Sejarawan Soroti Relevansi Semangat KAA 1955 di Tengah Krisis Global

Akmal Fauzi
20/4/2026 20:24
Sejarawan Soroti Relevansi Semangat KAA 1955 di Tengah Krisis Global
Public Lecture bertajuk The Bandung Spirit: Reviving Global South Solidarity in a Time of Crisis di Gedung Merdeka, Bandung, Minggu (19/4).(Istimewa)

SEJARAWAN Vijay Prashad menegaskan bahwa semangat Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 di Bandung bukan sekadar nostalgia sejarah. Menurutnya, semangat tersebut merupakan agenda nyata yang tetap relevan untuk menjawab krisis global saat ini. Hal itu ia sampaikan dalam Public Lecture bertajuk The Bandung Spirit: Reviving Global South Solidarity in a Time of Crisis di Gedung Merdeka, Bandung, Minggu (19/4).

“Ini bukan nostalgia. Ini tentang menyelesaikan masalah hari ini,” kata Vijay Prashad.

Ia menilai, inti utama KAA bukanlah isu keamanan, melainkan persoalan ekonomi dan kedaulatan atas sumber daya. Sejak awal, kata Vijay, negara-negara Global South telah mempertanyakan mengapa kekayaan alam mereka terus mengalir ke luar negeri tanpa memberi manfaat maksimal bagi rakyatnya.

“Mengapa rakyat kita harus menggali kekayaan alam kita, lalu membiarkan kekayaan itu mengalir ke tempat lain? Mengapa kita tidak bisa mengolahnya sendiri, membangun industri kita, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat kita?” ujarnya.

Vijay juga menyoroti bahwa perdebatan tersebut masih berlangsung hingga kini, termasuk di Indonesia. “Di Indonesia hari ini Anda masih berdebat soal apa yang harus dilakukan dengan nikel Anda. Setelah 71 tahun, ini masih perdebatan yang sama,” katanya.

Menurut Vijay, kegagalan negara-negara berkembang dalam membangun kemandirian ekonomi tidak terlepas dari tekanan global yang menghambat upaya pembentukan tatanan ekonomi internasional baru pasca-Bandung.

“Ketika kita mencoba membangun agenda ekonomi sendiri, selalu ada intervensi. Lihat apa yang terjadi di Brasil, di Kongo, dan di Indonesia pada 1965,” ujarnya.

Ia menegaskan, pesan penting dari Bandung adalah bahwa negara-negara Global South tidak hanya memiliki hak untuk berbicara, tetapi juga hak untuk didengar dalam sistem internasional.

“Tidak ada gunanya berbicara jika tidak didengar. Untuk didengar, kita membutuhkan kekuasaan,” katanya.

Vijay juga mengkritik struktur global seperti Dewan Keamanan PBB yang dinilai tidak merepresentasikan negara-negara berkembang. “Tidak ada anggota tetap dari Afrika. Tidak ada dari Amerika Latin. Padahal mereka bagian besar dari dunia,” ucapnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya kedaulatan ekonomi, termasuk penguasaan atas sumber daya alam dan teknologi. Ia mencontohkan kebijakan China yang mewajibkan transfer teknologi dan investasi ulang sebagai syarat masuknya investasi asing.

“Mereka tidak hanya meminta investasi, tapi juga ilmu pengetahuan. Mereka memastikan keuntungan tidak keluar dari negara,” ujarnya.

Sebaliknya, ia menilai banyak negara berkembang justru membuka diri tanpa syarat. “Kita hanya bilang, silakan datang, ambil keuntungan, tanpa meminta transfer teknologi,” katanya.

Lebih jauh, Vijay mengkritik cara pandang pembangunan yang sempit, yang hanya diukur dari pembangunan fisik seperti mal dan bandara.

“Pembangunan bukan tentang mal atau bandara. Pembangunan adalah menghapus kemiskinan, memberi harapan, dan meningkatkan kehidupan rakyat,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Megawati Institute, Hilmar Farid, dalam pengantarnya mengatakan bahwa dunia saat ini tengah berada dalam situasi krisis. Namun, ia menekankan bahwa diskusi perlu diarahkan pada harapan dan kemungkinan, bukan sekadar keputusasaan.

“Kita ingin melihat dari sudut pandang yang berbeda, yaitu kemungkinan, harapan, dan perjuangan,” kata Hilmar.

Ia juga menekankan bahwa semangat Bandung perlu diterjemahkan ke dalam konteks kekinian, termasuk dalam menghadapi tantangan baru seperti krisis iklim.

“Diskusi hari ini mencoba menjembatani inspirasi dari 1955 dengan realitas hari ini,” ujarnya.

Hilmar menambahkan bahwa seni memiliki peran penting dalam gerakan sosial dan politik. “Seni bukan sekadar hiburan. Seni adalah bagian dari gerakan. Seni adalah denyut nadi politik,” katanya.

Acara ini menghadirkan Vijay Prashad sebagai pembicara utama dan dihadiri berbagai kalangan yang tertarik pada isu Global South dan solidaritas internasional. Kegiatan ini diinisiasi oleh Anggota DPR Fraksi PDIP Bonnie Triyana bersama Historia.id. Sebelum kuliah umum dimulai, grup band Usman Hamid and Black Stones turut memeriahkan acara dengan penampilan musik.

(P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya