Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMBERI banyak mainan sering menjadi cara kita untuk menunjukkan kasih sayang pada anak. Bahkan, ada pula orangtua yang membelikan mainan anak setiap hari.
Nyatanya, semakin banyak mainan belum tentu semakin baik bagi anak. Dua peneliti yang berafiliasi dengan Universitas Ghent, Belgia, yakni Maithri Sivaraman, Ph.D., dan Tricia Striano Skoler Ph.D., yang juga merupakan penulis Doing Developmental Research, mengungkapkan bahwa jumlah permainan berkorelasi dengan perkembangan fokus perhatian pada balita.
Dilansir dari Psychology Today, Senin (6/2), pernyataan para peneliti itu didasari studi baru-baru ini yang diterbitkan dalam Infant Behavior and Development. Dalam studi itu mereka Mereka menguji kualitas bermain balita saat dihadapannya diberikan lebih sedikit mainan (4 mainan) dan pada kondisi lain diberikan banyak mainan (12 mainan).
Para balita ternyata bermain lebih lama dan dengan cara yang lebih kreatif ketika mereka memiliki lebih sedikit mainan. Dengan hanya ada beberapa mainan, anak-anak menghabiskan waktu dua kali lebih lama untuk menjelajahi setiap mainan. Di setiap mainan pula, mereka menemukan lebih dari satu cara bermain.
Peneliti menjelaskan, ketika anak-anak memiliki lebih sedikit mainan, hal itu membuat kualitas permainan yang lebih baik. Anak melahirkan lebih banyak kreativitas dan menghasilkan durasi interaksi yang lebih lama dengan orangtua maupun pendamping lainnya saat bermain.
Salah satu penjelasan untuk temuan ini bisa jadi karena balita lebih mudah teralihkan perhatiannya ketika ada banyak mainan di hadapan mereka. Ini menghasilkan durasi bermain yang lebih pendek dengan setiap mainan dan kehilangan kesempatan untuk eksplorasi lebih dalam dengan mainan yang sama.
Anda dapat membayangkan ketika seorang balita berada di ruang bermain dengan banyak sekali mainan maka mereka bisa jadi sudah kesulitan untuk menentukan pilihan. Ini karena memang di usia balita, anak memiliki tingkat perhatian berkelanjutan atau tingkat fokus yang rendah. Sebab itu, memberikan lebih banyak mainan kepada mereka membuat mereka lebih sulit mempertahankan perhatian pada satu mainan.
Penelitian ini juga memberikan wawasan soal pengaruh lingkungan di luar mainan. Jika televisi dihidupkan atau video diputar di gawai saat mereka bermain, hal tersebut dapat mengganggu balita yang tengah bermain dengan mainannya. Ketika gangguan tersebut hadir, balita akan bermain lebih sedikit, berinteaksi lebih sedikit, dan menunjukkan tingkat perhatian yang lebih rendah. (M-1)
Sejalan dengan imbauan Pemerintah, masyarakat diajak untuk menikmati waktu berkualitas bersama keluarga dengan mengurangi paparan gawai.
Keberhasilan serial Fallout di Amazon Prime yang kini sudah memasuki musim kedua menunjukkan bahwa ada minat yang besar terhadap acara live-action permainan dari Bethesda.
Octopath Traveler 0 hadir sebagai prekuel ambisius yang berhasil menetapkan standar tinggi dalam genre JRPG.
Banyak permainan tradisional kini mulai langka akibat digitalisasi dan perubahan gaya hidup anak-anak yang kian jauh dari ruang bermain fisik.
Terdapat usulan agar petugas haji dalam Revisi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah dihapus.
PASANGAN ganda campuran Indonesia Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu gagal ke final Badminton Asia Championships (BAC) 2025.
Penelitian terbaru mengungkap sensasi "mistis" di gedung tua sering kali disebabkan oleh infrasonik dari pipa dan ketel uap, bukan makhluk halus.
Studi terbaru mengungkap ingatan manusia tidak akurat dalam melacak konsumsi alkohol. Simak mengapa catatan harian lebih efektif dibanding kuesioner medis biasa.
DI tengah tuntutan efisiensi dan produktivitas, perusahaan semakin mengandalkan pendekatan berbasis data dalam mengelola sumber daya manusia (SDM).
Pendekatan yang terlalu keras atau sepihak untuk membatasi penggunaan medsos justru berisiko membuat anak memberontak.
Studi PISA dan data global menunjukkan kemampuan kognitif Gen Z menurun di beberapa aspek. Apa penyebabnya dan keunggulannya?
Mengapa emosi bisa berujung kekerasan? Psikolog UGM & UI jelaskan peran Amigdala vs Prefrontal Cortex serta cara mencegah perilaku impulsif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved