Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Salah satu sonata karya komposer Mozart diklaim dapat menenangkan aktivitas otak penyandang epilepsi berkat melodi yang menciptakan rasa terkejut. Klaim itu menurut sebuah penelitian baru yang telah diterbitkan Kamis lalu. Sonata ialah istilah musik yang diperuntukkan untuk karya musik instrumental.
Musik Mozart merupakan musik klasik yang diciptakan oleh Wolfgang Amadeus Mozart. Sebelumnya, musik Mozart juga disebut mampu meningkatkan kemampuan otak jika didengarkan secara berkala.
Baca juga: Ini Penyebab Mimisan dan Cara Agar tidak Kambuh Lagi
Penelitian sebelumnya yang dilakukan pada 2010 menemukan bahwa Mozart Effect disinyalir mampu merangsang kreativitas di otak dengan mendengarkan musik atau alunan nada relaksasi jenis lainnya. Seperti contohnya, Anda dapat merasakan Mozart Effect dengan mendengarkan karya Schubert, komposer klasik ternama lainnya. Efek positif didapatkan saat Anda senang mendengarkannya.
Penelitian terbaru juga menemukan manfaat dari musik Mozart dengan temuan jika otak para penyandang epilepsi akan tenang saat mendengarkan musik jenis ini.
Epilepsi merupakan kelainan pada sistem saraf pusat yang ditandai dengan kejang. Seseorang dikatakan epilepsi jika mengalami kejang selama dua atau lebih kejang dalam sehari tanpa penyebab jelas.
Penelitian terhadap 16 pasien epilepsi yang dirawat di rumah sakit yang tidak merespons pengobatan telah meningkatkan harapan bahwa musik klasik dapat digunakan untuk perawatan non-invasif baru.
Baca juga: Ini Mitos Epilepsi yang Salah Kaprah
"Mimpi utama kami adalah untuk mendefinisikan genre musik 'anti-epilepsi' dan menggunakan musik untuk meningkatkan kehidupan mereka yang menderita epilepsi," kata Robert Quon dari Dartmouth College yang ikut menulis penelitian yang diterbitkan dalam Scientific Reports, seperti dikutip dari sciencealert.com.
Sonata Mozart for Two Pianos di D Major K448 dikenal karena efeknya pada kognisi dan aktivitas otak lainnya, tetapi para peneliti masih berusaha memahami alasannya.
Dalam studi ini, para ilmuwan memainkan karya tersebut untuk pasien yang dilengkapi dengan sensor implan otak untuk memantau terjadinya IED--peristiwa otak singkat namun berbahaya yang diderita oleh penderita epilepsi di antara kejang.
Tim menemukan IED menurun setelah 30 detik mendengarkan, dengan efek signifikan di bagian otak yang terkait dengan emosi. Ketika tim membandingkan respons tersebut, mereka menemukan efeknya meningkat selama transisi antara frasa musik yang lebih panjang yang berlangsung 10 detik atau lebih.
Quon mengatakan temuan itu menunjukkan bahwa frasa yang lebih panjang dapat menciptakan rasa antisipasi dan kemudian menjawabnya dengan cara yang tidak terduga yang menciptakan respons emosional yang positif.
Baca juga: Kenali Ciri-Ciri Epilepsi Pada Anak
Apa yang disebut 'efek Mozart' telah menjadi subjek penelitian sejak para ilmuwan pada 1993 mengklaim bahwa orang yang mendengarkan K448 selama 10 menit menunjukkan peningkatan keterampilan penalaran spasial.
Penelitian selanjutnya telah menguji efek K448 pada berbagai fungsi dan gangguan otak, termasuk epilepsi. Tetapi penulis mengatakan ini adalah yang pertama untuk memecah pengamatan berdasarkan struktur lagu, yang mereka gambarkan sebagai yang diatur oleh tema melodi yang kontras, masing-masing dengan harmoni yang mendasarinya sendiri.
Seperti penelitian sebelumnya, pasien tidak menunjukkan perubahan aktivitas otak saat terkena rangsangan pendengaran lain atau musik yang bukan K448 bahkan yang berasal dari genre musik pilihan mereka.
Para pasien dalam penelitian ini mendengarkan 90 detik karya Wagner yang ditandai dengan perubahan harmoni tetapi tidak ada melodi yang dapat dikenali.
Mendengarkan Wagner tidak menghasilkan efek menenangkan, membuat para peneliti menganggap melodi sama pentingnya di K448. Studi ini mencatat pengujian lebih lanjut dapat menggunakan potongan musik lain yang dipilih dengan cermat untuk perbandingan dalam menentukan komponen terapeutik sonata. (M-2)
Jeni memang tercatat sebagai pemegang gelar Puteri Indonesia Riau 2024. Namun, posisi tersebut dinilai membawa tanggung jawab besar.
Studi Herbalife mengungkap 88 persen konsumen Indonesia rutin konsumsi suplemen, namun banyak yang belum memahami dosis aman dan risiko interaksi obat.
Kenali perbedaan bakteri, virus, jamur, dan protozoa serta cara efektif memutus rantai penyebaran kuman demi menjaga kesehatan tubuh.
Menjelang Hari Buruh, laporan Indonesia Health Insights Q2 2026 mengungkap telekonsultasi mampu tangani 95 persen kasus medis dan tekan biaya kesehatan hingga 15 persen.
Sering memangku laptop? Hati-hati, kebiasaan ini bisa memicu gangguan kulit, masalah kesuburan, hingga nyeri punggung. Simak penjelasan medis dan tips aman.
Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Kesehatan kembali menorehkan prestasi membanggakan ditingkat nasional dengan meraih penghargaan sebagai Kota Unggul dalam Inovasi ibu dan anak.
Penelitian terbaru mengungkap sensasi "mistis" di gedung tua sering kali disebabkan oleh infrasonik dari pipa dan ketel uap, bukan makhluk halus.
Studi terbaru mengungkap ingatan manusia tidak akurat dalam melacak konsumsi alkohol. Simak mengapa catatan harian lebih efektif dibanding kuesioner medis biasa.
DI tengah tuntutan efisiensi dan produktivitas, perusahaan semakin mengandalkan pendekatan berbasis data dalam mengelola sumber daya manusia (SDM).
Pendekatan yang terlalu keras atau sepihak untuk membatasi penggunaan medsos justru berisiko membuat anak memberontak.
Studi PISA dan data global menunjukkan kemampuan kognitif Gen Z menurun di beberapa aspek. Apa penyebabnya dan keunggulannya?
Mengapa emosi bisa berujung kekerasan? Psikolog UGM & UI jelaskan peran Amigdala vs Prefrontal Cortex serta cara mencegah perilaku impulsif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved