Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERTAMINA Patra Niaga, Subholding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero) resmi menjual atau menyalurkan secara komersial produk bahan bakar minyak (BBM) ramah lingkungan BBM Ron 95 E5 (Bioethanol). Produk baru ini diberi nama Pertamax Green 95.
Pertamax Green Ron 95, berupa campuran komposisi BBM jenis Pertamax (Ron 92) dengan Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis bioetanol 5% (E5) berbasis tetesan tebu (molases) dengan nilai oktan (Ron) 95.
Produk BBM ini kini resmi dijual di harga Rp13.500 per liter di lima Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jakarta, yaitu SPBU SPBU MT haryono, SPBU Fatmawati Fatmawati 1 dan 2, SPBU Lenteng Agung dan SPBU Sultan Iskandar Muda. Selama ini uji coba penjualannya sudah dimulai di 10 titik di Jawa Timur.
Harga Pertamax Green 95 ini hanya selisih Rp500 dari Pertamax Turbo RON 98 yang dijual dengan harga Rp14.000, dan selisih Rp1.100 dari Pertamax Ron 92 yang seharga Rp12.400, dan selisih Rp50 dari Pertamax Dex yang seharga Rp13.550.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Subholding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero) Riva Siahaan mengatakan Pertamax Green 95 merupakan wujud implementasi dari komitmen perusahaan dalam mendukung strategi nasional Indonesia dengan target bauran energi terbarukan sebesar 31% di tahun 2050 serta mendukung tercapainya Net Zero Emission Indonesia pada 2060.
Bauran energi terbarukan bersumber dari molases tebu, yang diolah menjadi etanol kemudian di blending sebagai bagian dari bahan bakar minyak yang kemudian disalurkan ke kendaraan. Kandungan etanolnya sebesar 5%, kandungan bauran etanol ini aman dan masih sesuai dengan spesifikasi internasional.
Baca juga : Pertamina dan Duta SDGs Indonesia Billy Sumbang Solar Panel Aliri Listrik di SMKN 2 Dumai
Saat ini Pertamina fokus untuk penyaluran di Surabaya dan Jakarta dengan volume 400 liter per hari. Sebab melihat rata-rata tingkat permintaannya domestik untuk Pertamax Green Ron 95 masih sekitar 700-1.000 liter per hari
Terkait volume supply, supplier menyediakan kapasitas produksi 30 ribu kilo liter ethanol per tahun. Sedangkan volume etanol yang akan terpakai untuk Pertamax Green Ron 95 di Surabaya dan Jakarta sekitar 12 ribu kilo liter per tahun.
"Dengan kapasitas ketersediaan masih lebih dari 50%, maka pasokan sangat mencukupi. Kami akan fokus untuk ekspansi penyaluran di seluruh Pulau Jawa hingga 12 bulan ke depan,"
Baca juga : Produksi Bioavtur-SAF, Kilang Pertamina Dukung Pengurangan Emisi Karbon
Pertamina Patra Niaga akan terus memonitor bila ada pengembangan ataupun pasar yang cukup baik, untuk melanjutkan kerja sama dan penambahan dari sisi ethanol.
Untuk memastikan pengembangan Pertamax Green 95 ini bisa berjalan dengan maksimal, Riva menuturkan bahwa dukungan Pemerintah sangat diperlukan dalam hal regulasi yang mendorong pemanfaatan bioetanol, misalkan penetapan cukai ethanol hingga pengaturan formula harga jual.
“Pertamina Patra Niaga berharap dukungan Pemerintah ini bisa menjadi sinergi untuk mendorong perluasan dan pengembangan Pertamax Green 95 di seluruh wilayah Indonesia,” kata Riva. (Try/Z-7)
PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III) menjajaki kerja sama pengembangan bioetanol melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Pertamina Group dan Medco Group.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyampaikan pemerintah membuka peluang impor bioetanol dari Amerika Serikat untuk menutup kekurangan pasokan dalam negeri.
PT Pertamina Patra Niaga (PPN) meminta kemudahan regulasi pada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk mendapatkan insentif pembebasan cukai etanol
Pemerintah segera mempersyaratkan kandungan bioetanol 10% ke dalam bensin. Ini menjadi tantangan PT Energi Agro Nusantara (Enero) sebagai produsen bioetanol.
Kebijakan ini merupakan bagian dari visi Presiden Prabowo Subianto yang telah menyetujui mandatori campuran etanol sebesar 10% (E10).
Pengembangan bioetanol akan berperan penting mengurangi impor sehingga bisa menolong neraca perdagangan.
Direktur CELIOS menilai rencana kenaikan harga Pertamax 92 tepat untuk kurangi beban APBN, namun ingatkan risiko migrasi konsumsi ke Pertalite.
Pakar ITB ingatkan risiko mesin rusak dan biaya perbaikan belasan juta rupiah akibat mencampur atau menurunkan oktan BBM saat harga naik.
Pakar otomotif ITB ingatkan risiko penurunan performa hingga kerusakan mesin jika nekat pakai BBM oktan rendah demi hemat biaya.
KENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi diperkirakan tidak akan memberikan tekanan besar terhadap laju inflasi nasional.
ISU mengenai harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax akan naik Rp17.850 per liter pada April 2026 dipastikan hoaks atau tidak benar
Baron menyampaikan prioritas utama Pertamina saat ini adalah menyediakan energi dan mengoptimalkan rantai pasok untuk menyalurkan energi ke seluruh pelosok negeri.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved