Rupiah Melemah ke Rp17.105, Ancaman Konflik AS-Iran Guncang Pasar

 Gana Buana
07/4/2026 17:24
Rupiah Melemah ke Rp17.105, Ancaman Konflik AS-Iran Guncang Pasar
Rupiah ditutup melemah ke Rp17.105 per dolar AS usai tensi AS-Iran meningkat.(Dok. Antara)

NILAI tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Selasa sore, terseret naiknya kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Tekanan geopolitik yang meningkat membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko dan kembali memburu dolar AS.

Pada penutupan perdagangan, rupiah turun 70 poin atau 0,41% ke posisi Rp17.105 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp16.980 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah kali ini tidak lepas dari meningkatnya tensi di Timur Tengah, terutama menjelang tenggat waktu yang diberikan Presiden AS Donald Trump kepada Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Menurut dia, pasar kini bersiap menghadapi skenario terburuk. Gangguan terhadap jalur kapal tanker dalam beberapa pekan terakhir telah memperketat proyeksi pasokan energi global dan mengerek premi risiko, terutama di pasar minyak.

Iran, lanjut Ibrahim, menolak proposal AS yang mencakup gencatan senjata selama 45 hari dan pembukaan Selat Hormuz secara bertahap, sembari membahas negosiasi lebih luas mengenai pencabutan sanksi dan rekonstruksi. Sebaliknya, Teheran menuntut penghentian konflik secara permanen, jaminan yang mengikat agar serangan tidak terulang, pencabutan sanksi, serta kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan.

Di sisi lain, Trump disebut menegaskan bahwa tenggat waktu pada Selasa bersifat final. Jika Iran tidak mematuhi, Washington disebut membuka kemungkinan serangan terhadap infrastruktur penting Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan. Pernyataan itu memperjelas bahwa risiko konflik yang lebih luas kini bukan lagi ancaman samar, melainkan faktor nyata yang mulai dihitung pasar.

Ketegangan tersebut dinilai telah mengganggu persepsi stabilitas pasokan energi dunia. Imbasnya, harga minyak terdorong naik, kekhawatiran inflasi kembali mencuat, dan ruang gerak bank sentral, termasuk The Fed, menjadi semakin rumit.

Selain faktor geopolitik, investor juga masih menahan posisi menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat pada Jumat. Data itu dinilai krusial karena akan menjadi petunjuk baru bagi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Sejalan dengan pelemahan rupiah di pasar spot, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga turun ke level Rp17.092 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.037 per dolar AS. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya