21/5/2023 22:05

Pembacaan Petisi Melawan Oligarki Kesenian

Para pekerja seni, budayawan, penyair, sastrawan dan praktisi seni yang tergabung dalam Forum Peserta Musyawarah Kesenian Jakarta membacakan Petisi Melawan Oligarki Kesenian  di Posko #SaveTIM, Cikini, Jakarta, Sabtu (21/05/2023). Pembacaan petisi di panggung Episode Budaya Tanding itu dibacakan oleh budayawan Romo Martin selaku budayawan senior.

Romo Martin menyatakan Petisi ini ditujukan untuk Akademi Jakarta (AJ) dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang berisi mosi tidak percaya atas sangkut marut dalam kegiatan berkesenian termasuk polemik seleksi kandidat anggota DKJ  periode 2023-2025 dan regulasi kesenian Jakarta yang dianggap mengkapitalisasi serta melekangkan kelompok tertentu agar “ceruk” kegiatan kesenian tetap terkuasai.

“ Arogansi AJ dalam pemilihan kandidat anggota DKJ periode 2023-2025 yang sewenang-wenang merubah urutan nama kandidat itu sungguh memalukan. Mereka telah mengkhianati kemufakatan musyawarah yang telah sesuai dengan ketentuan AD/ART. “ tandas Romo Martin.

Romo Martin menambahkan AJ yang semestinya tugasnya mengakomodir semua masukan tentang regulasi kesenian, program kesenian serta menjembatani kegiatan kesenian Jakarta justru dengan keras kepala menolak duduk bersama dengan para pekerja seni untuk menyelesaikan polemik tersebut. AJ beralasan bukan kewenangan dan keharusannya untuk beraudiensi dengan seniman.

 

Dalam acara pembacaan petisi itu hadir juga koordinator Forum Seniman Peduli TIM, Mujib Hermani yang turut mengkritisi kinerja anggota DKJ 2020-2023 dinilai lemah, arogan dan merusak ekosistem kesenian di Jakarta.

“Kinerja anggota DKJ periode ini adalah yang terburuk dibanding DKJ periode-periode sebelumnya. Mereka seenaknya membuat regulasi anggaran untuk kegiatan mereka, termasuk menentukan besaran gaji jajaran anggotanya yang menurutku lumayan fantastis. Kemudian mereka membuat program kegiatan regular dan hajatan besar, namun oknum-oknum anggota DKJ merangkap sebagai EO, kepala produksi, dan lain-lainya. In ikan kemaruk namanya. “ tegas Mujib.

“Atas dasar itulah maka kami membuat petisi ini dibuat untuk melawan oligarki kesenian di Jakarta.” Tutup Mujib. MI/Usman Iskandar/pay

Baca Juga