Gagal di Thomas Cup 2026, Regenerasi Dinilai Jadi Masalah Utama Bulu Tangkis Indonesia

Dhika Kusuma Winata
29/4/2026 17:57
Gagal di Thomas Cup 2026, Regenerasi Dinilai Jadi Masalah Utama Bulu Tangkis Indonesia
Tunggal putra muda Indonesia Alwi Farhan(dok.PBSI)

KEGAGALAN tim putra Indonesia yang tersisih di babak grup Piala Thomas 2026 dinilai imbas terlambatnya regenerasi. Masalah pembinaan tersebut menjadi faktor yang membuat skuad di Piala Thomas kali ini kalah saing di tengah perkembangan negara-negara lain.

Untuk pertama kalinya, Indonesia gagal melewati fase grup meski berstatus pemegang gelar terbanyak di ajang tersebut. Pengamat bulu tangkis Daryadi menilai ada jurang generasi yang terlalu lebar. Gap antargenerasi mencapai 10 tahun sehingga tidak ada pelapis antara senior dan junior.

Di sektor tunggal putra, ketergantungan masih bertumpu pada Jonatan Christie (28 tahun) dan Anthony Sinisuka Ginting (29 tahun) sedangkan pemain seperti Alwi Farhan (20) dan Zaki Ubaidillah (18) masih dalam tahap berkembang.

Gap serupa terjadi di sektor ganda putra. Nama-nama senior seperti Fajar Alfian (31 tahun), serta pasangan Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani (30 tahun) menjadi andalan di Piala Thomas kali ini. Sementara itu, generasi muda seperti Raymond Indra (22 tahun) dan Nikolaus Joaquin (20 tahun) belum matang.

"Jadi ada generasi yang hilang di tengah-tengah itu. Kita tidak punya pemain yang kelahiran 2000-2001. Dari Jojo dan Ginting langsung loncat ke Alwi kelahiran 2005 lalu Ubed kelahiran 2007," kata Daryadi kepada Media Indonesia, Rabu (29/4).

Menurutnya, kondisi sekarang membuat penggemar bulu tangkis harus realistis dalam beberapa tahun ke depan karena regenerasi tidak bisa instan. Dibutuhkan waktu dan konsistensi untuk membuat pemain siap di level elite.

"Kita telat untuk mendapatkan pasangan (muda). Raymond/Joaquin usianya 20 tahun lalu bandingkan dengan Fajar yang usianya sudah 31 tahun. Jadi agak kejauhan juga, kita memang mau tidak mau harus sabar karena mereka masih perlu waktu untuk bisa matang," kata Daryadi.

Menurutnya, peta persaingan bakal terus dinamis dan Indonesia berisiko tertinggal jika tidak mengakselerasi regenerasi. Dia mencontohkan Prancis yang sekarang jadi kekuatan baru di Eropa lantaran punya kedalaman skuad.

Negara lain, kata dia, sudah punya stok pemain berlapis-lapis dan sebagian memasuki golden age sedangkan Indonesia masih menyiapkan pemain-pemain muda.

Menurutnya, persoalan regenrasi tersebut berkaitan dengan kebijakan pembinaan di masa lalu di tubuh PBSI. Sebab itu, publik perlu bersabar untuk menanti pemain-pemain muda yang diorbitkan agar bisa matang.

"Ada yang salah di dua kepengurusan sebelumnya. Jadi efeknya sekarang ini ketika kita tidak menyiapkan pemain-pemain yang seharusnya ada di rentang antara Jojo-Ginting dan Alwi-Ubed. Jadi mau tidak mau kita harus bersabar menunggu Alwi sama Ubed ini benar-benar matang," kata Daryadi.

"Kita juga tidak bisa terus-terusan berharap sama Fajar. Kemudian Sabar/Reza juga mereka umurnya tidak muda," imbuhnya. (Dhk/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya