Indonesia Tersingkir di Fase Grup Thomas Cup 2026, Catat Sejarah Kelam Sejak 1958

Khoerun Nadif Rahmat
29/4/2026 17:53
Indonesia Tersingkir di Fase Grup Thomas Cup 2026, Catat Sejarah Kelam Sejak 1958
Jonatan Christie(dok.PBSI)

SEJARAH kelam tercipta di Forum Horsens, Denmark, saat tim Thomas Indonesia harus angkat koper lebih awal setelah gagal melewati fase grup untuk pertama kalinya sepanjang keikutsertaan di turnamen beregu paling bergengsi tersebut.

Langkah pasukan Merah Putih terhenti secara tragis menyusul kekalahan telak 1-4 dari Prancis pada laga penentuan Grup D.

Meski sempat mengantongi kemenangan atas Aljazair dan Thailand, perhitungan selisih kemenangan menempatkan Jonatan Christie dan kawan-kawan di peringkat ketiga klasemen akhir di bawah Thailand dan Prancis.

Kegagalan itu memutus tradisi panjang Indonesia yang selalu mampu menembus fase gugur sejak debut pada 1958. Bahkan dalam tiga edisi terakhir, Indonesia tercatat selalu berhasil mencapai partai final. Di Denmark kali ini, harapan untuk mengulang kesuksesan tersebut sirna setelah empat partai awal melawan Prancis langsung lepas ke tangan lawan.

Jonatan Christie yang turun di partai pertama menyerah 19-21, 14-21 dari Christo Popov, disusul kekalahan Alwi Farhan dari Alex Lanier.

Tunggal ketiga Anthony Sinisuka Ginting dan ganda putra Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani juga gagal menyumbang poin. Indonesia hanya mampu meraih satu poin hiburan di partai terakhir melalui Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri.

Pengamat olahraga nasional M. Kusnaeni menilai kegagalan ini sebagai sebuah tamparan keras. "Kegagalan tim Thomas Cup Indonesia lolos ke fase grup merupakan sebuah tragedi. Ini pertama kalinya Indonesia gagal lolos dari fase grup," cetus pria yang akrab disapa Bung Kus tersebut, pada Rabu (29/4).

Menurutnya, skuad yang dibawa ke Denmark sebenarnya merupakan materi terbaik. Namun, performa di lapangan justru jauh dari ekspektasi. "Dua penampilan terakhir Jojo sebagai tunggal pertama juga kurang meyakinkan. Kalah dari Kunlavut, bahkan juga kalah dari Christo Popov," tambahnya.

Bung Kus menekankan bahwa PBSI harus segera melakukan evaluasi menyeluruh dan berani mengambil langkah regenerasi, termasuk memberikan kesempatan lebih besar kepada pemain muda seperti Ubaidillah atau pasangan Indra/Joaquin.

"Kegagalan kali ini harus dimaknai secara serius sebagai pertanda telah bergesernya peta kekuatan bulutangkis dunia. Indonesia bukan lagi negara yang superior," tegasnya. (Ndf/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya