Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan berpendapat dengan Indonesia naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah atas (upper middle income) di 2022, berdampak baik pada Indonesia dalam hal peningkatan investasi.
Berdasarkan data Bank Dunia, Indonesia masih tergolong negara berpendapatan menengah bawah (lower middle income) di 2021. Dengan pendapatan nasional bruto atau gross national income (GNI) per kapita Indonesia sebesar US$4.580 di 2022, naik 9,8% dibandingkan 2021 dengan US$4.170, membuat Indonesia menjadi berpendapatan menengah.
"Kami yakin bahwa status baru ini akan membawa dampak positif bagi Indonesia, dengan peningkatan investasi asing yang masuk ke negara kita dan penciptaan lapangan kerja," kata Juru Bicara Menko Marves Jodi Mahardi kepada wartawan, Selasa (4/7).
Baca juga: Status Ekonomi Indonesia Naik, Butuh 6 Persen Menuju Pendapatan Tertinggi
Ia menuturkan kenaikan status bagi Indonesia berkat kekompakan masyarakat dan pemerintah dalam penanganan pandemi yang dipimpin Menko Marves Luhut Binsar pada 2021 lalu.
"Ini membuktikan bahwa kerja keras kita semua sebagai bangsa dalam menghadapi dan bangkit dari pandemi telah membuahkan hasil," ucapnya.
Baca juga: Sandiaga Uno : Politik tidak Boleh Ganggu Pertumbuhan Ekonomi
Jodi menambahkan untuk mempertahankan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia, pemerintah berupaya keras untuk memastikan pertumbuhan tersebut merata dan inklusif untuk semua masyarakat Indonesia.
"Kita harus optimistis dengan kekompakan, kerja keras, dan inovasi untuk mengatasi tantangan-tantangan ini dan membawa Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi lagi di masa depan," kata Jodi. (Z-10)
status Indonesia yang kembali menjadi negara berpendapatan menengah atas (upper middle income country/UMIC) dapat memberikan dampak positif, utamanya dari sisi investasi.
Gelombang protes terhadap pendanaan industri peternakan intensif menguat secara global, dengan aksi serentak yang menyasar lembaga keuangan internasional.
Revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 oleh World Bank menjadi 4,7% mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal, khususnya akibat kenaikan harga energi global.
Pemangkasan proyeksi pertumbuhan oleh Bank Dunia perlu dibaca sebagai peringatan dini bahwa ekonomi Indonesia masih rentan.
Ekonom dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 masih berpeluang melampaui proyeksi Bank Dunia.
MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pemangkasan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 oleh Bank Dunia hal yang wajar. Bank Dunia
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyebut Bank Dunia melakukan "dosa besar" setelah memangkas proyeksi ekonomi Indonesia dari 4,8% menjadi 4,7% tahun ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved