Logam Tanah Jarang bukan dari Inti Bumi, Studi Terbaru Ungkap Asal-Usul Mengejutkan

N Apuan Iskandar
17/4/2026 21:45
Logam Tanah Jarang bukan dari Inti Bumi, Studi Terbaru Ungkap Asal-Usul Mengejutkan
Peta global yang menunjukkan keterkaitan antara zona subduksi purba dengan persebaran logam tanah jarang (REE).(Dok Earth)

Sebuah studi geologi terbaru mematahkan asumsi lama mengenai asal-usul logam tanah jarang atau rare earth elements (REE). Penelitian ini mengungkap bahwa mineral krusial bagi teknologi modern tersebut tidak terbentuk dari inti Bumi, melainkan hasil proses geologis kompleks di zona subduksi purba.

Temuan yang dipublikasikan pada 17 April 2026 ini memberikan perspektif baru bagi industri teknologi global. Pasalnya, 17 unsur kimia dalam kelompok REE, seperti neodymium, europium, dan terbium, merupakan komponen inti dalam pembuatan baterai kendaraan listrik, turbin angin, hingga perangkat elektronik canggih.

Selama ini, konsentrasi tinggi REE di kerak Bumi menjadi teka-teki besar. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa logam-logam ini terkonsentrasi saat lempeng samudra menyusup ke bawah lempeng benua (zona subduksi). Di bawah tekanan dan suhu ekstrem, material kerak samudra mengalami dehidrasi dan melepaskan fluida kaya mineral ke mantel atas.

Proses tersebut memicu pembentukan magma yang membawa REE ke permukaan melalui aktivitas vulkanik. Seiring waktu, pendinginan magma dan proses hidrotermal menciptakan akumulasi deposit REE yang signifikan di wilayah-wilayah bekas aktivitas subduksi purba.

Implikasi dari temuan ini sangat besar bagi ekonomi global. Dengan memahami mekanisme pembentukan ini, eksplorasi sumber daya dapat dilakukan secara lebih presisi dan efisien.

"Mekanisme ini menjelaskan mengapa deposit REE banyak ditemukan di kawasan yang secara geologis terkait dengan aktivitas vulkanik masa lalu. Ini memperkuat peran zona subduksi sebagai kunci siklus geokimia global," tulis laporan penelitian tersebut.

Para ilmuwan optimis bahwa pemetaan geologi yang lebih akurat berdasarkan teori ini akan membantu menemukan potensi deposit baru di wilayah yang sebelumnya tidak diperhitungkan. Hal ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan global pada sumber daya terbatas di beberapa negara tertentu.

Ke depan, fokus penelitian akan beralih pada analisis isotop dan simulasi tekanan tinggi untuk merekonstruksi sejarah transportasi mineral ini secara lebih mendalam. Temuan ini menegaskan bahwa dinamika kerak dan mantel Bumi jauh lebih kompleks dalam membentuk kekayaan alam daripada yang dipahami sebelumnya. (Nature Geoscience, U.S. Geological Survey (USGS), Geochimica et Cosmochimica Acta/Z-10)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya