Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Bagi sebagian besar orang, musik telah menjadi bagian yang amat penting di setiap rutinitas, tak terkecuali ketika berolahraga. Barangkali itu pula yang selama ini menjadi alasan pelari, pendayung, atau binaragawan selalu mengenakan perangkat jemala atau telinga saat latihan.
Dengan mendengarkan musik, mereka biasanya akan merasa lebih semangat dan mendapatkan energi. Akan tetapi, pernahkan terpikir seperti apa persisnya manfaat yang mereka dapatkan ketika mendengarkan musik sambil berolahraga?
Pertanyaan demikian telah diurai Costas Karageorghis. Psikolog Olahraga dan Kesehatan, Brunel University London, Inggris itu sebelumnya selalu menitikberatkan amatan pada genre musik moderen seperti rock, dance, hip-hop, dan R&B. Akan tetapi baru-baru ini ia mencoba menelaah bagaimana manfaat yang didapat ketika mendengar musik klasik saat berolahraga.
Mendengarkan musik saat berolahraga, kata Karageorghis, umumnya akan memberikan 'efek disosiatif'. Artinya, musik dapat membantu mengalihkan pikiran dari gejala internal yang berhubungan dengan kelelahan. Meskipun musik tidak dapat mengurangi persepsi pengerahan tenaga pada intensitas kerja, akan tetapi ia dapat memengaruhi suatu area pada otak yang terkait dengan suasana hati.
"Jadi karya yang indah secara estetika seperti 'William Tell Overture: Final' tidak akan memengaruhi apa yang Anda rasakan saat paru-paru 'terbakar' di atas treadmill, tetapi mungkin akan memengaruhi perasaan Anda. Intinya, musik yang menyenangkan bisa mewarnai interpretasi seseorang tentang kelelahan dan meningkatkan pengalaman berolahraga," katanya, seperti dilansir dari Independent, Kamis, (18/2).
Namun, Karageorghis juga menjelaskan pengaruh musik tidak hanya berhenti pada perasaan dan persepsi saja. Musik dapat memberikan efek 'ergogenik' atau meningkatkan intensitas kerja.
Merujuk penelitian psikolog Maria Rendi, Karageorghis menjelaskan tempo lambat dan cepat dalam pemutaran 'Beethoven's Symphony No 7 in A mayor (op 92)' rupanya telah memengaruhi performa pelari cepat (sprint). Tempo cepat (144 bpm) menghasilkan peningkatan kinerja sebanyak 2%, sementara yang lambat (76 bpm) menghasilkan peningkatan sebanyak 0,6%.
"Beberapa anggota tim kami juga sering mendengarkan musik klasik dalam rutinitas berlari sehari-hari. Kami menemukan musik klasik rupanya telah menyalakan imajinasi dan umumnya menambah pengalaman berlari, terutama bila dinikmati bersama lanskap yang menginspirasi," imbuhnya.
Karageorghis menambahkan musik klasik barangkali akan memberikan efek yang lebih kuat jika didengarkan tepat sebelum atau setelah berolahraga. Sebelum olahraga ia berfungsi untuk membangun energi, membangkitkan citra positif, dan menginspirasi gerakan. Karya seperti 'Chariots of Fire' dari Vangelis, yang familiar dengan 'kejayaan' dapat memengaruhi intensitas kerja dengan sangat baik.
Untuk aplikasi pascaolahraga, musik klasik akan menjadi penenang dan merevitalisasi atau mempercepat proses kembalinya tubuh dalam keadaan istirahat. Pola dasar solo piano Erik Satie dalam 'Gymnopédie No 1' akan menjadi 'gelombang kejut (pijatan sonik)' untuk otot pendengar yang lelah.
Karageorghis juga punya rekomendasi daftar putar musik klasik yang dapat didengarkan saat olahraga. Berikut adalah daftar tersebut, yang ia susun bersama asisten penelitian, Luke Howard:
- 'Boléro' karya Maurice Ravel: Diputar dengan tempo rata-rata 70bpm, sangat bagus untuk persiapan mental sebelum berolahraga.
- 'Juba Dance - Symphony No 1 in E minor' karya Florence Price: Simfoni yang lembut dalam lagu ini akan meningkatkan detak jantung selama fase pemanasan.
- 'Part IV Finale Allegro Assai, Symphony No 40 in G minor' karya Wolfgang Amadeus Mozart: Musik yang meriah untuk segmen latihan dengan intensitas rendah hingga sedang.
- 'Prélude to Act 1 of Carmen' karya Georges Bizet: Temponya yang menderu-deru (128bpm) cocok menjadi teman latihan dengan intensitas tinggi. Fitur melodi dan harmoni yang indah dari karya ini dapat membantu pendengar melepaskan diri dari rasa sakit (lelah).
- 'Concerto No 1 in E Major, Op 8, La Primavera' karya Antonio Vivaldi: Sangat bagus untuk pemanasan dan menjaga langkah untuk kembali ke kondisi istirahat secara bertahap.
(TheIndependent/M-2)
Menurutnya, kondisi sekarang membuat penggemar bulu tangkis harus realistis dalam beberapa tahun ke depan karena regenerasi tidak bisa instan.
Jonatan Christie yang turun di partai pertama menyerah 19-21, 14-21 dari Christo Popov, disusul kekalahan Alwi Farhan dari Alex Lanier.
Pelatih Timnas U-20, Nova Arianto, menjelaskan bahwa rangkaian persiapan ini sengaja dimulai lebih awal untuk menyelaraskan dengan jadwal pengundian grup.
Kekalahan langsung menjatuhkan Indonesia ke posisi ketiga klasemen grup dan tersingkir meski mengantongi dua kemenangan atas Aljazair dan Thailand.
Hobi olahraga ini diakui Acha bukan sekadar untuk menjaga penampilan, melainkan demi kesehatan jangka panjang dan menjaga stamina sebagai seorang ibu.
PT Jaminan Pembiayaan Askrindo Syariah (Askrindo Syariah) terus mempererat hubungan kemitraan dengan 19 instansi yang berasal dari sektor pemerintah dan dunia usaha.
ASOSIASI Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia (ADPIKI) mendorong penguatan peran dosen sebagai otoritas akademik melalui pengembangan riset orisinal yang berdampak.
Profesor dari Indiana University, Gabriel Filippelli, mengungkapkan bahwa terdapat bukti dengan menggunakan sepatu di dalam rumah dapat meningkatkan penyebaran kuman di rumah.
Pelayaran jarak jauh ini bukan sekadar perjalanan pulang, melainkan ujian nyata bagi kesiapan teknis kapal KRI Canopus-936 dalam menghadapi berbagai kondisi laut internasional.
SEBUAH penemuan luar biasa datang dari tim peneliti Rusia yang berhasil menghidupkan kembali tanaman berbunga asal Siberia, Silene stenophylla, dari biji yang telah terkubur 32 ribu tahun.
Ruang lingkup kerja sama antara lain mencakup pelaksanaan penelitian bersama dalam bidang lingkungan hidup dan transisi energi serta program pemagangan bagi mahasiswa Teknik Lingkungan ITY.
Reaksi emosional selama ini kerap dianggap persoalan selera pribadi, dipengaruhi oleh DNA masing-masing individu merespons karya seni.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved