Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KETIDAKPASTIAN ekonomi global membuat aktivitas merger dan akuisisi (M&A) segmen menengah atau mid-market melambat sepanjang 2025. Meski demikian, sejumlah transaksi yang sempat tertunda masih berada dalam antrean karena investor menunggu kondisi pasar yang lebih stabil sebelum mengeksekusi kesepakatan.
Laporan M&A Horizons 2026 yang dirilis oleh BDO menunjukkan bahwa perlambatan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan penurunan minat investasi. Banyak pemilik bisnis dan investor tetap mempertahankan rencana transaksi mereka, namun memilih bersikap lebih berhati-hati dalam menentukan waktu.
Di kawasan Asia Pasifik, transaksi mid-market justru semakin menjadi fokus investor private equity. Dibandingkan akuisisi besar, investor cenderung memilih transaksi dengan skala lebih kecil yang berorientasi pada peningkatan operasional perusahaan.
Di Asia Tenggara, nilai investasi private equity pada 2025 mencapai sekitar US$9,1 miliar melalui 59 transaksi.
Indonesia sendiri masih tergolong aktif dalam pasar M&A dengan nilai transaksi sekitar US$6,2 miliar dari 102 kesepakatan, mencerminkan minat investor yang tetap tinggi meski strategi investasi dilakukan lebih selektif. Menurut Partner Advisory BDO Indonesia, Marvin Camangeg, tren tersebut membuat investor semakin menuntut proses due diligence yang lebih mendalam sebelum mengambil keputusan investasi.
"Memastikan keandalan kinerja historis memang penting, namun menilai apakah pasar yang mendasarinya mampu menopang pertumbuhan di masa depan sama pentingnya. Dalam transaksi M&A, nilai terbesar sering muncul dari kemampuan mengidentifikasi bagaimana dinamika pasar dapat membuka peluang ekspansi di luar kinerja saat ini," ujar Marvin Camangeg.
Secara tradisional, proses due diligence dalam transaksi M&A berfokus pada pemeriksaan aspek keuangan, pajak, dan hukum untuk memastikan data historis perusahaan akurat. Namun pendekatan ini dinilai tidak lagi cukup, karena investor pada dasarnya membeli potensi pertumbuhan masa depan, bukan sekadar kinerja masa lalu.
Dalam konteks ini, analisis komersial atau commercial due diligence menjadi semakin penting. Proses tersebut menilai berbagai faktor eksternal seperti kondisi pasar, potensi pertumbuhan industri, tingkat persaingan, hingga stabilitas permintaan pelanggan.
"Hal ini semakin relevan di Indonesia, di mana percepatan adopsi digital, perubahan perilaku konsumen, serta perkembangan regulasi menuntut perusahaan untuk memastikan strategi bisnis yang mampu menjaga pertumbuhan jangka panjang. Evaluasi investasi yang komprehensif biasanya menggabungkan analisis keuangan dengan analisis komersial untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai prospek bisnis," tambah Marvin Camangeg.
Perubahan dinamika industri juga memperkuat kebutuhan analisis pasar yang lebih mendalam. Digitalisasi, perubahan rantai pasok global, serta pergeseran perilaku konsumen membuat siklus hidup model bisnis menjadi lebih pendek dan menambah risiko kesalahan dalam proyeksi pertumbuhan.
Dalam salah satu evaluasi transaksi manufaktur di Indonesia, misalnya, investor asing menemukan laporan keuangan perusahaan target yang stabil dengan margin sehat. Namun analisis komersial mengungkap ketergantungan bisnis pada sejumlah kecil pelanggan serta fluktuasi pesanan yang lebih tinggi dibandingkan tren pendapatan.
Temuan tersebut akhirnya memengaruhi valuasi perusahaan dan strategi pascaakuisisi yang dirancang investor. Pengalaman semacam ini menunjukkan bahwa keberhasilan akuisisi tidak hanya bergantung pada verifikasi laporan keuangan. Investor juga perlu memahami apakah model bisnis perusahaan mampu bertahan dalam dinamika pasar serta apakah proyeksi pertumbuhan yang menjadi dasar valuasi benar-benar realistis.
Di tengah meningkatnya kompleksitas pasar, investor yang menggabungkan analisis finansial dan komersial dalam proses evaluasi dinilai memiliki posisi yang lebih kuat untuk menangkap peluang di pasar mid-market, khususnya di Asia Tenggara yang masih berkembang. (E-4)
Di tengah dinamika pasar keuangan, kolaborasi antara manajer investasi dan perbankan menjadi langkah strategis untuk memperluas akses masyarakat terhadap instrumen investasi yang aman.
MSCI tunda rebalancing indeks Indonesia ke Juni 2026. Simak analisis dampak potensi outflow dana asing dan urgensi reformasi struktural BEI.
Pemerintah optimistis target investasi Rp2.041 triliun di 2026 tercapai. Realisasi awal tahun sudah Rp498,8 triliun, didorong minat kuat investor global.
SusHi Tech dirancang oleh Pemerintah Metropolitan Tokyo untuk mempertemukan inovator global dengan para investor.
Di saat dunia sudah berpindah ke teknologi kecerdasan buatan (AI) real-time trading, sebagian broker ritel di Indonesia masih bertahan dengan sistem trading saham lama.
Morgan Stanley Capital International (MSCI) kembali menahan perubahan bobot saham Indonesia dalam rebalancing indeks periode Mei 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved