Rupiah Melemah, Pasar Tunggu Kepastian Gencatan Senjata AS-Iran

Irvan Sihombing
09/4/2026 17:33
Rupiah Melemah, Pasar Tunggu Kepastian Gencatan Senjata AS-Iran
Ilustrasi(Antara)

NILAI tukar rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Kamis, turun 78 poin menjadi Rp17.090 per dolar AS, seiring sikap wait and see pelaku pasar terhadap kepastian implementasi kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Research & Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Tiffani Safinia menilai pelemahan mata uang Garuda dipengaruhi sikap menunggu pelaku pasar terhadap kepastian implementasi kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

"Pasar masih menunggu kepastian implementasi kesepakatan tersebut, termasuk pembukaan jalur strategis energi global," ucapnya di Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Mengutip Anadolu, Amerika Serikat sebelumnya menerima proposal berisi 10 poin yang menjadi dasar negosiasi untuk mengakhiri konflik. Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) melaporkan proposal tersebut mencakup jaminan tidak adanya agresi terhadap Iran, kelanjutan kontrol Iran atas Selat Hormuz, pengakuan hak Teheran dalam pengayaan uranium, serta pencabutan seluruh sanksi utama dan sekunder AS.

Selain itu, proposal juga memuat penghentian resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional terhadap Iran, pembayaran kompensasi, penarikan pasukan tempur AS dari kawasan, serta penghentian permusuhan di berbagai front, termasuk di Lebanon.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menegaskan pembicaraan tersebut belum menandai berakhirnya perang. Setiap kesepakatan akhir, menurut mereka, bergantung pada terpenuhinya seluruh syarat Iran serta penyelesaian teknis secara rinci.

Selama periode negosiasi, jalur aman melalui Selat Hormuz disebut akan dijamin melalui koordinasi dengan angkatan bersenjata Iran.

Namun situasi geopolitik tetap memanas setelah Israel melancarkan serangan udara besar-besaran di kawasan Dahiyeh, Beirut selatan, Lebanon. Militer Israel menyatakan telah menyerang lebih dari 100 lokasi dalam waktu 10 menit di Beirut, Lembah Beqaa, dan Lebanon selatan, dengan total korban wafat mencapai 254 orang.

Mengutip Sputnik, Wakil Presiden AS JD Vance pada Rabu (8/4) menyatakan penghentian permusuhan di Lebanon bukan bagian dari kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran dan menyebut isu tersebut sebagai "kesalahpahaman".

Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga menegaskan konflik di Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan karena melibatkan kelompok Hizbullah dan dinilai sebagai "bentrokan terpisah."

"Meskipun terdapat perkembangan positif berupa kesepakatan gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran, pasar menilai dampaknya masih bersifat sementara dan belum mampu memberikan sentimen risk-on yang kuat," ungkap Tiffani.

Ia menambahkan tekanan utama berasal dari ketidakpastian kawasan Asia Barat, terutama terkait kondisi Selat Hormuz yang belum sepenuhnya normal. Situasi tersebut menjaga harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global, sehingga mendorong penguatan dolar AS dan menekan rupiah.

"Sementara itu, dari sisi domestik, sentimen terhadap rupiah masih cenderung terbatas. Beberapa faktor seperti melambatnya kinerja ekspor, tekanan terhadap cadangan devisa akibat intervensi, serta kekhawatiran terhadap fiskal dan defisit anggaran turut menahan penguatan rupiah," kata dia.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama juga tercatat melemah ke level Rp17.082 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.009 per dolar AS. (Ant/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya