Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DI masa pandemi covid-19 ini, kesehatan mental menjadi salah satu masalah yang dihadapi masyarakat, selain tetap menjaga kesehatan secara fisik. Banyak cara dilakukan untuk tetap sehat secara mental, mencoret-coret salah satunya.
Jika sebelumnya, sejumlah ahli mendefinisikan corat-coret sebagai bentuk lamunan proaktif karena dilakukan tanpa sengaja, baru-baru ini pakar kesehatan mental mengungkap tentang manfaat mencorat-coret bagi seseorang.
Dilansir Boldsky, menurut peneliti, kebiasaan mencorat-coret atau menggambar di kertas tanpa konsep ternyata bermanfaat bagi kesehatan mental. Apa saja itu? Berikut ini penjelasannya.
1. Membantu konsentrasi
Meski kedengarannya kontradiktif, sebuah penelitian menemukan bahwa setelah ceramah atau pertemuan, mereka yang mencoret-coret dapat mengingat lebih banyak informasi daripada yang bukan pencoret.
Para ahli menunjukkan bahwa corat-coret membantu Anda berkonsentrasi karena memerlukan upaya kognitif yang cukup untuk mencegah Anda melamun. Artinya, mencoret-coret membantu Anda lebih fokus dan tetap terlibat, menahan pikiran atau otak agar tidak melenceng.
2. Membantu memproses emosi
Beberapa penelitian setuju bahwa corat-coret atau ekspresi artistik dapat membantu individu menangani perasaan dan emosi mereka dengan cara yang lebih baik. Sama seperti membuat jurnal yang membantu Anda berhubungan dengan emosi dan perasaan, corat-coret juga dapat membantu Anda mengenali dan mengekspresikan emosi dengan lebih baik.
3. Mengurangi tingkat stres
Manfaat ini sejalan dengan praktik pemberian buku mewarnai kepada anak, sesuatu yang Anda ingat pernah dilakukan di taman kanak-kanak. Sama seperti manfaat buku mewarnai untuk menghilangkan stres yang telah terbukti membantu menenangkan amigdala, (bagian dari otak yang mengontrol respons melawan atau lari), corat-coret dapat membantu mengendalikan tingkat stres seseorang.
Pakar kesehatan mental menunjukkan bahwa gerakan berulang dari menggerakkan pena di sepanjang halaman membuat bentuk yang sama (berulang kali) dapat membuat rileks, dan karena corat-coret itu 'gratis', orang tidak perlu khawatir membuat 'kesalahan'.
4. Membantu belajar
Seperti yang telah dibuktikan bahwa corat-coret dapat membantu meningkatkan tingkat konsentrasi seseorang, itu juga dapat membantu belajar jadi lebih baik. Sebuah hasil studi menunjukkan bahwa individu yang mencoret-coret ketika merasa pikirannya melayang di kelas atau ruang pertemuan dapat mendapatkan kembali konsentrasinya.
5. Membantu meningkatkan kreativitas
Menurut para ahli, corat-coret dapat membantu merangsang area otak yang biasanya tetap tidak aktif, sehingga membantu Anda menganalisis informasi secara berbeda saat Anda 'menerangi berbagai jaringan di otak'. Mencoret-coret pada dasarnya adalah berpikir dalam gambar, dan membantu merangsang otak Anda.
Beberapa manfaat lain dari mencoret-coret adalah mengatur suasana hati dan perilaku adiktif (kompulsif) Anda, membantu mengingat kembali memori, pikiran dan tubuh lebih santai serta meningkatkan keterampilan dalam memecahkan masalah. (Ant/H-2)
Penelitian terbaru mengungkap sensasi "mistis" di gedung tua sering kali disebabkan oleh infrasonik dari pipa dan ketel uap, bukan makhluk halus.
Studi terbaru mengungkap ingatan manusia tidak akurat dalam melacak konsumsi alkohol. Simak mengapa catatan harian lebih efektif dibanding kuesioner medis biasa.
DI tengah tuntutan efisiensi dan produktivitas, perusahaan semakin mengandalkan pendekatan berbasis data dalam mengelola sumber daya manusia (SDM).
Pendekatan yang terlalu keras atau sepihak untuk membatasi penggunaan medsos justru berisiko membuat anak memberontak.
Studi PISA dan data global menunjukkan kemampuan kognitif Gen Z menurun di beberapa aspek. Apa penyebabnya dan keunggulannya?
Mengapa emosi bisa berujung kekerasan? Psikolog UGM & UI jelaskan peran Amigdala vs Prefrontal Cortex serta cara mencegah perilaku impulsif.
Secara ilmiah, stres berkaitan dengan respons tubuh terhadap tekanan yang dikenal sebagai fight or flight response, yaitu reaksi alami tubuh saat menghadapi ancaman
Psikolog klinis Teresa Indira Andani menjelaskan perbedaan mendasar antara emosi dan stres serta cara tepat mendampingi orang yang sedang tertekan.
STRES tidak selalu muncul dalam bentuk rasa tertekan atau sedih yang jelas.
Perjalanan mudik yang panjang dan melelahkan sering kali menjadi pemicu kekambuhan bagi penderita Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).
Stres tidak hanya memengaruhi mental tetapi juga penampilan. Dari jerawat hingga rambut rontok, berikut 10 perubahan pada wajah dan tubuh akibat stres.
Pelajari ciri-ciri stres fisik, psikologis, dan perilaku serta cara efektif menanggulanginya melalui koping proaktif, mindfulness, olahraga, dan intervensi sosial.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved