Pertemuan AS-Tiongkok, CORE Sebut Bisa Redakan Ketegangan

Nur Aivanni
29/6/2019 18:00
Pertemuan AS-Tiongkok, CORE Sebut Bisa Redakan Ketegangan
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah(Ist)

DIREKTUR Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah, menilai pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, di sela-sela pertemuan KTT G20 di Jepang memberikan dampak yang signifikan untuk meredakan ketegangan yang selama ini terjadi. Pasalnya, AS berkomitmen untuk menahan pengenaan tarif baru bagi ekspor Tiongkok.

"Dampaknya signifikan untuk meredakan ketegangan saja karena hanya berupa kesepakatan tidak mengenakan tarif baru. Tapi tarif yang sudah dinaikkan tidak akan dikurangi. Artinya perang dagang masih berlangsung," kata Piter kepada Media Indonesia, Sabtu (29/6).

Baca juga: Pertanian 4.0 Efisiensi Waktu dan Peningkatan Produktivitas

Kendati demikian, tegasnya, pertemuan tersebut setidaknya memberikan kepastian dalam jangka pendek bahwa perang dagang tidak tereskalasi lagi.

"Jadi cukup positif walau hanya sementara. Dampaknya terhadap Rupiah juga demikian, akan positif tetapi tidak akan cukup besar. Masih akan bisa dipengaruhi faktor-faktor lain," terangnya.

Hanya saja, diakui Piter, dampak dari negosiasi perdagangan antara AS dan Tiongkok tersebut tidak berdampak banyak bagi Indonesia. Pasalnya, kata dia, Indonesia bukan negara manufaktur yang bergantung pada ekspor.

"Ekspor kita juga kebanyakan adalah barang-barang komoditas. Akan besar dampaknya bagi kita apabila kesepakatan itu berbentuk menghentikan perang dagang, membatalkan semua kenaikan tarif yang sudah dilakukan oleh kedua belah pihak," tuturnya.

Jika perang dagang dihentikan, kata Piter, perekonomian global kemudian bisa diharapkan kembali booming dan meningkatkan volume dan harga barang-barang komoditas. Dengan begitu, neraca perdagangan Indonesia bisa kembali surplus.

"Sementara kesepakatan yang diambil hanya (terkait) untuk (penghentian) tarif baru. (Tarif) Yang sudah dinaikkan tetap. Artinya perang dagang tetap berlangsung. Hanya memberikan sedikit good news bahwa perang dagang tidak teresklasi lagi," katanya.

Baca juga: Kemenperin Terus Fokus Kembangkan IKM di Indonesia

Di tengah kondisi tersebut, Piter menyarankan agar pemerintah untuk fokus membangun kembali industri dengan memanfaatkan pasar dalam negeri.

"Yang harus kita lakukan bukan meningkatkan ekspor, tapi menahan laju impor. Meningkatkan ekspor tidak bisa dalam jangka pendek setelah sedemikian lama kita mengabaikan industri manufaktur," tandasnya. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya