Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga lagi. Begitulah kondisi ekosistem terumbu karang terbesar di dunia, Great Barrier Reef. Eksploitasi sumber daya laut ilegal, penangkapan ikan tak berkelanjutan, menambah parah kerusakan ekosistem terumbu karang di wilayah Australia tersebut.
Temuan otoritas taman laut pemerintah setempat menyebut, penangkapan ikan tak terkendali di sepanjang Great Barrier Reef membuat ekosistem terumbu karang lebih berisiko menggalami pemutihan massal.
The Guardian Australia menerima laporan dari para aktivis pelestari lingkungan dan komunitas pemancing tentang penghentian reformasi perikanan oleh pemerintah Queensland. Sedianya aturan itu dirancang untuk mengatasi masalah di sepanjang ekosistem terumbu.
Para nelayan memprotes kebijakan itu dengan keluar dari kelompok kerja kelolaan pemerintah. Mereka menyatakan tidak akan bergabung kembali sampai pemerintah negara bagian mengeluarkan peraturan baru guna membatasi jumlah dan jenis ikan yang dapat ditangkap.
Salah satunya adalah Presiden Mackay Recreational Fishers Alliance, John Bennett. Ia adalah salah satu pemancing yang menulis surat kepada Menteri Utama (Premier) Queensland, Annastacia Palaszczuk, untuk menyatakan pengunduran diri dari kelompok kerja buatan pemerintah.
Dalam surat itu dituliskan dampak dari penghentian kebijakan gegara politik adalah penghianatan atas itikad baik yang diberikan masyarakat.
Bennett mengatakan reformasi disahkan pada September 2019. Aturan itu menetapkan pembatasan tangkapan sektor rekreasi pada beberapa spesies, tetapi aturan itu tidak diikuti sektor komersial.
Great Barrier Reef didera tiga kali pemutihan karang dalam lima tahun terakhir akibat pemanasan global dan perubahan iklim.
Akhir Agustus lalu, The Great Barrier Reef Marine Park Authority (Otoritas Taman Laut Great Barrier Reef) merilis adanya praktek penangkapan ikan tak berkelanjutan yang disebut sebagai tangkapan insidental. Ikan yang ditangkap pun termasuk spesies rentan dan berisiko punah, seperti lumba-lumba, paus, duyung, ikan gergaji, ular laut, penyu, dan beberapa hiu.
“Penangkapan ikan yang berlebihan dan penangkapan ikan ilegal dapat membahayakan keberadaan jangka panjang dan memengaruhi ketahanan ekosistem laut,” kata otoritas tersebut.
Selain itu, penggunaan jaring berukuran besar dalam sekali penangkapan juga membahayakan satwa laut karena membuat mereka tersangkut lalu mati. Meskipun sudah ada aturan, penangkapan ikan berlebih menyebabkan penurunan signifikan pada jumlah beberapa spesies seperti kerang piring, kakap pantai timur Australia, mutiara, black jewfish, dan beberapa spesies hiu. (M-4)
Pakar IPB Prof Ahmad Budiaman tegaskan pentingnya menjaga ekosistem hutan berdasarkan prinsip Islam dan Al-Qur'an untuk cegah bencana alam.
Studi terbaru mengungkap mikroplastik di sungai dan pesisir membawa biofilm berbahaya yang memicu resistensi antibiotik.
Setiap prosedur hemodialisis untuk mengatasi gagal ginjal membutuhkan infrastruktur, energi listrik, dan air dalam jumlah besar.
KECINTAAN Justisia Dewi pada jam tangan, dan kepeduliannya terhadap lingkungan menjadi salah satu sumber inspirasi usahanya. Ia menghadirkan Ma.ja Watch pada tahun 2021
PTPN IV PalmCo memperkuat mitigasi Karhutla 2026 melalui kolaborasi dengan TNI-Polri dan pemantauan digital berbasis AI ARFINA.
PT Pertamina Patra Niaga melaksanakan aksi lingkungan dalam rangka memperingati Hari Bumi melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL)
Ekspedisi CEFAS mengungkap rahasia laut dalam Karibia. Ditemukan gunung bawah laut, "blue hole" raksasa, hingga terumbu karang purba yang tak tersentuh perubahan iklim.
Keberhasilan instalasi struktur Biorock Garden pertama di wilayah Jawa Timut
Studi terbaru mengungkap evolusi biofluoresensi pada ikan sejak zaman kuno. Ternyata, terumbu karang mempercepat kemunculan "neon" alami ini.
Dari perairan yang sempat minim kehidupan, terumbu karang kini kembali berwarna dan mangrove tumbuh semakin kokoh di pesisir Desa One Ete dan Pulau Bapa, Kabupaten Morowali. Rehabilitasi
Ilmuwan temukan fakta mengejutkan dari fosil telinga ikan: rantai makanan terumbu karang menyusut drastis akibat aktivitas manusia. Simak dampaknya!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved