Daya PLTS Atap Naik 10 Kali Lipat Target 100 Gw

Media Indonesia
24/4/2026 10:47
Daya PLTS Atap Naik 10 Kali Lipat Target 100 Gw
(MI/HO)

INDONESIA menandai tonggak sejarah baru dalam transisi energi nasional melalui peluncuran 1,3 gigawatt (Gw) Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap pada Selasa, 21 April 2026. Langkah strategis ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PLN, dan Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI).

Ini merupakan simbol percepatan implementasi energi surya nasional. Kapasitas terpasang PLTS Atap Indonesia kini telah mencapai 1,3 Gw, tumbuh hampir 10 kali lipat dibandingkan posisi tahun 2024 yang hanya sebesar 146 megawatt (Mw). Capaian ini menjadi fondasi awal menuju visi ambisius pengembangan 100 Gw energi surya nasional.

Mendorong Agenda Strategis Nasional

Inisiatif ini merupakan bagian dari rangkaian Road to IndoSolar 2026, platform kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, industri, investor, hingga akademisi. Pengembangan PLTS Atap secara masif ini ditujukan untuk mendukung beberapa prioritas nasional, antara lain:

  • Implementasi RUPTL PLN 2025-2034 dan peningkatan bauran energi baru terbarukan (EBT).
  • Pengembangan 100 Gw tenaga surya melalui inisiatif berbasis desa dan koperasi.
  • Memperkuat daya saing industri nasional melalui energi efisien dan rendah emisi.
  • Menyiapkan infrastruktur bagi green industry dan green data center.
  • Memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin transisi energi di kawasan ASEAN.

Solusi Cepat dan Terdistribusi

PLTS Atap dinilai sebagai solusi paling strategis karena sifatnya yang modular dan dapat diterapkan dengan cepat di berbagai segmen, mulai dari rumah tangga, UMKM, hingga industri skala besar. Berdasarkan kajian IESR (2025), potensi Indonesia sangat melimpah, mencapai 165,9 Gw untuk PLTS darat dan 38,13 Gw untuk PLTS terapung.

Manfaat Ekonomi dan Lingkungan:

Direktur Jenderal EBTKE, Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan bahwa target 100 Gw ini berpotensi menciptakan sedikitnya 760.000 lapangan kerja baru (green jobs) di Indonesia. Selain itu, pengembangan ini berkontribusi langsung pada pengurangan emisi karbon dan penguatan rantai pasok manufaktur lokal.

Dukungan Regulasi dan Kemudahan Layanan

Akselerasi ini didorong oleh implementasi Permen ESDM Nomor 2 Tahun 2024 yang memperkuat ekosistem energi surya. Ketua Umum AESI, Mada Ayu Habsari, menegaskan bahwa energi surya kini telah menjadi kebutuhan strategis nasional, didukung oleh 135 anggota asosiasi yang siap mempercepat skala industri.

Dari sisi operasional, PLN memberikan kemudahan bagi masyarakat melalui fitur perizinan PLTS Atap di aplikasinya. Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto, menjelaskan bahwa fitur ini memungkinkan pelanggan mengajukan permohonan dan memantau proses secara transparan dan user-friendly.

National Solar Transition Forum 2026

Sebagai bagian dari momentum ini, diselenggarakan pula National Solar Transition Forum 2026 pada 21-22 April. Forum ini membahas empat agenda kerja utama (task force) AESI:

  1. 100 GW Solar Vision: Peta jalan menuju target kapasitas besar.
  2. Independent Power Producer (IPP): Peran pengembang listrik swasta.
  3. Rooftop Solar: Optimalisasi pemanfaatan atap bangunan.
  4. Green Workforce: Penyiapan tenaga kerja terampil di sektor energi bersih.

Dengan kolaborasi yang konsisten antara pemerintah, PLN, dan dunia usaha, Indonesia optimistis menjadikan energi surya sebagai pilar utama pertumbuhan ekonomi hijau dan memperkuat kepemimpinan energi bersih di Asia Tenggara. (Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya