasti yang dikenal sebagai Prasasti Damalung, serta mushaf Al-Qur’an
PERAYAAN Imlek kini tidak lagi sembunyi-sembunyi. Imlek bahkan sudah menjadi bagian dari perayaan hari besar dan tradisi budaya masyarakat Indonesia yang multipluralis.
BPIP bekerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Indonesia (P3SI) menyelenggarakan Seminar Nasional Sejarah Pancasila
Bonnie Triyana meresmikan pameran revolusi di Jakarta yang menghadirkan narasi baru sejarah kemerdekaan lewat karya seni dan perspektif kemanusiaan.
DI tengah pesatnya transformasi digital saat ini, pergeseran juga terjadi di ruang narasi sejarah. Kondisi tersebut membuat narasi sejarah bertransformasi di ruang digital.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved