Mengapa Ingatan Kita Sering Salah Menilai Kebiasaan Minum Alkohol?

Thalatie K Yani
23/4/2026 13:30
Mengapa Ingatan Kita Sering Salah Menilai Kebiasaan Minum Alkohol?
Ilustrasi(freepik)

SAAT seseorang ditanya seberapa sering mereka merasa ingin minum alkohol dalam setahun terakhir, sebenarnya kita sedang meminta ingatan melakukan sesuatu yang tidak dirancang untuk itu. Ingatan manusia bukanlah alat perekam, melainkan seorang "pendongeng" yang cenderung menghaluskan sisi kasar, mendramatisir momen tertentu, dan melewatkan bagian yang dianggap membosankan.

Sebuah studi terbaru dari University of Washington menyoroti celah antara apa yang kita ingat dengan apa yang sebenarnya terjadi terkait konsumsi alkohol. Peneliti mengikuti 496 dewasa muda selama dua bulan dan meminta mereka melaporkan kebiasaan minum melalui ponsel sebanyak lima kali sehari setiap akhir pekan.

Celah Ingatan dalam Diagnosis

Selama ini, dokter mendiagnosis gangguan penggunaan alkohol (AUD) menggunakan kuesioner seperti AUDIT atau DSM-5 yang meminta pasien merangkum perilaku selama berbulan-bulan. Namun, proses ini sangat membebani otak karena seseorang harus menebak frekuensi kejadian, mengingat niat awal, hingga menyadari perubahan kecil yang terjadi perlahan.

"Beberapa ukuran retrospektif (mengingat masa lalu) sangat berkaitan dengan ukuran harian, tetapi ada juga yang kurang berhubungan," ujar Dani Kang, penulis utama studi ini. Rekan penulisnya, Kevin King, menambahkan, "Kita kehilangan separuh gambaran besarnya."

Momen Besar Lebih Mudah Diingat

Hasil studi menunjukkan bahwa manusia lebih baik dalam mengingat peristiwa nyata daripada perasaan internal. Gejala seperti perilaku berisiko, masalah sosial, absen dari tanggung jawab, dan waktu yang terbuang karena mabuk (hangover) tercatat cukup akurat dalam ingatan. Hal ini dikarenakan peristiwa tersebut bersifat gamblang, seperti pertengkaran atau bolos kerja.

Namun, gejala seperti keinginan kuat (craving) dan toleransi alkohol sangat sulit dilacak melalui ingatan. "Boleh dikatakan bahwa orang lebih baik dalam mengingat apa yang terjadi pada mereka daripada bagaimana perasaan mereka saat itu," kata King.

Misalnya, seseorang mungkin merasa sangat ingin minum pada malam hari, namun perasaan itu hilang keesokan paginya dan terlupakan saat mengisi survei beberapa bulan kemudian.

Pentingnya Pemantauan Real-Time

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Clinical Psychological Science ini tidak bermaksud membuang kuesioner medis yang sudah ada, melainkan menyarankan penggunaan alat bantu yang lebih tajam. Kuesioner medis menangkap pola jangka panjang, sementara catatan harian menangkap tekstur: kapan konsumsi terjadi dan dalam konteks apa hal itu dilakukan.

"Penilaian waktu nyata (real-time) dan retrospektif tidak dapat dipertukarkan karena keduanya memiliki kekuatan yang berbeda," jelas King. Ia memperingatkan bahwa hanya mengandalkan satu metode adalah bentuk "pandangan sempit metodologis."

Bagi individu yang ingin memahami atau mengelola kebiasaan minumnya, mencatat perilaku harian secara sederhana di ponsel dapat memberikan gambaran yang jauh lebih jujur dibandingkan hanya mengandalkan ingatan yang sering kali bias. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya