Investor Masih Bergantung Multi-Aplikasi, Platform Terpadu Jadi Solusi

Ihfa Firdausya
24/4/2026 00:09
Investor Masih Bergantung Multi-Aplikasi, Platform Terpadu Jadi Solusi
Ilustrasi(Istimewa)

KEBIASAAN investor menggunakan lebih dari satu aplikasi untuk mengelola berbagai instrumen keuangan masih menjadi tantangan di industri investasi digital. Fragmentasi layanan ini tidak hanya menyulitkan pengelolaan portofolio, tetapi juga menciptakan inefisiensi dalam proses transaksi dan pemantauan aset.

Menangkap celah tersebut, platform investasi multi-aset resmi meluncurkan fitur perdagangan saham Indonesia. Melalui fitur ini, pengguna kini dapat mengakses pasar domestik dan global dalam satu aplikasi terpadu.

Produk Saham Indonesia yang diluncurkan memungkinkan pengguna mengakses lebih dari 950 saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), termasuk saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BREN, dan GOTO. Kehadiran fitur ini melengkapi layanan yang telah tersedia sebelumnya, seperti saham Amerika Serikat, aset kripto, emas digital, reksa dana, hingga instrumen derivatif seperti crypto futures dan options.

Co-Founder perusahaan, Claudia Kolonas, mengatakan bahwa peluncuran ini merupakan langkah untuk menjembatani kesenjangan antara akses investasi domestik dan global sekaligus menyederhanakan pengalaman pengguna.

"Selama ini, ada jarak antara pasar modal domestik dan peluang diversifikasi global. Kami hadir untuk menutup kesenjangan (close the gap) itu. Dengan menghadirkan produk Saham Indonesia langsung pada satu aplikasi, kami tidak hanya menambah akses diversifikasi, tapi kami membangun infrastruktur di mana 13 juta pengguna terdaftar kami dapat mengelola seluruh masa depan finansial mereka dalam satu genggaman. Ini adalah standar baru bagi super-app investasi di Asia Tenggara," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (23/4).

Sebagai bagian dari peluncuran, perusahaan juga menghadirkan sejumlah fitur yang ditujukan untuk meningkatkan kemudahan dan efisiensi bagi investor. Pengguna baru berkesempatan memperoleh bonus saham hingga Rp300.000 setelah menyelesaikan proses top up dan transaksi saham Indonesia. Selain itu, fitur unified portfolio memungkinkan investor melakukan rebalancing portofolio secara instan antar aset, baik dari instrumen global seperti saham AS dan kripto ke saham Indonesia maupun sebaliknya, tanpa perlu memindahkan dana antar-platform.

Dari sisi biaya, perusahaan menawarkan skema transaksi yang kompetitif, termasuk promosi biaya perdagangan 0% (syarat dan ketentuan berlaku). Langkah ini ditujukan untuk menekan hambatan biaya, terutama bagi investor ritel yang baru memulai perjalanan investasinya.

Peluncuran produk ini hadir di momentum yang dinilai krusial bagi pasar modal Indonesia. Seiring dengan penyesuaian bobot indeks MSCI yang menekankan kriteria free float sebesar 15%, likuiditas pasar diperkirakan akan meningkat signifikan. Kondisi ini berjalan seiring dengan tren pertumbuhan investor domestik.

Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan jumlah Single Investor Identification (SID) meningkat 37% hingga menembus lebih dari 20 juta investor pada akhir 2025. Pertumbuhan ini menandakan semakin luasnya partisipasi masyarakat dalam pasar modal.

Claudia menilai, partisipasi investor ritel akan menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas pasar ke depan. "Di tengah gelombang baru ini, partisipasi investor ritel akan menjadi penentu utama stabilitas pasar. Perusahaan hadir untuk menjembatani partisipasi tersebut dengan menyediakan infrastruktur yang lebih inklusif, memudahkan jutaan investor baru untuk masuk ke pasar ekuitas domestik secara aman dan efisien," katanya.

Saat ini, perusahaan mengklaim telah melayani hampir 13 juta pengguna dengan akses ke lebih dari 2.000 aset investasi. Dengan peluncuran Saham Indonesia, perusahaan memperkuat posisinya sebagai platform wealth-tech yang mengintegrasikan berbagai kelas aset dalam satu ekosistem terpadu.

Dari sisi keamanan, perusahaan menegaskan seluruh layanan berada di bawah pengawasan otoritas terkait. Produk dan layanan tertentu disediakan oleh entitas dalam grup yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan Bank Indonesia (BI).

Dengan pendekatan integrasi lintas aset, perusahaan berupaya mengurangi kompleksitas pengelolaan investasi sekaligus mendorong inklusi keuangan di Indonesia. (E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Mirza
Berita Lainnya