Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Mendengarkan musik dewasa ini kerap dianggap memiliki pengaruh terhadap tingkat kreativitas maupun produktivitas kerja. Kolumnis asal Amerika, Stephen King, pernah mengatakan bahwa ia biasa mendengarkan Anthrax, Judas Priest, atau Metallica saat menulis. Penyair sekaligus novelis Charles Bukowski bahkan pernah mengatakan, setidaknya dia membutuhkan cerutu, wiski, dan musik klasik demi menulis 10 halaman setiap hari.
Tetapi, apakah mendengarkan daftar putar (playlist) lagu itu benar-benar sesuai dengan anggapan tersebut? Profesor Departemen Musik, Universitas Birmingham, Maria AG Witek baru-baru ini mengemukakan, mencari korelasi musik dengan tingkat kreativitas maupun produktivitas bukan perkara mudah. Sebab, menurut Maria, setiap jenis musik itu memiliki berbagai macam "respons", sekaligus memiliki kerterkaitan dengan kepribadian maupun selera pengengarnya.
Sebagaimana dilansir Elemental, Maria mengatakan bahwa jenis musik yang baik untuk didengarkan saat bekerja seharusnya tidak memiliki vokal. Suara penyanyi atau lirik dianggap memicu distraksi terhadap konsentrasi seorang penulis atau pekerja pada umumnya. Meski demikian, menurutnya, pekerja pada dasarnya dapat memilih musik dengan irama pelan, lembut, dan berulang jika ingin meningkatkan konsentrasi.
Suara air terjun, aliran sungai, atau suara hutan hujan bahkan dapat menjadi solusi alternatif untuk menghalau suara yang mengganggu di lingkungan kerja, seperti suara mobil, mesin cetak atau fotokopi, aktivitas industri bangunan, maupun obrolan ringan antarrekan kerja.
"Karakteristik lagu memiliki pengaruh terhadap tingkat gairah fisiologis dan perhatian pendengar yang bertindak secara stimulan. Musik dengan tingkat gairah yang tinggi sering memiliki tingkat peristiwa yang lebih tinggi pula dalam setiap unit waktu sehingga memiliki potensi amat besar terhadap terjadinya gangguan, karena pendengar akan lebih fokus pada proses dalam irama musik itu sendiri ketimbang tugas yang sedang dia hadapi," tutur Maria.
Anggota Tim Ilmu Otak, Universitas Cambridge, Tram Nguyen, pun sempat menemukan bukti bahwa lagu dengan tempo rendah ternyata dapat menguntungkan sejumlah area otak yang bertanggung jawab terhadap memori untuk menyelesaikan tugas.
Dalam sebuah penelitian yang pernah terbit dalam jurnal Psychomusicology (2017), Tram dan seorang rekannya meminta sejumlah orang untuk mendengarkan musik yang dinilai memiliki potensi untuk mengubah suasana hati atau "rangsangan" tertentu. Orang-orang itu kemudian mendengarkan lagu tersebut sambil menyelesaikan tugas masing-masing, sementara Tram dan rekannya menguji kemampuan orang-orang tersebut untuk mengingat kata dan wajah.
Hasilnya, Tram dan rekan menemukan fakta bahwa musik dengan tempo rendah sekaligus melodi minor, yang biasanya dikaitkan dengan kesedihan, ternyata lebih ampuh untuk meningkatkan kinerja memori otak. "Sebaliknya, musik dengan gairah atau tempo tinggi sering memiliki lebih banyak potensi untuk mendistraksi mereka," kata Tram.
Kriteria tempo rendah itu kata Tram, selanjutnya juga dapat ditemukan dalam lagu-lagu seperti lo-fi hip-hop yang dewasa ini banyak tersebar atau sangat populer di laman daring. Komposisinya, biasanya sering menampilkan suara seorang gadis menangis dengan lembut, atau hujan yang repetitif, yang dapat menimbulkan kesan kesuraman yang menenangkan dan nyaman.
Senada dengan Tram, Asisten Profesor Musik, Hampden Sydney College, Victor Szabo yang saat ini sedang menulis buku tentang genre musik juga menjelaskan bahwa, musik lo-fi atau jazz dapat membuat pendengarnya merasa aman. Jenis musik itu sering menampilkan pengulangan suara atau nada yang berkelanjutan sehingga memungkinkan otak untuk memprediksi suasana dengan mudah melalui perhatian bawah sadarnya.
"Pendengar dapat mengalihkan perhatian mereka dari suara di sekitarnya, ke suara yang didengar dalam musiknya tanpa terkejut atau terlempar. Kinerja efek ini prosesnya seperti kepompong," terang Szabo. (M-2)
Jeni memang tercatat sebagai pemegang gelar Puteri Indonesia Riau 2024. Namun, posisi tersebut dinilai membawa tanggung jawab besar.
Studi Herbalife mengungkap 88 persen konsumen Indonesia rutin konsumsi suplemen, namun banyak yang belum memahami dosis aman dan risiko interaksi obat.
Kenali perbedaan bakteri, virus, jamur, dan protozoa serta cara efektif memutus rantai penyebaran kuman demi menjaga kesehatan tubuh.
Menjelang Hari Buruh, laporan Indonesia Health Insights Q2 2026 mengungkap telekonsultasi mampu tangani 95 persen kasus medis dan tekan biaya kesehatan hingga 15 persen.
Sering memangku laptop? Hati-hati, kebiasaan ini bisa memicu gangguan kulit, masalah kesuburan, hingga nyeri punggung. Simak penjelasan medis dan tips aman.
Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Kesehatan kembali menorehkan prestasi membanggakan ditingkat nasional dengan meraih penghargaan sebagai Kota Unggul dalam Inovasi ibu dan anak.
NEXT Indonesia Center menyampaikan hasil riset dugaan praktik misinvoicing atau selisih pencatatan kepabeanan dalam kegiatan ekspor batu bara.
ASOSIASI Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia (ADPIKI) mendorong penguatan peran dosen sebagai otoritas akademik melalui pengembangan riset orisinal yang berdampak.
Riset terbaru mengungkap 74,6% konsumen Indonesia menggunakan AI untuk cari produk. Simak fenomena Silver Surfer Paradox dan dampaknya bagi bisnis.
BPDP tercatat telah mendukung pendanaan terhadap sekitar 400 judul penelitian yang mencakup berbagai aspek mulai dari hulu hingga hilir industri kelapa sawit.
Riset Kaspersky mengungkap 90% Gen Z dan Milenial pilih simpan data digital. Simak tren penyimpanan data di Indonesia dan tips keamanan siber terbaru.
Saat ini setiap tahunnya hanya sekitar 1 juta dari 9 juta lebih siswa SMA yang lulus berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved