Sentimen Global Pulih, IHSG Melonjak 6,14 Persen dalam Sepekan

Insi Nantika Jelita
13/4/2026 10:35
Sentimen Global Pulih, IHSG Melonjak 6,14 Persen dalam Sepekan
Ilustrasi.(Freepik)

DALAM sepekan perdagangan dan trading saham 6-10 April 2026 indeks harga saham gabungan (IHSG) mencatatkan rebound signifikan dengan penguatan sebesar +6,14%, berbalik arah setelah tekanan pada pekan sebelumnya.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah menjelaskan, kinerja positif ini didorong oleh meredanya tensi geopolitik global seiring kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran selama dua minggu.

"Serta, dibukanya kembali jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi katalis utama perbaikan sentimen risiko di pasar global," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (13/4).

Meskipun demikian, imbuh Hari, partisipasi investor asing masih cenderung berhati-hati, tercermin dari aliran dana keluar (net sell) sebesar Rp3,3 triliun di pasar reguler sepanjang periode tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa penguatan IHSG lebih ditopang oleh aliran dana domestik serta rotasi pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Dari sisi pergerakan sektoral, penguatan indeks secara dominan ditopang oleh rally signifikan pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), yakni Barito Renewables Energy Tbk (BREN), Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang memberikan efek pengganda terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan. 

Kenaikan pada saham-saham tersebut turut mendorong peningkatan risk appetite investor domestik dan memicu penguatan lanjutan pada saham-saham lainnya.

"Secara keseluruhan, pergerakan IHSG dalam sepekan terakhir mencerminkan pergeseran sentimen pasar menuju risk-on, meskipun masih dibayangi oleh kehati-hatian investor asing," jelas Hari. 

Ke depan, tren ini akan sangat bergantung pada stabilitas geopolitik global serta konsistensi aliran dana domestik dalam menopang pasar.

Berbicara tentang potensi pergerakan market pada sepekan ke depan (13-17 April 2026), Hari mengimbau para trader dan investor mencermati sejumlah sentimen dari global dan domestik. 

Tanpa ada kesepakatan AS-Iran, pasar mulai mengantisipasi kemungkinan pengetatan suplai yang dapat mendorong harga energi tetap tinggi, sehingga berpotensi menahan laju penurunan inflasi global dan mempersempit ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat.

Di sisi lain, ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan Federal Reserve juga kembali menjadi lebih hawkish, seiring risiko inflasi berbasis energi yang masih tinggi. Hal ini berpotensi menjaga yield obligasi AS tetap elevated dan menjadi tekanan tambahan bagi aset berisiko, khususnya saham berbasis growth yang sensitif terhadap suku bunga.

Secara keseluruhan, Hari menilai dinamika ini mendorong investor global untuk kembali mengadopsi sikap risk-off dalam jangka pendek, dengan potensi rotasi ke aset safe haven seperti dolar AS dan komoditas energi. 

Volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi dalam sepekan ke depan, dengan arah pergerakan sangat bergantung pada perkembangan lanjutan dari negosiasi geopolitik serta sinyal kebijakan moneter global.

Sementara itu dinamika domestik diperkirakan akan dipengaruhi oleh dua katalis utama, yakni potensi penyesuaian harga BBM nonsubsidi serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang saat ini tertekan di kisaran 17.000 terhadap dolar AS. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya