Pilpres Sederhana dan Beradab

14/5/2014 00:00

PEMILIHAN umum presiden/wakil presiden, 9 Juli 2014, kian menunjukkan tanda-tanda adanya rivalitas yang sederhana. Pilpres akan menyuguhkan persaingan dua pasangan, antara poros PDIP dan poros Partai Gerindra, sehingga cukup dituntaskan dalam satu putaran.

Peta itulah yang mencuat ketika Partai Golkar, partai peringkat kedua dalam pemilihan umum legislatif, bergabung dengan koalisi PDIP, Partai NasDem, dan Partai Kebangkitan Bangsa.  Benar bahwa politics is the art of the possible, politik adalah seni kemungkinan. Selama belum ada kata final, selama capres dan cawapres belum resmi didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum pada 18-20 Juni mendatang, peta koalisi masih bisa berubah.

Namun, langkah Golkar memperkuat koalisi PDIP sudah amat jelas ketika Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie bersama-sama Jokowi mengunjungi Pasar Gembrong, Jakarta, tadi malam. Di situlah hubungan kerja sama kedua pihak terang-terangan diperlihatkan.  Wakil Bendahara Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo juga mengatakan keputusan Golkar masuk barisan pengusung Jokowi ialah salah satu konklusi pembicaraan antara Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ical di Bali, tiga hari lalu.

Begitu Golkar resmi bergabung dengan poros PDIP, bisa dipastikan hanya dua pasangan capres dan cawapres yang akan berkontes nanti. Di satu sisi ada Jokowi yang diusung PDIP, Golkar, PKB, dan NasDem, dan di sisi lain ada Prabowo Subianto yang dicalonkan Partai Gerindra, PAN, PPP, dan PKS. Pertarungan di antara kedua kubu itu bisa dikatakan mulai berlangsung ketika Jokowi cuti dari jabatan Gubernur DKI dan Hatta Rajasa yang akan mendampingi Prabowo mundur dari posisi menteri koordinator perekonomian.

Poros ketiga yang sebelumnya menjadi wacana pun serta-merta mati sebelum terlahir. Dua partai yang tersisa, yakni Partai Demokrat dan Hanura, tak cukup modal untuk mengusung capres sendiri. Ketika pilpres hanya diikuti dua pasangan, rakyat memang terbatas dalam memberikan pilihan. Namun, sedikitnya pilihan itu membuat rakyat tidak terlampau terfragmentasi dalam berbagai pilihan politik.

Pilpres yang punya arti teramat penting bagi masa depan bangsa lima tahun ke depan itu juga akan lebih sederhana. Dengan dua pasangan capres dan cawapres, duit Rp16 triliun yang dianggarkan untuk pemilu legislatif dan pilpres bisa dihemat. Cukup dengan satu putaran, rakyat sudah bisa mendapatkan nakhoda untuk membawa kapal besar bernama Indonesia menuju perubahan ke arah yang lebih baik.

Di situlah setiap kandidat bakal all out, habis-habisan bertarung. Kita berharap setiap kontestan mengedepankan kesantunan dalam menggapai kemenangan. Sudah cerita usang bagi siapa pun untuk mengobral black campaign, kampanye hitam, demi menjatuhkan lawan.  Tampilkanlah program-program prorakyat untuk menarik simpati dan mendulang suara. Yang lebih penting, kandidat yang kelak menduduki kursi presiden dan wapres melaksanakan janji-janji yang diumbar selama masa kampanye. Negeri ini terlalu sarat persoalan yang tentu tidak bisa diselesaikan dengan omong doang dan janji belaka, tetapi harus dengan kerja keras presiden dan wapres terpilih.  Kita ingin pilpres kali ini berlangsung sederhana, juga beradab. Dengan begitu, asa bahwa negeri ini akan memiliki pemimpin tangguh dan beretika, yang bekerja keras demi kemaslahatan rakyat, bukan sekadar utopia.



Berita Lainnya