Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Di tengah tekanan pasar yang terjadi saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah dan mayoritas sektor industri bergerak turun, investor perlu memilih saham-saham yang dinilai menarik dan memiliki kinerja baik. ”Kalau kondisi seperti ini, investor memilih saham yang menarik. Salah satunya KRAS,” kata Riska di Jakarta hari ini.
Ia mencontohkan pada penutupan perdagangan 2 April lalu, saham milik PT Krakatau Steel (Persero) Tbk itu justru mencatatkan penguatan.
Riska sependapat penguatan saham KRAS memang menarik. Mengingat, bahwa pelemahan IHSG saat ini bersifat luas dan dipengaruhi sentimen global. Bukan hanya ketidakpastian geopolitik, melesatnya harga crude oil, dan terus melemahnya mata uang Rupiah. Bahkan, menurut Riska, pelemahan IHSG juga ditandai dengan penurunan saham-saham LQ45.
”Saya lihat memang lebih kompleks. Bahkan saham blue chip juga dijual, ini kan menimbulkan kekhawatiran signifikan. Jadi, panic selling pada investor.” jelas Riska.
Karena itulah, Riska sependapat pergerakan KRAS menunjukkan dinamika berbeda. Apalagi, saham sektor industri juga mengalami penurunan 2,23% pada penutupan perdagangan minggu lalu.
Riska setuju penguatan saham KRAS mencerminkan adanya minat beli yang lebih selektif dari investor, yang mulai melihat potensi jangka menengah hingga panjang dari proses transformasi yang tengah berlangsung di dalam perusahaan.
Bahkan, kata Riska, dalam situasi pasar yang cenderung defensif, saham dengan karakteristik turnaround story seperti KRAS kerap jadi alternatif bagi investor yang mencari peluang di luar pergerakan pasar secara umum.
”Kenaikan KRAS memang dipengaruhi faktor internal perusahaan, yang fundamental. Apalagi sekarang KRAS membaik, yang bisa dilihat dari laba 2025 yang naik signifikan. Dari rugi Rp2,8 T pada 2024 membalik menjadi untung Rp5,7 T pada 2026,” kata dia.
Terlebih, lanjut Riska, laba tersebut diperoleh melalui kinerja operasional. ”KRAS juga melakukan transformasi dan restrukturasi. Sekarang sudah jadi lebih sehat dan dari sisi efisiensi juga naik. Makanya, ini sebenarnya lebih pada faktor investor yang mulai percaya lagi terhadap saham KRAS,” jelasnya.
Termasuk di antaranya, strategi transformasi Krakatau Steel bertajuk KS Reborn. KS Reborn merupakan langkah visioner perusahaan untuk mengonversi dinamika volatilitas global dan disrupsi teknologi menjadi peluang pertumbuhan berkelanjutan. ”Manajemen KRAS kan juga bilang ini momentum kebangkitan,” imbuh Riska.
Dari sisi teknikal, Riska juga mengatakan, pergerakan KRAS yang tetap menguat di tengah tekanan pasar, mengindikasikan adanya fase akumulasi awal. Saham yang mampu bertahan dan bahkan menguat saat pasar melemah umumnya mencerminkan adanya keyakinan investor pada prospek perusahaan tersebut.
Mengenai kinerja positif KRAS, sebelumnya disampaikan Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Akbar Djohan.
Akbar menyampaikan perusahaan sukses membalikkan kinerja keuangan (financial turnaround) yang impresif pada tahun buku 2025. Hal ini antara lain ditandai dengan raihan laba bersih sebesar US$339,64 juta (setara Rp5,68 triliun).
"Kami sangat mensyukuri capaian ini sebagai bentuk amanah dari para pemangku kepentingan. Dukungan pendanaan dan kepercayaan dari Danantara menjadi pendorong utama bagi kami untuk terus berbenah. Laba ini adalah titik awal yang kami sikapi dengan rendah hati untuk terus memastikan keberlanjutan industri baja nasional," ujar Akbar Djohan.
Sementara itu, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Daniel Fitzgerald Liman menyebut harga saham KRAS mengalami pergerakan menggembirakan. Bahkan, kinerja historis KRAS juga bergerak sebesar 164% selama setahun terakhir, dengan rentang harga 52 minggu antara 102 dan 436. ”Ketika pekan lalu IHSG melemah, kami tetap stabil pada harga Rp314,” ujarnya.
Kondisi demikian, menurut Daniel, tak lepas dari kinerja finansial positif, yang sebagian besar merupakan kontribusi kinerja operasional perusahaan.
Selain membukukan laba bersih setara Rp5,68 triliun, kata Daniel, sepanjang 2025 Perseroan mampu membukukan pendapatan US$959,84 juta (Rp16,05 triliun). Total volume penjualan produk baja mencapai 944.562 ton, meningkat tajam sebesar 29,0% daripada tahun sebelumnya. Daniel menambahkan ketangguhan Krakatau Steel pada 2025 tidak hanya tercermin pada angka laba, tapi juga terlihat jelas dari struktur neraca yang kian sehat dan kokoh.
Perseroan berhasil memperkuat posisi keuangannya dengan mencatatkan total aset US$2,77 miliar atau setara Rp46,24 triliun. Di saat yang sama, komitmen perseroan dalam menyelesaikan kewajiban utang membuahkan hasil nyata, yakni total liabilitas berhasil ditekan turun sebesar 17,04% menjadi US$2,04 miliar (Rp34,11 triliun). (H-2)
IHSG hari ini dibuka menguat 0,34% ke posisi 7.096,61 pada sesi pembukaan Rabu (29/4). Indeks LQ45 juga terpantau naik ke level 684,88.
IHSG Selasa (28/4) pagi dibuka menguat 0,31% ke posisi 7.128,47. Simak analisis pergerakan pasar modal dan indeks LQ45 selengkapnya di sini.
IHSG Senin (27/4) pagi dibuka menguat 0,41% ke level 7.158,51. Simak analisis pergerakan pasar modal dan performa indeks LQ45 selengkapnya di sini.
IHSG diprediksi bergerak mendatar pekan ini (27-30 April 2026). Simak analisis Phintraco Sekuritas terkait dampak kebijakan The Fed, ECB, hingga BoJ.
Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pekan ini terlihat begitu babak belur. Indeks menunjukkan pelemahan signifikan sebesar 6,61%.
IHSG hari ini Kamis (23/4/2026) melemah 0,69% ke level 7.489,82. Simak analisis sentimen global, harga minyak, dan dampaknya terhadap pasar modal Indonesia.
IHSG ditutup melemah 0,48% ke level 7.072,39 pada Selasa (28/4/2026) akibat ketidakpastian konflik AS-Iran dan penantian hasil rapat FOMC The Fed.
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tetap memandang masa depan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan optimisme tinggi.
INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia menutup perdagangan Senin (27/4) di zona merah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved