BI Harus Gandeng Pemerintah Intervensi Pelemahan Rupiah

Irvan Sihombing
23/4/2026 18:15
BI Harus Gandeng Pemerintah Intervensi Pelemahan Rupiah
Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS.(Antara/Dhemas Reviyanto)

BANK Indonesia (BI) didesak untuk memperkuat kolaborasi dengan pemerintah guna mengatasi tren pelemahan nilai tukar rupiah melalui bauran kebijakan yang taktis dan terukur. Sinergi kedua otoritas tersebut sangat krusial di tengah meningkatnya tekanan eksternal.. 

Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo menilai Bank Indonesia (BI) perlu memperkuat langkah intervensi pelemahan rupiah dengan dukungan kebijakan pemerintah yang lebih terkoordinasi, taktis, dan terukur.

Menurutnya, BI diperkirakan akan terus melakukan intervensi ganda di pasar spot maupun pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dengan memanfaatkan cadangan devisa yang saat ini berada di kisaran 148 miliar dolar AS.

Selain itu, meski suku bunga acuan masih ditahan di level 4,75 persen, Sutopo menyebut ruang penyesuaian kebijakan moneter tetap terbuka apabila tekanan inflasi impor mulai mengganggu stabilitas ekonomi domestik.

“Sementara pemerintah perlu memperketat disiplin fiskal guna menjaga kepercayaan investor jangka panjang,” ujar Sutopo di Jakarta, Kamis.

Nilai tukar rupiah pada Kamis siang tercatat melemah 123 poin atau 0,72 persen menjadi Rp17.304 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.181 per dolar AS.

Sutopo menjelaskan pelemahan rupiah dipicu kombinasi tekanan eksternal dan kerentanan domestik, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi global serta penguatan dolar AS sebagai aset safe haven.

Kondisi tersebut diperparah oleh ketergantungan Indonesia terhadap impor energi, tingginya harga minyak dunia, serta arus modal keluar akibat meningkatnya sentimen penghindaran risiko (capital outflows).

Ia menambahkan durasi tekanan terhadap rupiah sangat bergantung pada perkembangan konflik global dan arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Selama ketidakpastian global masih tinggi, rupiah diperkirakan tetap berada dalam tekanan jangka pendek hingga menengah.

Meski demikian, Sutopo menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen pada 2026.

“Stabilitas diperkirakan baru akan kembali setelah ketegangan global mereda dan pasar mulai melihat titik terang normalisasi harga komoditas energi dunia,” ujarnya. (Ant/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya