Impor Minyak Rusia Bisa Pangkas Beban Negara

Insi Nantika Jelita
13/4/2026 19:51
Impor Minyak Rusia Bisa Pangkas Beban Negara
Pemandangan sebuah SPBU milik perusahaan minyak Rusia Tatneft di Moskow pada 10 Maret 2025.(Natalia KOLESNIKOVA / AFP)

PENGAMAT energi dari Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menilai rencana pembelian minyak dari Rusia berpotensi memberikan penghematan signifikan bagi keuangan negara. Presiden Prabowo Subianto didampingi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melakukan kunjungan ke Rusia pada Minggu (12/4). Sebelumnya pemerintah membuka opsi impor minyak dari negara tersebut.

Menurut Yayan, pembelian minyak Rusia dirancang untuk menggantikan sekitar 20% pasokan dari Timur Tengah, dengan potensi efisiensi harga sebesar 10–15% di bawah harga internasional. Dengan skema tersebut, Indonesia dinilai dapat menghemat anggaran energi secara cukup berarti, terutama di tengah ketidakpastian global saat ini. Ia pun mendorong agar rencana tersebut segera direalisasikan.

"Jadi, kita bisa berhemat lumayan. Saya kira ditengah ketidakpastian tersebut segera di lakukan eksekusi," kata Yayan kepada Media Indonesia, Senin (13/4).

Di sisi lain, Indonesia saat ini juga masih mengandalkan impor dari Amerika Serikat yang mencapai sekitar 21% dari total konsumsi. Yayan menilai kombinasi pasokan dari Rusia dan AS tidak menjadi masalah, mengingat kualitas minyak Rusia dinilai baik. 

Namun, ia mengingatkan proses pengolahan di kilang harus optimal karena terdapat karakteristik tertentu yang memerlukan penyesuaian teknis dan pembiayaan.

Dengan kombinasi pasokan dari Rusia dan AS, Yayan memperkirakan Indonesia dapat mengamankan stabilitas pasokan hingga sekitar 41%. 

"Sementara itu, sekitar 20% sisanya masih dapat dipenuhi dari sumber negara lain untuk menjaga diversifikasi energi," ucapnya.

Terkait potensi penghematan, Yayan tidak dapat memastikan apakah hal tersebut akan langsung menurunkan beban subsidi BBM atau dialihkan ke pos anggaran lain. Namun, ia menilai secara ideal efisiensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk pengembangan infrastruktur kilang dalam negeri.

Adapun mengenai risiko sanksi sekunder (secondary sanctions) jika Indonesia impor minyak mentah dari Rusia, Yayan mengakui hal tersebut tetap ada. Meski demikian, ia melihat Indonesia saat ini juga menjaga hubungan geopolitik dengan Amerika Serikat, sehingga diperlukan kehati-hatian dalam mengambil langkah. 

Menurutnya, pemerintah perlu menimbang secara cermat agar kebijakan energi tetap aman secara ekonomi sekaligus tidak menimbulkan tekanan geopolitik yang berlebihan.

"Hal ini harus hati-hati. Tapi saya kira AS akan maklum karena gara-gara mereka juga kita terpaksa mengimpor minyak dari Rusia," kata Yayan.. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya