Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DI era digital dan transisi energi hijau saat ini, istilah logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements (REE) semakin sering terdengar. Meskipun namanya mengandung kata jarang, unsur-unsur ini sebenarnya tersebar cukup luas di kerak bumi.
Namun, tantangan utamanya terletak pada konsentrasinya yang rendah dan proses ekstraksinya yang sangat kompleks serta mahal. Ini menjadikannya salah satu komoditas paling strategis di dunia.
Logam tanah jarang adalah kumpulan 17 unsur kimia dalam tabel periodik yang terdiri dari 15 unsur kelompok lantanida (lantanum, serium, praseodimium, neodimium, prometium, samarium, europium, gadolinium, terbium, disprosium, holmium, erbium, tulium, iterbium, dan lutetium) ditambah dengan skandium dan itrium.
Unsur-unsur ini memiliki sifat magnetik, luminesens, dan elektrokimia yang unik. Karakteristik inilah yang membuat REE tidak tergantikan dalam pembuatan berbagai perangkat teknologi tinggi, mulai dari ponsel pintar yang kita genggam hingga sistem kendali rudal yang canggih.
Pemanfaatan LTJ mencakup spektrum industri yang sangat luas. Berikut beberapa sektor utama yang sangat bergantung pada keberadaan logam ini:
Distribusi cadangan LTJ di dunia tidak merata. Ini menciptakan dinamika geopolitik yang signifikan. Berdasarkan data geologi global, berikut negara-negara dengan cadangan terbesar:
| Negara | Estimasi Cadangan (Metrik Ton) | Keterangan |
|---|---|---|
| Tiongkok | ~44 Juta | Pemegang cadangan terbesar dan penguasa rantai pasok global. |
| Vietnam | ~22 Juta | Memiliki potensi besar tetapi belum tereksploitasi secara maksimal. |
| Brasil | ~21 Juta | Cadangan signifikan di wilayah Amerika Latin. |
| Rusia | ~21 Juta | Memiliki cadangan besar tetapi terkendala infrastruktur dan geopolitik. |
| India | ~6.9 Juta | Fokus pada pemanfaatan monasit di pesisir pantai. |
Indonesia memiliki potensi LTJ yang cukup menjanjikan, meskipun eksplorasinya masih dalam tahap awal dibandingkan komoditas nikel atau batu bara. Di Indonesia, LTJ umumnya ditemukan sebagai mineral ikutan (associated minerals) dari penambangan timah, emas, atau bauksit.
Beberapa wilayah yang teridentifikasi memiliki potensi LTJ antara lain:
Meskipun sangat dibutuhkan untuk teknologi ramah lingkungan, proses pemisahan LTJ dari bijihnya melibatkan penggunaan bahan kimia keras dan menghasilkan limbah radioaktif (seperti torium dan uranium yang sering ditemukan bersama REE). Oleh karena itu, pengembangan industri LTJ memerlukan standar regulasi lingkungan yang sangat ketat untuk mencegah pencemaran tanah dan air.
Seiring dengan meningkatnya permintaan global, fokus industri kini bergeser pada dua pilar utama: efisiensi ekstraksi dan sirkularitas ekonomi. Mengingat dominasi satu negara dalam rantai pasok dapat memicu ketidakstabilan harga, banyak negara mulai mengembangkan teknologi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada LTJ primer.
1. Teknologi Daur Ulang (Urban Mining)
Salah satu terobosan paling signifikan adalah urban mining atau penambangan perkotaan. Ini melibatkan ekstraksi kembali unsur neodimium dan disprosium dari limbah elektronik (e-waste) seperti motor penggerak hard drive lama dan komponen mobil listrik yang sudah tidak terpakai. Daur ulang ini jauh lebih ramah lingkungan karena mengurangi kebutuhan akan pembukaan lahan tambang baru dan meminimalisir limbah radioaktif.
2. Substitusi Material
Para ilmuwan material saat ini tengah berlomba menemukan alternatif untuk magnet permanen. Beberapa riset fokus pada penggunaan besi-nitrida atau paduan mangan-aluminium yang tidak menggunakan unsur tanah jarang, namun tetap memiliki kekuatan magnetik yang memadai untuk aplikasi industri tertentu.
Logam tanah jarang bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan alat diplomasi politik. Karena Tiongkok menguasai lebih dari 80% kapasitas pemrosesan global, negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Australia, dan anggota Uni Eropa mulai membentuk aliansi untuk membangun rantai pasok mandiri. Hal ini mencakup pembukaan kembali tambang-tambang lama (seperti Mountain Pass di California) dan pembangunan fasilitas pemurnian di luar wilayah Asia Timur.
Sebagai negara dengan kekayaan mineral yang melimpah, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global LTJ, terutama untuk mendukung ambisi menjadi pusat industri kendaraan listrik (EV). Langkah-langkah yang perlu diambil meliputi:
Logam tanah jarang adalah tulang punggung revolusi industri hijau dan digital. Meskipun tantangan ekstraksi dan dampak lingkungannya nyata, nilai strategisnya tidak dapat diabaikan. Bagi Indonesia, eksplorasi dan pengelolaan LTJ yang bijak bukan hanya soal keuntungan ekonomi, melainkan tentang kedaulatan teknologi di masa depan.
Studi terbaru mengungkap Rare Earth Elements (REE) berasal dari zona subduksi purba, bukan inti Bumi. Temuan ini mengubah peta eksplorasi mineral global.
Logam tanah jarang yang berharga kini bisa dipanen dari limbah industri menggunakan jamur dan panas tinggi. Solusi ramah lingkungan bagi krisis energi global.
USA Rare Earth akuisisi Serra Verde Brasil senilai US$2,8 miliar atau Rp48 triliun untuk amankan pasokan logam tanah jarang dan kurangi ketergantungan pada Tiongkok.
Tiongkok dan Iran kini menggunakan kontrol jalur perdagangan dan mineral langka sebagai senjata ekonomi, memaksa AS menghadapi realitas geopolitik baru.
Putra Donald Trump adalah salah satu investor di tambang 'unsur tanah jarang' pertama di pulau Arktik tersebut.
Presiden Trump tegaskan niat kuasai Greenland demi mineral langka. Pakar sebut ide itu 'fiksi ilmiah' karena medan Arktik yang lebih ekstrem dari bulan.
IONIC Mineral Technologies sedang menambang tanah liat di Utah, AS. Secara tak sengaja perusahaan menemukan cadangan mineral kritis yang setara dengan tambang emas.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved