NASA Terancam Lumpuh! Anggaran 2027 Dipangkas 23 Persen, Puluhan Misi Sains Terancam Batal

Thalatie K Yani
14/4/2026 09:24
NASA Terancam Lumpuh! Anggaran 2027 Dipangkas 23 Persen, Puluhan Misi Sains Terancam Batal
NASA(NASA)

PROPOSAL anggaran NASA untuk tahun fiskal 2027 memicu gelombang kritik keras dari para penggiat antariksa. Rencana fiskal terbaru dari Gedung Putih ini mengusulkan pemotongan anggaran total sebesar 23%, dengan dampak paling telak menghantam sektor sains yang dipangkas hingga hampir separuhnya.

Dalam proposal tersebut, Direktorat Misi Sains NASA direncanakan turun drastis dari US$7,25 miliar menjadi hanya US$3,9 miliar. Pemotongan sebesar 47% ini dinilai akan mengubah wajah badan antariksa AS tersebut secara fundamental dan menghentikan puluhan inovasi penting.

Krisis Transparansi dan Anggaran "Copy-Paste"

The Planetary Society, organisasi nirlaba pendukung eksplorasi luar angkasa, menyebut proposal ini sebagai preseden terburuk dalam sejarah anggaran NASA sejak 1960. Casey Dreier, Kepala Kebijakan Luar Angkasa di lembaga tersebut, menyoroti hilangnya transparansi dalam dokumen tersebut.

"Ini adalah permintaan anggaran NASA yang paling tidak transparan yang pernah saya lihat," ujar Dreier. Bukannya menyebutkan misi mana yang dibatalkan secara eksplisit, proposal ini justru menghilangkan data tersebut sepenuhnya, memaksa pengamat untuk membandingkan secara manual dengan anggaran tahun-tahun sebelumnya.

Selain itu, Dreier menyebut draf ini sebagai "anggaran copy-paste" yang ceroboh dan tidak profesional karena mengulangi rencana yang sudah ditolak oleh Kongres pada siklus 2026. Terdapat pula sejumlah kesalahan fatal, seperti mencantumkan penghentian misi Mars Sample Return yang sebenarnya sudah dibatalkan sejak 2026.

Puluhan Misi Terancam Berhenti

Jika disahkan, pemotongan ini akan menyapu bersih lebih dari 40 proyek sains, atau sekitar sepertiga dari seluruh portofolio NASA. Misi-misi ikonik seperti New Horizons, OSIRIS-APEX, dan Juno terancam dihentikan kembali.

Tak hanya misi domestik, kerja sama internasional pun berada di ujung tanduk. Kontribusi AS untuk robot penjelajah Rosalind Franklin milik Eropa terancam batal, yang berisiko merusak reputasi Amerika Serikat sebagai mitra kolaborasi yang dapat diandalkan dalam diplomasi ruang angkasa.

"Tidak ada opsi swasta untuk sains luar angkasa," tegas Dreier, menjelaskan bahwa misi eksplorasi ke planet lain memerlukan biaya besar dan waktu puluhan tahun yang hanya bisa didukung oleh investasi publik.

Artemis Tetap Jadi Prioritas

Di tengah pemangkasan besar-besaran di sektor sains, pemerintah tetap mempertahankan dukungan untuk program penerbangan manusia ke bulan, Artemis. Langkah ini menyusul keberhasilan peluncuran Artemis 2 pada 1 April lalu, yang menandai misi astronot pertama menuju bulan sejak 1972.

Namun, para kritikus berpendapat bahwa fokus pada bulan tidak seharusnya mengorbankan sains dasar. "Hanya karena SpaceX mahir meluncurkan roket, bukan berarti mendapatkan data sains berkualitas tinggi di Mars menjadi mudah. Keduanya adalah aktivitas yang berbeda," tambah Dreier.

Kongres Diharapkan Menjadi Penyelamat

Meskipun proposal ini terlihat suram, Kongres AS diharapkan akan kembali menjegal pemotongan tersebut, sebagaimana yang mereka lakukan pada anggaran tahun fiskal 2026. Bulan lalu, lebih dari 100 anggota DPR dari kedua partai telah menandatangani surat bersama yang meminta peningkatan anggaran sains NASA.

Sebagai langkah perlawanan, The Planetary Society telah meluncurkan kembali kampanye "Save NASA Science" dan mengajak publik untuk berpartisipasi dalam Day of Action pada 19-20 April mendatang. Mereka mendesak Kongres untuk segera mengajukan proposal tandingan guna mencegah kehancuran program sains antariksa Amerika Serikat. (Space/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya